4 Kerugian Jokowi Pilih AHY Jadi Cawapres
berita
Agus Harimurti Yudhyono (kiri) dan Presiden Joko Widodo (kanan). FOTO: Instagram @agusyudhyono
RILIS.ID, Jakarta— Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menemui Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara baru-baru ini. AHY mengaku, dalam pertemuan tersebut tidak membahas mengenai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti. 

Namun, ia tak menutup kemungkinan Demokrat bisa berkoalisi dengan Jokowi.

"Tidak ada spesifik ke arah sana (Pilpres). Tentunya semua itu sangat berpulang pada Presiden Jokowi. Kita tahu Presiden (Jokowi) jadi kandidat terkuat di Pilpres 2019, tapi tentu tidak semudah atau sesederhana yang dibayangkan untuk membangun koalisi atau dalam menentukan siapa yang menjadi pasangan, membutuhkan berbagai pertimbangan beliau. Kami tak bicara secara khusus ke arah sana," kata AHY.

Dalam pertemuan tersebut disebut-sebut partai besutan Susilo Bambang Yudhyono (SBY) itu membuka peluang untuk berkoalisi dan menyodorkan AHY sebagai pendamping Jokowi. Namun, duet Jokowi-AHY sulit terwujud. Sebab banyak kalangan menyebut duet tersebut membuat Jokowi rugi.

Berikut rilis.id merangkum kerugian Jokowi bila pilih AHY jadi Cawapres:

1. AHY Minim Pengalaman Politik

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Yusa Djuyandi mengatakan, Partai Demokrat agaknya akan sulit jika ingin menawarkan AHY sebagai Cawapres Jokowi. 

Pasalnya putra pertama Susilo Bambang Yudhyono (SBY) belum memiliki pengalaman dalam dunia politik. Ia menyarankan agar AHY maju pada kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

"Kemampuan berpolitik tidak bisa didapatkan dengan cara sekejap. AHY baru tahun lalu terjun dalam politik praktis, banyak kekurangan yang perlu diperhatikan. Idealnya AHY masuk kembali dalam kontestasi politik lokal, seperti menjadi calon gubernur," katanya.

2. AHY Tak Mewakili Masyarakat Mana pun
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor menilai, duet Jokowi-AHY sulit terwujud. 

Menurutnya, figur AHY belum masuk dalam representasi golongan masyarakat manapun. Sebab, lanjutnya, AHY tidak masuk dalam kalangan Islam dan milenial. “Tidak juga merepresentasikan teknokratis dalam perbaikan ekonomi,” katanya.

3. AHY Bukan Representasi Milenial
Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor, berpendapat AHY bukan representasi dari kalangan milenial.

"Masih debatable (diperdebatkan) ya kalau Pak AHY itu betul-betul representasi milenial, dan tidak bisa dianggap semudah itu sebagai representasi suara milenial," kata Firman.

Sebab, menurutnya, perlu diketahui juga suara milenial itu tidak utuh dan tidak solid. Bahkan, jika diamati beberapa kelompok milenial itu saling berdebat, saling mengkritisi atas preferensi politik tertentu. 

"Ada kalangan milenial pro sekuler dan liberal. Tetapi ada juga kalangan milenial yang sangat religius. Artinya kita tidak bisa menyamkan seluruh milenial itu suaranya sama," tukas Firman. 

4. AHY Hanya Pantas Jadi Menteri 
Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam menilai, peluang AHY jadi pendamping Jokowi cukup berat. Sebab, duet tersebut harus mendapatkan restu dari Megawati Soekarnoputri dan SBY.

Karena itu, menurutnya, Megawati bakal merestui AHY menjadi pembantu Jokowi bukan sebagai calon wakil presiden.

"Jika Demokrat akan masuk dalam barisan partai pemerintah saya pikir PDIP hanya akan merestui dalam posisi menteri atau Menko (menteri koordinator) karena faktor sejarah (Megawati dan SBY). Apalagi posisi Wapres Jokowi mendatang juga tidak lepas dari kepentingan kontestasi presiden berikutnya. Saya pikir agak berat jika pertemuan (Jokowi-AHY) itu dibaca terkait upaya untuk menduetkan mereka di Pilpres," katanya.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Elektoral

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari