berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
RILIS.ID, Jakarta— Pada Minggu (11/2/2018) rilis.id mendapat laporan adanya penganiayaan berupa pembacokan terhadap empat orang terjadi di Gereja St Lidwina, Jambon Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta.

Pelakunya ternyata seorang pemuda berinisial S, asal Banyuwangi, Jawa Timur. Motifnya sendiri masih belum jelas, karena tiba-tiba pria ini menyerang seorang para jemaat gereja.

Empat orang menjadi korban, dua di antaranya adalah pendeta dan seorang polisi. Pihak kepolisian, sampai sekarang tengah mendalami motif pelaku melakukan aksi teror di tempat ibadah itu.

"Motif masih dalam pendalaman. Kami masih mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti yang ada, serta olah tempat kejadian perkara," ujar Kepala Polres Sleman, AKBP Firman Lukmanul Hakim.

Sebelumnya, pada 7 Februrari lalu, tersiar kabar ada seorang penganut agama Budha, Biksu Mulyanto Nurhalim, menerima persekusi dari sekelompok massa di Desa Babat, Tanggerang, Banten.

Ia diminta angkat kaki dari perkampungan tersebut, karena dituding telah mengajak masyarakat di sana memeluk ajaran Budha. Rekaman video pengusiran Mulyanto viral di media sosial.

Dalam video tersebut, Mulyanto membacakan surat pernyataan untuk meninggalkan desa Babat. "Saya juga berjanji untuk tidak melakukan ritual atau kegiatan umat Budha yang meresahkan masyarakat Babat."

"Negara di mana?" tanya seorang warga Jakarta, Nina, dalam sebuah grup berpesan Whatsapp, saat menonton rekaman video tersebut.

Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Fadli Widiyanto, menyatakan, hal ini hanya kesalahpahaman dan telah diselesaikan secara musyawarah. Pihaknya telah menggelar rapat bersama warga dan para tokoh agama.

"Semua telah selesai dan saling memaafkan," ujar Fadli.

Tapi, masalah yang berbau isu agama, belum selesai di situ. Akhir Januari dan awal Februari lalu, dua orang ulama di Bandung mengalami luka serius setelah dianiyaya orang tak dikenal.

Adalah KH Emon Umar Basyri, pada Sabtu, 27 Januari lalu, dianiaya seorang tak dikenal, usai solat Subuh berjamaah di Masjid Al Hidayah.

Kemudian, Komandan Operasional Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Ustaz Prawoto, yang merenggang nyawa akibat aksi brutal seorang pria yang diduga berpura-pura gila, pada 1 Februari lalu.

Apakah ini yang dinamakan politik SARA?

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo pernah menyatakan hal tersebut saat menghadiri acara Deklarasi Tolak dan Lawan Politik Uang dan Politisasi SARA yang diadakan oleh Bawaslu di Jakarta, kemarin.

"Ini bisa merusak peradaban, merusak demokrasi dan bisa menghancurkan sendi-sendi politik kenegaraan," kata Tjahjo.

Entah kebetulan seperti apa, rentetan peristiwa tersebut berlangsung dalam kurun waktu berdekatan. Tak sampai satu bulan, semua kasus yang terjadi berbau masalah agama. Ingat kata Nina, di mana Negara?

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari