berita
ILUSTRASI: Hafiz
Oleh Tardjo Ragil
Fungsionaris PB HMI Periode 2003-2005 dan Pengajar Pesantren Putra Fatahillah Jakarta

PADA 5 Februari 2018, Himpuanan Mahasiswa Islam (HMI) genap 71 tahun. Sebagai organisasi, HMI telah mencapai usia matang. Selayaknya, menjadi momentum melakukan refleksi atas peran kesejarahan HMI selama ini. 

Oleh almarhum Lafran Pane, HMI didirikan sebagai organisasi perjuangan yang dikhidmatkan bagi umat dan bangsa Indonesia. Dengan lahan garap mahasiswa, komunitas  muda terdidik, HMI dirancang sebagai organisasi dengan visi keislaman dan keindonesiaan yang kental. Khittah HMI, adalah semangat kepeloporan bagi perbaikan kehidupan umat dan bangsa. Kini, pertanyaanya, apa yang telah disumbangkan HMI kepada umat dan bangsa?  

Otokritik

Sepanjang 71 tahun berdiri, HMI telah menunjukkan peran kepeloporan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Sejarah mencatat, kuatnya idealisme dan tradisi pemikiranlah yang menjadikan HMI kerapkali memainkan peran penting dalam pangggung “keumatan” dan “kebangsaan”. 

Tahun 1950-an misalnya, di saat terjadi kebuntuan menyoal pilihan dasar negara Indonesia. Kala itu, terjadi pertentangan antara kelompok yang mendukung sekaligus menolak gagasan “negara Islam”. Di tengah situasi pelik tersebut, disertai kedalaman komitmen atas keutuhan umat dan bangsa, HMI sebagai organisasi Islam justru kukuh atas komitmen negara nasional, bukan negara Islam. 

Demikian pula pada tahun 1970-an, di kala terjadi kejumudan dalam tradisi pemikiran keislaman, HMI tampil melalui gagasan “pembaruan Islam” yang dicetuskan Nurcholish Madjid. Saat itu, Cak Nur melontarkan gagasan mengenai pentingnya modernisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, yang kemudian populer dengan ide “Islam Yes, Partai Islam No”. Gagasan ini, menjadi semacam pencerahan bagi umat bagaimana meletakkan relasi sesunggguhnya antara Islam dengan politik.  

Kini, idealisme kepeloporan dan pamor HMI, boleh dibilang telah menjadi semacam romantisme sejarah. Kepeloporan HMI yang dulu banyak mewarnai panggung keumatan dan kebangsaan, kini semakin meredup. Demikian halnya dalam komunitas mahasiswa, HMI seolah telah menjadi organisasi asing bagi mereka. 

Kuatnya idealisme dan tradisi intelektual yang melekat dalam kultur organisasi, kian lama semakin luntur. Telah terjadi semacam demoralisasi pada HMI justru di saat usianya semakin matang. Tengok saja, ditengah kompleksitas persoalan umat dan bangsa, entah menyangkut isu keagamaan, sosial, politik, hukum, dan isu lainya, HMI tak lagi memiliki otentisitas gagasan yang bisa menjadi sumber rujukan. HMI kian mengalami kegamangan menyikapi bertumpuknya problem keuamatan dan kebangsaan mutakhir.

Dalam situasi politik yang kian liberal dan pragmatis, ditengah kuatnya tarik-menarik kekuatan partai politik menancapkan pengaruhnya di organisasi kemahasiswaan, HMI terkesan tak mampu menjaga jarak. Prinsip independensi yang semestinya dijaga untuk merawat “marwah” organisasi, tampak semakin bengkok. Terkesan kuat, HMI lebih berperan sebagai corong kepentingan dari pusat-pusat kekuasaan, ketimbang sebagai wadah perjuangan dan pembinaan mahasiswa. Ironisnya lagi, praktik transaksional yang selama ini menjadi budaya di partai politik, telah menjalar pula di HMI. 

Tengok saja, dalam ritual perebutan pucuk pimpinan di HMI, nyaris tak lagi terdengar hiruk-pikuk perdebatan ”gagasan” yang menyeruak di ruang publik. Arena kongres, tak lagi menjadi tempat bersemainya transaksi gagasan dan idealisme. Yang menonjol, justru makin kuatnya pendekatan berbasis material. Akibatnya, kompetisi politik di tubuh HMI tak lagi cerdas, sehat, dan minus nilai. Dan ujung-ujungnya, tradisi politik demikian hanya melahirkan sosok-sosok kader yang sekadar bermental ”pemburu rente (rent seeker), sehingga miskin gagasan, idealisme, dan keteladanan. Barangkali, akibat mentalitas pragmatisme inilah yang menjadikan HMI tak lagi memiliki pamor di tengah mahasiswa dan masyarakat. 

Kembali ke Khittah

Secepatnya, upaya pembenahan sekaligus mengembalikan tradisi HMI ke khitah-nya, mendesak dilakukan. Dalam kaitan itu, HMI perlu merawat dan menajamkan kembali kualitas pengaderan anggotanya pada penekanan beberapa hal mendasar. Pertama, memperkuat kedalaman moralitas dan militansi kader. Membentuk sosok kader yang memiliki ahlak paripurna menjadi penting di tengah menguatnya mentalitas pragmatisme yang menjerat dunia kepemudaan dan kemahasiswaan mutakhir, selain juga kader yang militan untuk konsisten memperjuangkan misi HMI. 

Kedua, memperkuat kedalaman keislaman. Komitmen HMI pada Islam sebagai ajaran dan umat Islam sebagai realitas empirisnya, musti benar-benar diwujudkan. Ini penting untuk menangkis gejala yang mulai berkembang di beberapa kampus umum: “Islam Yes, HMI No”. Kecenderungan itu muncul, sebagaimana dikatakan Anas Urbaningrum, karena minimal HMI dikesan kurang jelas identitas keislamanya pada peringkat empiris.

Ketiga, memperkuat kembali tradisi intelektual-akademis. Upaya memperkuat kedalaman intelektual di tubuh HMI, adalah kebutuhan mutlak untuk menjawab kompleksitas tantangan sejarah yang terus bergerak dinamis. Bahwa tradisi intelektualitas yang dahulu menjadi ruh HMI, mesti digali, digeluti, dan didalami kembali. Harus disadari, HMI akan tetap kukuh berdiri, sepanjang mampu melahirkan komunitas kader yang memiliki kedalaman wawasan, keterampilan sosial, dan tentunya komitmen kebangsaan yang kuat. 

Keempat, mengembangkan tradisi kepemimpinan transformasional. HMI tetap menjadi salah satu inkubator strategis dalam mencetak kepemimpinan sipil dengan semangat nasionalis-religius yang kuat. Untuk membentuk kepemimpinan yang memiliki visi dan berkarakter, perlu ditumbuhkan kultur kompetisi politik di HMI dengan lebih mengedepankan kekuatan prestasi, dedikasi, militansi, serta kemampuan memecahkan problem sosial-kemasyarakatan. Selamat Dies Natalis ke-71 HMI. Wallahu’alam.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari