Kritik adalah Pesan Baik, Jangan Pernah Menyerah
Dadang Rhs
31 Januari 2018, 09:06 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
berita
“In this proud land we grew up strong/ we were wanted all along/ I was taught to fight, taught to win/ I never thought I could fail.”

Peter Gabriel, membuka lagu “Don’t Give Up” dengan lirik ini. Jangan menyerah. Bangsa ini, negeri ini, kita semua, layak untuk tumbuh dan menjadi kuat.  Siapapun yang menjadi pemimpin: kita tetap bersama.

Di tahun politik, tiap-tiap calon pemimpin sedang ditimang-timang. Puja-puji datang dari pendukung. Kritik hingga sumpah-serapah datang dari yang menentang. Tak ada yang salah. Selagi, tiap-tiap ungkapan sesungguhnya adalah peringatan. Sekeras apapun kritik, pada waktu yang tepat, ia akan menemukan cara. Ia menjadi catatan. Tiap-tiap catatan ini kelak akan berguna. Pada batas ini, kritik adalah pesan baik.

Saat menjumpai pesan dari para pendukung atau penentang seseorang, akal sehat kita akan segera mengingatkan, ini sesuatu yang penting atau sampah informasi. Sinyal nalar ini adalah respons yang spontan. Propaganda macam apapun ia seniscayanya memerlukan keterampilan. Ia mensyaratkan pelibatan akal. Jika pesan yang kita terima bernada umpatan, rengekkan, atau kenyinyiran, maka ibu jari kita acap dan otomatis menolak dengan menghapus pesan itu tanpa membacanya. Lalu pesan-pesan serupa itu, hanya bertebaran di ruang hampa, ia tak mendapat tempat untuk singgah, tidak di pikiran, tidak pula di hati kita. 

Memang tak mudah menjaga kritik agar tak tergelincir dalam kubangan kebencian. Batasnya mungkin setipis kulit bawang. Saat terkelupas kadang ia membuat air mata meleleh. Kritik, di saat tertentu kadang memang perih. Dalam kesetimbangan yang timpang, ia bisa menjadi rengekan. Bisa juga seperti gunjingan. Kadang kritik terasa nyinyir dan menyebalkan. Saat kirtik bertukar tempat dengan umpatan, secara perlahan ia kehilangan kendali.  

Kesediaan akal atas pelbagai kritik kadang bersandar pada sejauh apa informasi yang menjadi bahan utamanya. Informasi yang tak memiliki dasar yang kuat, tak setia pada fakta, akan menemui jalan buntu untuk menggerakan akal. Kritik dengan kedangkalan ini akan kandas. Mati akal. Fakta adalah hal penting. Karangan sebagus apapun, tetap saja hanya karangan. Fakta tentu bukan fiksi. 

Ada juga kritik yang mengoplos fakta dengan fiksi. Kritik oplosan ini, memang cukup menarik, dan dalam racikan yang pas ia terasa mengasyikan. Membuai dan melenakan. Kadang, jika tak jeli kritik oplosan ini berhasil memabukkan sebagian orang. Tapi tidak untuk semua orang. 

“You can fool some of the people all of the time, and all of the people some of the time, but you can not fool all of the people all of the time,” ujar Abraham Lincoln. Kata-kata Ini populer dalam lirik lagu protes Bob Marley.

Alhasil, sesuatu memang bergantung pada niat. Dan, kita memang tak dapat memastikan niat seseorang sebelum ia melakukan sesuatu. Pada tindakanlah kita dapat memberikan pendapat. Dan, dari tiap-tiap tindakan yang melahirkan peristiwa padanya kita dapat belajar.  

Ada asap, cari titik apinya. Padamkan. Ada berita buruk, perbaiki kekurangan. Jangan mudah geram. Tak perlu dibungkam. Jangan jadi pendendam. Tak perlu membelah cermin karena berita. Seburuk apa pantulannya, itu adalah kenyataan. Pada realitas itu kita belajar dan berbenah.

“Rest your head/ you worry too much/ it's going to be alright/ when times get rough/ you can fall back on us/ don't give up/ please don't give up.” Peter Gabriel, menyentil tiap-tiap kecemasan.  Kerisauan yang diburu oleh informasi yang melawan nalar. Kita semestinya memang tak perlu terlalu cemas. Pada saatnya, semua akan menjadi baik. Kita akan kembali menjadi kita. Bangsa hebat ini, negeri mulia ini, kita semua: Jangan pernah menyerah.


Tags
Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan Berita terkini setiap hari
contoh:nama@gmail.com