Kartini yang “Dipingit” Itu, Yasti Soepredjo Mokoagow...
berita
Oleh Yusuf Alfatih
Wartawan rilis.id

BILA Kartini yang dipingit itu, adalah pelopor yang cerdas, berani dan berpikiran maju, maka ia—salah satunya—adalah Yasti Soepredjo Mokoagow.

Sikapnya berani! Yang teranyar, Yasti menutup operasi pabrik semen asal Cina, PT Conch North Sulawesi Cement, dalam kapasitasnya sebagai Bupati Bolaang Mangondow.

Baca Juga

Alasannya, perusahaan tersebut tidak mengantongi Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP), IUP Ekplorasi, IUP Ekploitasi, Amdal, IMB, serta mempekerjakan ratusan tenaga kerja asing ilegal.

Penutupan operasi itu ditentang oleh manajemen PT Conch. Mereka bersikukuh telah mengantongi perizinan yang ditangani PT Sulenco Bohusami Semen.

“Rekomendasi perizinan sudah kita ajukan sejak lama, tinggal menunggu Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dari Provinsi,” jelas Humas PT Conch, Gunawan Mokoagow, kepada Yasti beserta rombongan yang menyisir kawasan perusahaan, 5 Juni lalu.

“Bapak jangan main-main, tidak pernah ada perpanjangan rekomendasi izin karena yang lama telah berakhir tahun 2016 lalu. Saat ini, kalau tidak ada WIUP,  IUP Ekplorasi, dan IUP Ekploitasi, saya tutup. Seluruh aktivitas dihentikan dan bangunan yang tidak berizin serta tidak sesuai peruntukan saya bongkar,” tegas Yasti.

Setelah itu, Yasti mengelilingi satu per satu mess tenaga kerja asing (TKA) yang dibangun tanpa IMB. Namun, juru bicara PT Conch, Sugi, ketus bertanya, “Kenapa pemerintah berkunjung ke lokasi ini tak memberi tahu kami terlebih dahulu?”

“Kalian yang harusnya tahu diri! Ini daerah kami, kenapa kalian mempekerjakan warga kami seperti budak? Suruh pulang TKA asal Cina dan prioritaskan masyarakat setempat,” jawab Yasti, suaranya meninggi.

Bersama rombongan, Yasti melanjutkan penyisiran dengan menyambangi pelabuhan Jeti Khaiya yang dibangun perusahaan tersebut, dan mempertanyakan izin Amdal-nya. Namun data yang ia temukan, selain tidak memiliki izin Amdal, pembangunan pelabuhan itu juga tidak mengantongi izin dari Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub.

Yang Tegas, yang Dijerat

Konsistensi Yasti menegakkan aturan terhadap perusahaan asal Cina, pada siang terik, 5 Juni lalu itu, berujung pada penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Polda Sulawesi Utara.

"Kami sudah tetapkan tersangka, karena berdasarkan keterangan dari kurang lebih 13 Satpol PP semuanya mengatakan pengrusakan itu atas perintah Yasti," jelas Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Ibrahim Tompo, Selasa (25/7/2017).

Tompo menambahkan pesan, kasus Yasti bisa menjadi pelajaran kepala daerah lain agar tidak terlalu arogan. "Saya harap ini jadi pelajaran bagi kepala daerah agar tidak arogan ketika menertibkan sebuah perusahaan," tandasnya.

Jujur, saya melihat ada yang aneh dalam penetapan dan pernyataan tersangka di atas. Pertama, penertiban bangunan yang tidak memiliki IMB, apakah bisa dijerat sebagai tindakan pengrusakan? Kedua, sikap tegas Yasti menegakkan aturan, layakkah disebut arogan?

Akhhhhh...

Selera menulis saya hilang gegara dua kata kunci ini, pengrusakan dan arogan. Saya sedikit mual, jadi kita ganti topik.

Tersangka Bukan Berarti Kiamat

Sepertinya topik ini menarik. Kalau anda ingin menyebutnya lebih masuk akal, silahkan.

Menanggapi kasus yang menjeratnya itu, Yasti mengatakan menerima dengan hati yang ikhlas. Ia juga mengimbau masyarakat di 15 kecamatan, 200 desa dan dua kelurahan di Bolaang Mangondow tetap menjaga keamanan dan ketertiban daerah.

“Jangan sampai hal ini menimbulkan reaksi apa pun. Saya minta masyarakat tetap tenang, ini biasa. Ini resiko jabatan. Tidak boleh ada reaksi apa pun,” imbuhnya.

Yasti juga meminta warganya menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

“Percayakan itu pada pemerintah. Yang pasti berulang kali saya sampaikan, Pemkab Bolaang Mangondow pasti bertanggung jawab. Jaga stabilitas daerah. Jangan terpancing. Biarkan pemerintah menghadapi proses hukum yang sedang berjalan. Penetapan status tersangka bukan berarti kiamat.”

Pernyataan Yasti ini, membuat saya tercengang. Sungguh...

Gurita Kapital

Bila Kartini yang dipingit itu, menyebar gelora perlawanannya terhadap feodalisme, melalui surat-surat kepada Ovink Soer, Estella Zeehandelar, Rosa Abendanon dan lainnya, yang kemudian membuat kita mengenangnya sebagai pelopor kebangkitan perempuan Indonesia, bagaimana dengan Yasti?

Dia yang baru saja menduduki tampuk pengabdian dengan sejumlah kewenangan untuk mengurus kesejahteraan sekaligus martabat warga Bolaang Mangondow, telah “dipingit” oleh gurita kapital.

Membiarkan Yasti terpingit, sendiri, bukanlah asupan yang baik bagi akal sehat kita sebagai bangsa merdeka. Karena gurita yang bekerja dengan mesiu sejak zaman Kartini itu, terus berkehendak menguasai. Polanya yang berubah; terselubung, mengendalikan dari jauh dan menggunakan “tangan” ketiga. Membuat remang siapa kawan, siapa lawan.

Jadi? Mari menyeduh kopi...

Bukankah sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia berhasil—salah satunya—karena menyingkirkan para pengkhianat? Dari situ, cukup bagi kita untuk belajar, mencatat, sekaligus memulai diskusi ini. Silahkan, sembari menyeruput kopi.


Tags
#Yasti Soepredjo Mokoagow
#Bupati Bolaang Mongondow
#PT Conch North Sulawesi Cement
Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Opini

Terkini

Dapatkan Berita terkini setiap hari
contoh:nama@gmail.com