'Perselingkuhan' Ernst & Young dan Sri Mulyani untuk 2019?
berita
FOTO: blogger
Oleh Andrianto SIP
Pengamat Politik dan Aktivis Pergerakan

FIRMA Ernst & Young bukan sembarang perusahan. Dia the big fours raksasa konsultan keuangan global selain Deloilite, PricewaterhouseCoopers dan KPMG.

Guritanya sampai ke-150 negara di dunia. Markas besarnya di London ibu kota Britania Raya. Kota masa old yang abadi sebagai pusat transaksi keuangan dunia.

Sejarah firma ini jauh bila ditarik ke tahun 1849 sudah jelang dua abad. Meski jumbonya baru ketika merger tahun 1989 antara Ernst & Whiney dan Arthur Young & Co. Sejak 2013 brand Ernst & Young menjadi  "Building A Better Working World".

Nah, Ernst & Young sudah lama beroprasi di Indonesia dan banyak perusahan jadi kliennya. Bisa disebutkan mulai dari Telkom, Krakatau Steel, Bank Rakyat Indonesia dan banyak lagi.

Nah, kalau Ernst & Young jadi sorotan kali ini tidaklah terlepas dari kedekatannya dengan Sri Mulyani (SMI) Menkeu RI yang baru saja diganjar sebagai Best Minister in the World Award atau menteri terbaik di dunia dalam acara World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab. Ini sebuah gelar yang membuat dahi berkerut berlipat-lipat.

Ada dugaan Ernst & Young bermain untuk meng-endorse SMI ke level global. Karena selain jasa konsultan Ernst & Young punya pengaruh besar terhadap lobi-lobi ke lembaga multinasional semacam World Bank, Dana Moneter Internasional (IMF) dan lainnya. Ada rumors, bila tidak lewat Ernst & Young jangan harap dibukakan pintu ke lembaga kreditur dan lain sebagainnya.

Gelar SMI sudah biasa sebagai pencitraan di lingkungan finance community. Faktanya SMI adalah  eks petinggi di World Bank dan IMF. Sehingga gelontoran utang makin deras di 'era now' (sudah mencapai 4.000-an triliun).

Sehingga APBN sudah didominasi oleh utang, tak hanya defisit, APBN kita sudah dalam posisi defisit keseimbangan primer. Berutang yang baru untuk bayar bunga utang lama.

Lantas gimana kita menyikapi utang yang bebani anak cucu? Ya, tiada lain harus ada keterputusan (cut of) terhadap lembaga renterir seperti Bank Dunia dan IMF. Caranya? 

Ya, dengan memutus mata rantai Ernst & Young di Indonesia. Lakukan audit menyeluruh terhadap Ernst & Young dan kick out dari Tanah Air kita. Sebelum, pola Boediono pada zaman Susilo Bambang Yudhoyono terulang dengan SMI sebagai kontestannya di Pilpres 2019.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari