Bambang Soesatyo: Kalau DPR Kompak Nggak Ada yang Bisa Lawan
berita
Ketua DPR Bambang Soesatyo di ruang kerjanya. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
BAMBANG Soesatyo, definitif menjadi ketua DPR dan sedikit banyak akan mewarnai kehidupan di Senayan dalam dua tahun ke depan. Agenda DPR, terutama dalam kewenangan program legislasi nasional (prolegnas) masih jauh dari target. Tidak realistis juga bila menargetkan yang muluk-muluk apalagi menjelang tahun politik memasuki pilkada, pileg dan pilpres.

Apa yang akan dikerjakan oleh Bambang Soesatyo yang juga masih tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini bersama empat kompatriotnya di antaranya Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang vokal dan kerap bikin merah kuping eksekutif?

Wartawan rilis.id, Zul Sikumbang, Yayat R Cipasang dan Sukardjito serta fotografer Indra Kusuma berkesempatan mewawancari Bambang Soesatyo di ruang kerjanya, Rabu (17/1/2017), terkait program kerjanya ke depan, sebagian kisah hidupnya termasuk soal kehidupan yang dituding mewah. Berikut hasil perbincangan kami selengkapnya.

Baca Juga

Siapa yang meminta Anda jadi Ketua DPR?

Partai, tentu lewat Ketua Umum Pak Airlangga Hartarto.

Bukankah karena ada bisikan dari Pak JK dan Pak Jokowi?

Nggak ada. Tiba-tiba saja. Teman-teman mendorong. Mereka mendukung dan partai oke. Sebenarnya, jabatan itu amanah. Bisa hilang, besok bisa saja lepas.

Pernah bermimpi menjadi Ketua DPR dan menggunakan mobil bernopol R16?

Sampai sekarang saya nggak pakai mobil itu. Memang ada bedanya mengggunakan mobil itu dengan mobil lain?

Yang penting sekarang melaksanakan amanat yang saya terima. Kalau itu soal sarana,  toh saya sudah punya mobil sendiri. 

Terkait protokoler seperti apa perasaan Anda?

Sampai sekarang saya masih menyesuaikan diri. Masih risi ketika dirubung dan banyak orang yang memberikan penghormatan. Biasa kita santai tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu, agak risi juga sih.

Bagaimana dengan pemberitaan media massa dan media sosial yang mengekspose kehidupan mewah Anda?

Ya, memang ramai pemberitaan saya naik mobil mewah dan foto-fotonya tersebar di media sosial. Lha, itu kehidupan saya begitu masa harus saya hapus dan saya hilangin. Saya sudah kaya sebelum jadi anggota dewan. Ya, itu semua untuk keseimbangan saja, kalau tidak ada keseimbangan bisa stres kita.

Kalau yang lain kan keseimbangannya ke 'situ'. Kalau saya ke bengkel. Utak-atik onderdil mobil. Hahaha.

Siapa figur atau tokoh yang selama ini menjadi inspirasi selain orangtua Anda?

Banyak.  Kalau wartawan itu Derek Manangka dan Panda Nababan. Saya itu kan saat kuliah di Jayabaya aktif di pers mahasiswa. Nah, Derek Manangka dan Panda Nababan pembicara dalam acara pelatihan pers di kampus. Mereka ini pertama kali mengajarkan kami jurnalistik.

Saya juga sangat percaya, setiap peristiwa itu ada manfaatnya. Saya sempat bekerja dan medianya dibredel, kemudian sempat ke RCTI kemudian ke majalah Vista dan akhirnya saya mendirikan majalah ekonomi dan perbankan InfoBisnis. Dari sinilah saya banyak jaringan apalagi setelah saya masuk ke Hipmi dan Kadin. Di sana saya ketemu Ical (Aburizal Bakrie), Adi Taher, Agung Laksono, dan sejumlah pengusaha yang juga tokoh Golkar lainnya.

Bisa diceritakan kenapa jadi pengusaha?

Nggak ada yang tahu dan saya pun tak bisa memprediksi hidup saya. Saya pernah mencalonkan diri jadi anggota DPR pada Pemilu 2004 tetapi tidak terpilih karena saat itu berdasarkan nomor urut. Padahal saya sudah merasa kerja mati-matian. Yang terpilih Priyo (Priyo Budi Santoso), ya sudah.

Ternyata itu ada hikmahnya. Akhirnya saya tiap hari nongkrong di sini di ruangan ketua DPR bersama Edward Soeryajaja. Dapatlah konsesi Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) 800 ribu hektare di Memberamo, Papua dan 200 ribu hektare di Kalimantan dan alhamdulillah di dalamnya ada batubara. Kalau dulu saya jadi anggota DPR mungkin nggak bakal dapat itu (konsesi). 

Tokoh politik nasional yang Anda kagumi?

Kalau di Golkar semuanya, semua mantan ketua umum saya kagumi. Tentu Bung Karno dan Pak Harto juga idola saya.

Kenapa Anda berpolitik lewat Golkar?

Ini 'kecelakaan' juga. Karena selama ini bergaulnya sama orang-orang Golkar. Masuk Hipmi, masuk Kadin, dan masuk AMPI. Kalau dulu bergaul sama Pramono Anung mungkin saya masuk PDI Perjuangan.

Memasuki tahun politik tentu yang sangat terdampak adalah efektifitas prolegnas, apa yang akan dilakukan DPR?

Ya, waktu kita sangat terbatas, sangat pendek. Mungkin efektif hanya tinggal enam bulan. Anggota DPR juga nanti sibuk pilkada dan kampanye di daerah dan sudah mulai penomoran pemilu legislatif. Elite partai pada sibuk untuk mennentukan capres dan cawapres dan nggota DPR sudah pasti banyak konsentrasi ke dapilnya karena kalau lengah kursinya bisa hilang karena direbut lawan.

Melihat kondisi ini menurut saya tidak realistis apabila kita mengejar 49 prolegnas. Saya kira yang realistis itu 10 komisi masing-masing menyelesaikan satu undang-undang. Delapan saja menurut saya sudah bagus.

Jadi harus ada prioritas dan yang berdampak banyak bagi masyarakat. RUU KUHP itu penting juga RUU Perpajakan misalnya. RUU ini penting karena terkait dengan penerimaan negara. Ini harus kita percepat.

Kalau pengawasan itu nggak harus kita bahas. Itu sudah otomatis. Kalau masalah anggaran itu tergantung permintaan pemerintah.

Dari sejumlah survei dan pendapat masyarakat citra DPR itu sudah kadung rusak di mata publik, Anda punya konsep untuk membenahi DPR ini dan darimana membenahinya? 

Tulisan Anda bagus tentang DPR ya DPR pasti bagus. Sebenarnya, baik dan buruk DPR itu tergantung media. Kita itu kan seringnya diberitakan yang jelek-jeleknya saja.

Pimpinan itu kan hanya speaker jadi apa yang sedang berkembang dan apa yang berkembang di komisi itu kita suarakan ke publik. Sebetulnya tidak semua masalah itu dilimpahkan ke DPR. Seringkali permasalahan itu karena pemerintah tidak hadir.

Dalam pembahasan RUU misalnya sering tertunda karena dari pemerintah tidak hadir. Karena itu saya meminta Presiden dan juga menteri terkait untuk hadir atau wakilnya bekerja sama dengan DPR dalam membuat sebuah produk undang-undang.

Karena itu nanti Pimpinan DPR berlima akan menyampaikan perkembangan di setiap komisi ke publik termasuk kenapa misalnya pembahasan sebuah undang-undang terlambat. Sehingga nanti publik tahu dan tidak hanya bisa menyalahkan DPR.

Dalam pandangan publik, KPK dipersepsikan sebagai organisasi yang baik sebaliknya DPR dalam posisi yang buruk. Anda merasakan itu?

Saya kira kita harus memperbaiki hubungan dengan KPK. Selama ini serangan-serangan itu selalu diarahkan ke DPR. Dalam rapat dengan Komisi III, KPK sebenarnya senang karena kita menemukan beberapa penyimpangan atau tata kelola yang tidak baik dalam pengelolaan barang rampasan misalnya. Kita itu kan digaji oleh rakyat itu dalam rangka pengawasan. Untuk mengawasi hal-hal yang tidak baik atau menyimpang.

Ketika kita angkat, KPK begitu gencar melakukan lelang barang rampasan kan. Karena dengan menunda lelang apapun alasannya tidak baik karena akan menimbulkan kerugian negara. Ketika saat dirampas misalnya nilai barang itu Rp1 miliar tapi karena lambat melelang maka nilainya akan turun misalnya jadi Rp100 juta karena barangnya karatan atau apapun. Di sanalah ada potensi kerugiaan negara.

Saya pastikan Pimpinan KPK happy. Mereka mengapresiasi atas temuan-temuan kita sebagai koreksi untuk perbaikan di tubuh KPK. Apakah rekomendasi kita itu dilaksanakan atau tidak, itu terserah KPK. Kita digaji rakyat hanya sampai situ.

Lalu, misalnya kenapa tidak merevisi UU KPK? Pertama, karena waktunya pendek tentu tidak realistis. Dan kedua rakyat tidak minta. Untuk apa direvisi kalau rakyat tidak minta. Kita bekerja di sini kan untuk rakyat. Ngapain nambah-nambah kerjaan kalau rakyat tidak minta.

Kalau kita memimpin lembaga ini kita kurangi ego sektoral. KPK bekerja pasti bertekad untuk rakyat, DPR bekerja untuk rakyat begitu juga pemerintah bekerja untuk rakyat. Nah, kalau kesamaan itu kita sadari nggak ada gunanya munculin ego karena nggak ada gunanya.

Kita juga minta kepada KPK agar jangan seseorang dijadikan tersangka itu bertahun-tahun. Kasihan nasib orang digantung. Segera masukan ke pengadilan sehingga ada keputusan hukum yang tetap. Karena KPK tidak ada SP3. Karena itu segerakan ke pengadilan biar pengadilan yang membebaskan atau menghukum seseorang.

DPR ini kan terdiri dari 10 fraksi tentu punya kepentingan masing-masing. Bagaimana caranya untuk menyolidkan dan mengonsolidasikan mereka sehingga menjadi sebuah sinergi?

Tentu mereka memiliki kepentingan masing-masing partai. Otomatis memiliki perbedaan antarfraksi. Tapi kami akan lebih menonjolkan persamaannya bukan perbedaannya. Kalau memulainya dari perbedaan pasti tidak akan ketemu.

Misalnya dalam pembahasan UU MD3. Kita cari persamaannya bukan perbedaannya. Misalnya PDIP harus memiliki satu kursi pimpinan karena mereka itu partai pemenang pemilu. Partai lain sudah dapat, masa PDIP nggak dapat. Pasti semua partai setuju dan nggak akan menolak. Semuanya bisa dikomunikasikan.

Kita ini pekerja politik di lembaga politik, bukan pekerja pabrik, bukan pegawai negeri. Masing-masing partai politik punya kepentingan punya agenda. Sudah biasa partai curi panggung. Kalau DPR kompak nggak bisa lawan, dia punya kewenangan legislasi, anggaran dan pengawasan. Kalau kita kompak nggak ada yang berani.

Sulit memang untuk satu suara di DPR. Kalau satu suara untuk kepentingan rakyat itu bisa.

Bagaimana dengan Pimpinan DPR yang terkesan berbeda, ada yang vokal dan ada juga yang hati-hati, pendapat Anda?

Justru kalau seragam nggak bagus. Itu dinamika, itulah jadi tampak demokrasi. Fadli Zon tentu harus mempososikan partai di luar pemerintah. Tak masalah, yang penting kita bicara untuk kepentingan masyarakat. 

Anda banyak menulis buku dan menginspirasi anggota DPR lainnya untuk membuat hal yang sejenis, buku apalagi yang sedang ditulis?

Menulis bagi saya itu eksistensi. Manusia itu kan umurnya terbatas sedangkan karya seseorang itu melewati zamannya. Itulah kenapa saya menulis. Menulis artikel dan menulis buku itu bagian dari keseharian saya karena memang ada waktunya untuk menulis. Apalagi yang akan kita tinggalkan selain karya dan buku, yang lainnya akan hilang.


Tags
#Wawancara
#Bambang soesatyo
#Dpr
#Ketua dpr
#Bamsoet
Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Wawancara

Terkini

Dapatkan Berita terkini setiap hari
contoh:nama@gmail.com