Harga Gabah Turun saat Panen, Bojonegoro Tolak Impor
berita
Ilustrasi panen. FOTO: RILIS.ID/Tari Oktaviani
RILIS.ID, Bojonegoro— Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menolak impor beras 500 ribu ton dari Thailand dan Vietnam. Sebab, harga gabah menurun saat panen raya akhir-akhir ini.

"Harga gabah panen turun sekitar Rp600 per kilogram. Jadi, tolak impor, ojo impor. Di sini banyak beras," ujar Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Akhmad Djupari, di Bojonegoro, Jatim, Senin (22/8/2018).

Turunnya harga gabah tersebut turut diutarakan petani di Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor, Bambang Pujianto. "Pengalaman tahun lalu, malah harga gabah jatuh berkisar Rp3.000 per kilogram. (Besarannya, red) tergantung kualitasnya," jelasnya.

Menurutnya, turunnya harga gabah turun mulai pekan ini menjadi Rp5.200 per kilogram. Sepekan silam, masih bagus Rp5.800 per kilogram. Harga gabah kering panen (GKP) menurun di lokasi panen.  

Berdasarkan data Distan Bojonegoro, wilayah tersebut panen di lahan 4.973 hektare dan menghasilkan 17.484 ton beras pada Desember 2018. Kemudian, luas areal panen Januari 2018 mencapai 8.227 hektare dan menghasilkan 28.924 ton beras.

Rencananya, Februari nanti panen 35.779 hektare dan menghasilkan 125.789 ton beras. Adapun Maret, panen 25.694 hektare serta memproduksi 90.333 ton beras.

Petani Bojonegoro tanam berbagai varietas padi. Rata-rata produktivitasnya 6,4 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Mengingat populasi Bojonegoro 1,2 juta jiwa, maka kebutuhan konsumsinya sekira 11.488 ton beras per bulan. Alhasil, diperkirakan surplus 17.436 ton beras pada Januari, Februari 114.301 ton, dan Maret 78.845 ton.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo, menerangkan, panen padi pada Januari 2018 se-Jatim seluas 75 ribu hektare. Ditargetkan mencapai 242 ribu hektare di Februari nanti dan Maret 456 ribu hektare.

Sedangkan produksinya, Januari 438 ribu ton GKG (setara beras 285 ribu ton), Februari 1.4 juta ton GKG (960 ribu ton beras), dan Maret 2,7 juta ton GKG (1,7 juta ton beras). "Ini, kan, Jawa Timur sentra padi terluas di Indonesia," jelasnya.

Adapun konsumsi beras Jatim sebanyak 297 ribu ton beras per bulan dengan populasi 39 juta jiwa. Sementara stok Bulog pada Januari 163 ribu ton. "Sedangkan pada Februari, dari produksi beras diperoleh surplus 663 ribu ton dan Maret surplus 1,4 juta ton," imbuhnya.

Merujuk data Kementerian Pertanian (Kementan), luas panen padi nasional bulan Januari 2018 mencapai 854 ribu hektare dan menghasilkan 4,51 juta ton GKG (2,83 juta ton beras) atau surplus 329 ribu ton. Kebutuhaan konsumsi 2,5 juta ton.

Diprediksi panen Februari nanti 1,63 juta hektare dengan produksi 8,67 juta ton GKG (5,43 juta ton beras) atau surplus 2,93 juta ton beras. Lalu pada Maret, panen 2,25 juta hektare dengan produksi 8,8 juta ton GKG.

Jatim Tolak Impor
Penolakan impor beras turut disuarakan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Alasannya, stok beras pada Januari sebanyak 155 ribu ton beras. Bahkan, diprediksi surplus 660 ribu ton pada Februari.

Terlebih, produksi padi di Jatim dalam setahun mencapai 8,7 juta ton beras atau surplus hingga 5,1 juta ton. Sehingga, memasok 15 provinsi lain. "Harga di Jawa Timur tidak masalah, ini stabil. Sejak 2013, sudah ada pergub tidak impor beras," jelasnya.

"Masalahnya bukan pada produksi, melainkan tata niaga pangan. Ini manajemen stok saja. Perkaranya hanya itu," imbuh Pakde Karwo, sapaan politisi Demokrat tersebut.

Sedangkan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letjen Tatang Sulaiman, mengatakan, pihaknya mendukung penuh Program Kedaulatan Pangan dengan mencetak sawah hingga 200-an ribu hektare. TNI pun menerjunkan Babinsa, agar bertanam tepat waktu dan membantu serap gabah petani kepada Bulog.

Sementara itu, Kabareskrim Polri, Komjen Ari Dono Sukanto, menegaskan, pihaknya bakal tegas terhadap pihak-pihak yang bermain dengan tata niaga hingga mempengaruhi harga pangan. "Yang 'nakal' kita 'pukul'," janjinya.

Pada kesempatan sama, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan, dirinya berupaya memperjuangan kesejahteraan petani. "Andaikan derita petani ini bisa dipindahkan ke saya, ini, Ku wakafkan jiwa-raga untuk petani," ucapnya.

Salah satu upayanya, mengalokasikan anggaran 2018 untuk Jatim sebesar Rp1,7 triliun. Untuk Bojonegoro sendiri, mendapat 20.000 hektare kedelai, 6.990 hektare jagung, 5.400 hektare padi, 50 hektare bawang merah, dan 206 unit alat mesin pertanian (alsintan).

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari