Eddy Soeparno: Dana Partai Bersih Akan Hasilkan Pemimpin Amanah
berita
ILUSTRASI: Hafiz

BAGAIMANA sebaiknya dana sebuah partai politik diperoleh dan dikelola? Pertanyaan ini sedari dulu mengemuka terutama jelang kontestasi politik. Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, diakui atau tidak memerlukan duit yang tidak sedikit. Demokrasi ternyata meniscayakan  pundi-pundi yang luber untuk menghasilkan pemimpin.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno bahkan menyebutkan kebutuhan parpol dalam hal pendanaan tidaklah terbatas. Tinggal kemudian, bagaimana menjaga agar kebutuhan unlimited ini bisa terjaga melalui perasan keringat para kader partai sendiri. Meski, negara tetap harus hadir dalam pendanaan parpol. 

Pendanaan parpol yang bersih akan menghadirkan pemimpin yang amanah di kancah perpolitikan Indonesia. Lantas seperti apa PAN mengelola pendanaan partainya? Berikut ini hasil perbincangan wartawan rilis.id Taufiq Saifuddin dengan Eddy Soeparno beberapa waktu lalu. 

Seperti apa sih idealnya partai politik mendanai dirinya? 

Sekarang begini, kalau bicara pendanaan partai, parpol itu boleh dibilang hampir tak terbatas. Parpol selalu membutuhkan dana dan jumlahnya pun selalu besar. Bagaimana menjembatani ini? Menurut saya yang paling baik adalah jika partai dan kadernya itu memiliki daya juang dan militansi. Artinya mereka rela berkorban. Itu yang pertama. 

Kedua, alangkah baiknya jika rekrutmen kader partai itu tidak serta-merta mengandalkan calon dari kalangan yang boleh dibilang memiliki rekam jejak relatif uniform (seragam). Seperti aktivis dari kemahasiswaan dan yang lain-lain. Kita mungkin harus cari kader partai itu dari unsur yang lain, misalnya elemen pengusaha, profesional. Mereka ini memang secara ekonomi sudah mandiri dan punya kemampuan untuk berkorban. Itu yang sekarang kita lakukan. 

Sekarang ini di lingkaran parpol lagi ngetren istilah “bersih-bersih” setelah Setya Novanto ditangkap. Bagaimana PAN menyikapi ini?

Itulah pentingnya kita memberikan literasi politik kepada masyarakat, khususnya kepada anak muda. Sehingga anak muda, anak profesional yang selama ini tidak memiliki pemahaman politik, memiliki pengetahuan dan kepedulian kepada politik. Sehingga, muncul paradigma baru dalam berpartai politik. 

Iya memang, sekarang ini ada proses bersih-bersih politik setelah kasus Pak Novanto. Harapannya ke depan politik bersih bisa kita aplikasikan. Salah satu syaratnya adalah dengan memaksimalkan pendanaan partai yang bersih tadi. 

Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa parpol harus didanai juga oleh pihak-pihak luar. Toh itu tidak haram, karena di Amerika Serikat pun banyak donor, di sana justru yang menjadi donor terbesar itu adalah asosiasi atau perkumpulan. Misalnya asosiasi pekerja dan lainnya. Tinggal, yang tidak kalah pentingnya harus diatur sejauh mana pendanaan itu dan batasan-batasan untuk mendapatkannya seperti apa. 

Terkait hal ini, seperti apa strategi yang dilakukan PAN dalam pendanaan? 

Menurut saya, tidak mesti juga parpol selalu mengandalkan dana dari luar. Kita harus mengandalkan sumber pendanaan itu dari pengurus, kader dan simpatisan. Oleh karena itu, kita sekarang coba rekrut simpatisan-simpatisan yang berasal dari elemen masyrakat dari jalur berbeda, yang memang memiliki tingkat kesadaran politik yang lebih tinggi. 

PAN saat ini memang mengandalkan kader-kader internal. Tetapi karena saya mantan orang keuangan, saya pernah bekerja di perusahaan publik juga, saya betul-betul menyeleksi sumber pendanaan yang ada. Jangan sampai sumber itu berpotensi datang dari tempat yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tidak boleh juga dana itu memiliki embel-embel di belakangnya. PAN jangan sampai nanti berutang budi pada yang memberikan bantuan pendanaan tersebut. 

Pemilu 2019 diprediksi pemilih pemula akan meningkat. Jika dikaitkan dengan pendanaan tadi, bagaimana PAN menghadapi anak muda jelang 2019? 

Sebenarnya tidak hanya anak muda saja yang kita fokuskan. Selain kalangan milenial sebagai pemilih pemula, ada juga pemilih perempuan. Perempuan itu memiliki militansi lebih tinggi dan komitmen lebih besar, ditambah lagi punya loyalitas lebih tinggi. Oleh karena itu dua sayap partai sekarang kita gerakan, pemuda dan perempuan. Mereka masing-masing mulai melakukan penetrasi secara masif ke wilayah yang memang perlu kita jangkau, yaitu anak muda dan perempuan. 

Untuk kalangan perempuan sendiri seperti apa penetrasinya? 

Penetrasinya melalui pendidikan, pembinaan, pembekalan, dan majelis taklim. Terus juga melalui pelatihan, misalnya pembatik dan kesenian. Jadi banyak sesungguhnya yang bisa kita lakukan.

Soal Pilkada 2018, PAN sudah membangun koalisi bersama Gerinda-PKS di beberapa pilkada, khususnya di Pulau Jawa. Tanggapan Anda? 

Kita sudah bicara panjang lebar dengan teman-teman soal ini. Contohnya di Pilkada Jawa Tengah, posisi petahana (Ganjar Pranowo) masih sangat kuat. Tapi kita juga sampaikan bahwa di Jateng, PAN tidak buruk-buruk amat kinerjanya. Kami punya 8 kursi di DPRD Jateng. Untuk kader sendiri, kami punya dua orang yang boleh dibilang mumpuni di sana. Wakil Ketua DPR, Taufik Kurniawan, satu lagi Bendahara Umum PAN yang juga mantan anggota DPR RI, Nasrullah. Itu yang kita tawarkan. 

Kalau posisi Pak Ganjar tidak punya pesaing, jangan-jangan nanti skemanya calon tunggal dong? 

Tidak juga, kan partai-partai lain juga punya kandidat kuat. Gerindra misalnya sudah mengajukan Sudirman Said, beliau sekarang sudah rajin berkeliling. Di PKB juga ada wacana memajukan Marwan Jafar. Jadi saya pikir tidak akan terjadi calon tunggal kalau kita lihat hitung-hitungan politiknya. Dengan poros baru ini, paling tidak minimal head to head

Kalau soal Pipres 2019 sendiri, kesiapan PAN seperti apa?

Dalam Rakernas bulan Agustus 2017 lalu, Zulkifli Hasan telah kita tetapkan sebagai tokoh yang akan didorong untuk bersaing di kepemimpinan nasional 2019. Apakah sebagai capres ataupun sebagai cawapres. Keputusan ini, di internal PAN tidak ada perselisihan sama sekali. Kami semua sudah sepakat untuk melaksanakan itu. Jadi, sekarang seluruh kader dan barisan PAN bergerak untuk mencapai target agar bisa Zulkifili Hasan bersaing di Pilpres 2019. 

Sebelumnya PAN sempat mewacanakan konvensi internal soal calon presiden yang akan diusung 2019 mendatang, kelanjutannya seperti apa? 

Di internal itu memang dari awal kita ingin hidupkan porses demokrasi. Agar melalui dinamika di dalam PAN sendiri kita dapat memilih putra terbaik. Tetapi rupanya di Rakernas itu seluruh pengurus wilayah PAN menghendaki penetapan Zulkifli sebagai capres atau cawapres dari PAN. Karena sudah terpilih secara aklamasi, kami sudah merasa proses konvensi menjadi otomatis tidak relevan dengan adanya penetapan Zulkifli ini. Dan ini tidak di-setting, kita sendiri kaget tiba-tiba peserta inginnya begitu, ini tidak ada dalam agenda Rakernas. 

Bargaining politik seperti apa yang ingin ditawarkan PAN dengan menyorongkan Zulkifli Hasan?

Tidak ada bargaining politik. Kalau kita partai penguasa ya tentu ada bargaining politik, ini kan kita partai tengah. Jadi sekarang itu posisi tawarnya belum ada dengan pihak lain. Kita berusaha sendiri dulu di internal, pokoknya kami semua harus kerja keras. Pokoknya, bagaimana caranya kita bisa mendongkrak elektoral PAN, supaya nanti bisa masuk tiga besar. 

Terkait ide yang diusung PAN atau Zulkifli Hasan dalam Pilpres 2019 seperti apa?
 
Dulu Zulkifli sempat melontarkan ide Menjahit Kembali Merah Putih. Nah, kalau kita lihat Pilkada 2017 yang lalu kan terjadi fragmentasi. Ada pengotak-kotakan masyarakat, yang satu ingin menjalankan akidahnya dianggap tidak pancasilais, kemudian juga orang yang mempertahankan pendiriannya kemudian dianggap tidak memiliki kebhinekaan. 

Mestinya itu tidak terjadi. Sekarang, Zullkifli Hasan dan PAN dalam hal ini ingin mengedepankan program-program di mana kita bisa merajut kembali merah putih itu. Agar masalah kebhinekaan dan toleransi yang sesungguhnya sudah tidak perlu kita perdebatkan lagi, bisa kita jalankan. Ini bukan lagi perdebatan, perbedaan di antara kita ini sebuah rahmat yang harus kita terima. Kita harus secara bijak mengelolanya menjadi potensi bagi Indonesia bukan justru menjadi beban. 

Soal lain, saat ini mengemuka isu reshuffle, apakah PAN sudah diajak untuk bicara? 

Saya kira pembicaraan reshuffle itu akan dilaksanakan langsung oleh Presiden Jokowi dengan ketum kami, Zulkifli Hasan. Kalaupun nanti ada saya (tertawa) belum tahu, dan mudah-mudahan akan diberi tahu oleh ketum dalam hal ini. Apapun yang menjadi hasilnya kita serahkan itu kepada presiden, karena ini adalah kedaulatan presiden untuk melakukan reshuffle

Pertanyaannya apakah kader PAN (Menteri PAN-RB Asman Abnur) akan tergerus di dalam perombakan tersebut? Saya pribadi mengatakan tidak. Karena kalau kita lihat berbasis kinerja, kader PAN yang ada di kabinet itu memiliki kinerja yang baik. Justru ASN sekarang ini mengalami peningkatan produktivitasnya. Itu sudah sangat baik dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan saya berpikir, kalau memang berbasis kinerja. Jangan-jangan PAN dapat satu kursi lagi, mudah-mudahan demikian. 

Sudah mendapat bocoran PAN akan ditambah slotnya di kabinet?

Belum ada info, tetapi kalau Anda punya info tolong beritahu saya. Hahahaha.


Tags
#Wawancara
#Eddy soeparno
#Pan
#Dana parpol
Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Wawancara

Terkini

Dapatkan Berita terkini setiap hari
contoh:nama@gmail.com