Re-reading Politik: Demokrasi dalam Bingkai Nasionalisme Religius (2)
berita
Oleh Chusnul Mar’iyah
Guru Besar Universitas Indonesia (UI)

Saat Obama bilang bahwa demokrasi itu tidak dapat didasarkan pada agama dan etnisitas tapi pada universalisme, saya berpikir perlunya kita merumuskan demokrasi ala Indonesia dalam bingkai nasionalisme religius. Bagaimana membangun demokrasi dalam masyarakat plural dan secara historis produk dari kolonialisme, justru kelompok mayoritasnya (indigenous, pribumi, Muslim) terpinggirkan secara ekonomi, sosial, dan politik. Bagaimana membangun demokrasi yang berkeadilan?

Demokrasi adalah cara atau metode dalam urusan tata kelola bernegara. Indikatornya majority rule, public consultation, popular sovereignty, equality. Di situ juga ada variabel partisipasi publik, civil and political liberties. Obama menyebut demokrasi dengan prinsip liberal dalam artian mengutamakan hak-hak individu. Di sini paradoks demokrasi yang putusan berada di tangan mayoritas rakyat yang miskin, sementara sumber daya ekonomi dikuasai oleh sekelompok kecil di dalam masyarakat dengan segala privilege yang dimiliki. How democracy works.

Antonio Syafi'i dalam ceramahnya mengatakan yang miskin itu Muslim dan pribumi diperhadapkan dengan yang kaya, non-Muslim dan nonpribumi. Pernyataan ini jangan langsung dikatakan sebagai SARA. Bagaimana membangun keadilan sosial, politik, dan ekonomi dalam realitas seperti itu?

Varian demokrasi dalam teori itu ada belasan (cek Buku David Held). Demokrasi dalam bingkai nasionalisme religius ini perlu dibahas dan dikonseptualisasikan menjadi teori modern. Bagaimana menggabungkan the established theory dari Barat dengan pemikiran Islam atau dari Timur seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Khaldun, Al-Mawardi, Al-Farabi dan membaca juga Tarikh Ath-Thabari? Bagaimana membaca The Second Sex-nya Simone de Bavouar dengan kerangka Tarikh Ath-Thabari pada bab Perempuan? Khazanah pemikiran ini sangat kaya. Kita scholars Muslim punya kesempatan untuk mengkaji dari dua sudut pandang pemikiran Barat dan Timur tanpa prejudice.

Demokrasi dalam bingkai religius ini menggunakan indikator nilai-nilai, norma agama untuk memberikan dasar dari tingkah laku politik kita. Saya percaya bahwa Islam sebagai agama/ideologi/value itu universal (isme). Bila kita pelajari dari kitab suci Al-Quran dan hadits Rasullullah.

Masuk partai merebut kuasa adalah jihad struktural untuk membangun peradaban manusia yang rahmatan lil ‘âlamîn. Semua kebijakan politik ada variabel transenden, ada iman bahwa ada kekuatan yang Maha Segalanya selain dirinya yang berkuasa sebagai presiden, menteri, gubernur, anggota parlemen, rektor, dsb. Saat ini, gambaran politik seperti proyeksi era Fir'aun tapi modern. Para elite yang berkuasa: politik dan militer di tangan Fir'aun. Elite ekonomi di tangan Korun. Kelompok teknokrat di tangan Haman, dan media ada di tangan Bal’am. Friedman mengatakan bahwa kombinasi kekuasaan politik dan ekonomi di satu tangan menjadi resep munculnya tirani.

Dengan norma agama, kita dapat menahan nafsu dalam berkuasa. Karena iman yakin bahwa di hari pembalasan kita harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT segala kebijakan politik yang diambil.

Dengan demikian, kita harus membaca kembali bagaimana sejarah Rasulullah dan para sahabatnya saat berkuasa. Bagaimana para alim ulama di Indonesia saat berkuasa? Menurut Cak Nur (dalam satu panel diskusi) bahwa yang mempersatukan negara Republik Indonesia ini adalah Islam. Islam hadir jauh sebelum penjajahan dan misi zending Belanda. Menurut Prof. Nazaruddin Sjamsuddin, saat ini kita berada dalam negara Nusantara ketiga (setelah Sriwijaya dan Majapahit). Berapa usia negara Republik Indonesia Nusantara ketiga ini? Seratus, dua ratus, atau berapa tahun? Yang abadi di dunia ini adalah perubahan. Kita siapkan peradaban adiluhung untuk para anak cucu negeri ini, agar baldatun thayibatun warabbun ghafûr dapat tercapai. Wallâhu a'lam.

Sumber: Catatan ini disampaikan di akun Facebooknya (Chusnul Mar’iyah), 4 Juli 2017


Tags
#Politik Indonesia
#Re-reading Politik
#Chusnul Mar’iyah
#Opini
Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Opini

Terkini

Dapatkan Berita terkini setiap hari
contoh:nama@gmail.com