Menakar Kepemimpinan Profetik HMI
berita
ILUSTRASI: Hafiz
Oleh Moh. Ilyas
Pengamat Politik dan Staf Ahli DPR RI

BESOK, 9 Februari 2018, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar kongres ke-30 di Ambon, Maluku. Dalam momentum dua tahunan ini, organisasi yang baru ulang tahun ke-71 pada 5 Februari 2018 lalu itu akan menentukan kembali sosok pemimpinnya untuk dua tahun ke depan. 

Siapa pantas memimpin HMI? Pertanyaan ini selalu menggelayut dalam benak kita terutama di tengah gelombang zaman yang bergerak begitu dinamis. Tetapi jawabannya tentu pemimpin HMI adalah dia yang mau tidak mau harus mampu menjawab berbagai tantangan yang menyelimutinya.

Memang, jika ditilik dari aspek popularitas dan tingkat perhatian publik (public attention) terhadap HMI dalam beberapa tahun belakangan masih cukup tinggi. Organisasi mahasiswa terbesar ini kerap menjadi perhatian dan memikat hati publik karena ia mampu melepaskan diri dari jerat dan keterkungkungan kekuasaan. Meski banyak orang yang lahir dari rahim HMI berkiprah dalam panggung kekuasaan, tetapi kader-kader HMI bisa tetap konsisten dalam garis independensinya.

Ini salah satunya terlihat dari tetap hidupnya daya kritisisme dan kepekaan HMI terhadap problem-problem kebangsaan dan keumatan. Di saat tak satu pun organisasi mahasiswa turun ke jalan dalam gerakan Aksi Bela Islam 411 dan 212 beberapa waktu lalu, HMI tampil dalam barisan terdepan dalam aksi tersebut. Bahkan HMI boleh dibilang jadi aktor tunggal di kalangan organisasi mahasiswa saat itu. 

HMI semakin berjaya setelah Presiden Jokowi menetapkan Lafran Pane, pendiri HMI sebagai Pahlawan Nasional pada November lalu. Ini kemudian juga diikuti dengan perhelatan akbar para alumni HMI dalam Munas KAHMI di Medan beberapa waktu lalu.

Kemudian yang terakhir, yang juga begitu dinamis dan menyedot perhatian publik adalah peristiwa nahas yang dialami Ahmad Budi Cahyanto. Keteguhan hati pemuda yang turut mengabdi mencerdaskan bangsa itu harus berakhir tragis di tangan muridnya sendiri. 

Guru Seni di SMAN 1 Sampang ini dibunuh oleh muridnya saat ia menjalani profesinya. Sontak, kepergian guru Budi menyentak perhatian publik termasuk kalangan kader dan alumni HMI. Ini tidak lain karena semasa mahasiswa, guru Budi aktif di HMI. Ia pernah menjabat sebagai Ketua HMI Komisariat Universitas Malang dan juga aktif di Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Malang.

Kepemimpinan Profetik

Namun demikian, perjalanan kepemimpinan HMI dalam beberapa periode belakangan ini masih cukup lemah. HMI masih cenderung ‘setengah hati’ dalam menjalankan khittah perjuangannya, termasuk dalam mengamalkan lima kualitas Insan Cita yang menjadi landasan perjuangan HMI. 

Oleh karenanya, dalam konteks ini HMI tidak boleh puas untuk terus belajar dan berguru pada kearifan sejarah. Di antara guru yang masih relevan dan tentu akan terus relevan dan aksektabel dengan zaman adalah potret kepemimpinan profetik yang berpijak pada kepemimpinan para Nabi dan Rasul Allah. Political behavior para Nabi dapat menjadi ruh dan nafas perjuangan HMI. Begitu pun dengan napak tilas perjuangan dalam melakukan gerakan pembebasan dan kepedulian terhadap kaum mustadh'afin adalah contoh kecil dari sekian banyak perjuangan mereka. 

Jika kita perhatikan, tidak hanya sidik, amanah, tablig, dan amanah yang menjadi sifat-sifat kenabian dalam mengemban risalahnya. Tetapi lebih dari itu juga terdapat keberanian (syajaah) mereka dalam melawan tirani serta para penguasa zalim. Seperti Musa melawan Fira’un, Daud melawan Raja Jalut, kemudian Ibrahim melawan kebengisan Raja Namrudz.

HMI, sebagaimana para nabi juga mesti aktif dalam melakukan gerakan pembebasan teologis. HMI harus hadir di saat masyarakat tengah yang merindukan perubahan. Bukankah dalam beberapa tahun belakangan, masyarakat seperti mempertaruhkan nasibnya sendiri dan seakan terdampar di lautan lepas yang hanya siap mengikuti arus dan terjangan ombak? 

HMI tidak boleh hanya berdiri di menara gading, hanya berjibaku dengan buku, atau menghabiskan waktu tanpa menimbang gerakan yang bermutu, atau hanya berdiskusi tanpa memikirkan kaum papa yang butuh sesuap nasi. HMI harus turun tangan untuk melakukan gerakan perubahan masyarakatnya pada perbaikan-perbaikan.

HMI juga tidak boleh terjebak pada mediokrasi gerakan yang belakangan menjadi virus utama gerakan-gerakan mahasiswa. Mediokrasi gerakan ini terlihat begitu kuat mencengkram, karena gerakan mahasiswa tidak lagi didengar oleh para stake holders. Alih-alih mendengar, mereka semakin acuh tak acuh dan terus berjalan dengan kemauannya meski rakyat jadi korbannya. Gerakan mahasiswa bahkan mengalami pseudo, karena mereka cenderung ikut arus kepentingan penguasa, bukan meluruskan penguasa.

Belajar kepada Ali dan Duo Umar

Dalam konteks ini, HMI perlu belajar banyak pada keberanian seorang Umar bin Khattab Ra, yang selalu berdiri di baris terdepan dalam membela kepentingan umat Islam di masa itu. Keberanian dan ketegasannya dalam membela agamanya begitu sempurna, sehingga tidak hanya kaum kafir Quraisy yang tunggang langgang jika harus berhadapan dengan Umar, tetapi bahkan setan pun dalam banyak hadis, juga lari jika bertemu dengan Umar. 

Keberaniannya inilah yang kemudian membuatnya menyandang laqab Al-faruq. Gelar ini menurut Prof Dr Ali Muhammad Ash Shalabi dalam biografi Umar bin Khattab diberikan kepada Umar karena ia menunjukkan keislaman di Mekah, di mana dengan Islam itu, ia mampu membedakan antara kafir dan iman, antara hak dan batil.

Tentu, HMI juga perlu belajar dari kebijakan sekaligus kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz Ra, yang tak kalah dari 4 Khulafaur Rasyidin. Umar ditunjuk sebagai Khalifah Bani Umayah berdasarkan surat wasiat dari Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Beberapa saat setelah ia meninggal, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah membaca surat wasiat itu.

"Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini". Umar kaget dan langsung berujar, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada di leher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki". 

Namun, umat Islam tetap menghendaki Umar sebagai khalifah. Sehingga Umar pun menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah. Dia juga menangis mendapatkan amanah sebagai pemimpin, karena ia menganggap bahwa memimpin itu penuh dengan amanat yang berat yang kesemuanya harus dipertanggungjawabkan. 

Pada hari kedua setelah ia dilantik sebagai pemimpin, Umar juga masih saja menangis, sehingga ketika ia pulang ke rumah, Sang Istri bertanya, “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Umar mejawab, “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujjah-hujjah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah SAW.’’

Mendengar itu, isterinya juga turut mengalir air mata. Inilah kesederhanaan Umar. Dengan kesederhanaan dan kebijakannya, meskipun hanya memerintah tiga tahun kurang sedikit, kepemimpinan umar begitu mengagumkan. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki ia dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. 

Kepribadian duo Umar ini harus melekat kuat dalam kepemimpinan HMI, sehingga HMI benar-benar menjadi “Insan Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah Swt”. 

Kendati begitu, gerakan-gerakan HMI tidak boleh melupakan ide-ide kreatif dan bangunan intelektual yang mesti harus bersemi dalam kepribadian mereka. HMI harus cinta ilmu, cinta pengetahuan, sebagaimana Ali bin Abi Thalib Ra. Di masa Rasulullah, Ali bukan hanya sosok pemuda dalam jajaran Assaabiquuna al-awwaluun. Ia juga bukan pemuda yang kemudian menjadi menantu Rasul dengan mengawini putrinya, Fatimah Az-Zahra.

Lebih dari itu, Ali dikenal dengan kecerdasan dan keilmuannya yang luar biasa. Kekuatan intelektualitas Ali diakui sendiri oleh Nabi Saw dengan salah satu ungkapannya, “Ana Madinatul Ilmi wa Ali Babuha”, Saya kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya.

Nah, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan ini mesti harus dihidupkan dan dijadikan trademark di HMI. HMI juga tidak boleh terlena dalam buaian sejarah intelektual di era 70-an yang dimotori oleh Nurcholish Madjid, seorang pembaharu yang pernah memimpin HMI dua periode. Kader HMI tidak boleh larut dan bernostalgia terlalu dalam dengan kebesaran intelektual Cak Nur. Biarlah itu menjadi bagian dari sejarah. 

Pemimpin dan kader-kader HMI hari ini harus juga mampu menjadi pencipta sejarah itu sendiri, karena memang setiap kita adalah pencipta. Kita tidak boleh harus terus menerus hanya menikmati karya-karya orang lain di masa lalu. Kita juga harus memproduksi karya itu sendiri, sebagai bagian dari ijtihad kita menuju perubahan-perubahan yang lebih baik.

Oleh karenanya, Kongres HMI di Ambon nanti harus mampu melahirkan tipologi pemimpin-pemimpin profetik yang mampu menyandingkan gerakan dan gagasan secara sempurna. HMI harus berani, tetapi keberanian itu juga mesti ditopang dengan daya nalar yang kuat dan juga pengetahuan yang mumpuni. 

Tetapi dua hal ini juga mesti dilengkapi dengan keimanan dalam diri yang juga kuat, sehingga ia menjadi tiga pilar penting dalam tubuh HMI, sebagaimana pesan filosofis dari tiga pucuk yang ada pada logo HMI yang menandakan tiga kualitas, yakni ilmu, iman, dan amal saleh.

HMI, selamat berkongres!

Kompleks Parlemen, Jakarta 8 Februari 2018 | 06.51 WIB


Tags
Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Opini

Terkini

Dapatkan Berita terkini setiap hari
contoh:nama@gmail.com