Resonan Kebaikan
Arif Budiman
08 Februari 2018, 14:17 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
berita
ILUSTRASI: Hafiz
KEBAIKAN adalah sesuatu yang diinginkan, diusahakan, dan menjadi tujuan manusia. Jika kejahatan dimaknai sebagai segala perbuatan antisosial yang merusak nilai-nilai dan mengancam ketertiban, ketentraman, dan keseimbangan dalam masyarakat, maka kebaikan adalah segala kebalikannya. Ia mengandaikan keberpihakan penuh pada segala perilaku yang memperkuat kohesi sosial dan menjauhkan masyarakat dari pertentangan yang merusak daya rekat dalam interaksi antarwarga.

Baik kebaikan maupun kejahatan sama memiliki peluang untuk merekrut pengikut. Ada yang kemudian bergabung secara sukarela, namun ada juga karena sebab dipaksa. Ada yang berpartisipasi atas dasar kesadaran, namun ada juga yang terlibat secara kebetulan. Tak sengaja. Tiba-tiba saja sudah berada di dalamnya. 

Gema kebaikan dan kejahatan merambat pada frekuensinya masing-masing. Keduanya mengandalkan kuantitas dan kualitas transmiter untuk memperkuat sinyal dan memerluas daya jangkau. Semakin kuat sinyal, semakin besar peluang pasar. Semakin luas daya jangkau, semakin tinggi posibilitas merekrut pengikut.

Kampanye kebaikan dan kejahatan memerlukan banyak instrumen transmisi atau perangkat penerima dan penyebar informasi yang berfungsi layaknya Base Tranceiver Station (BTS). Perangkat itu diperlukan untuk merebut dan memertahankan dominasi. Merajai tidak hanya politik dan ekonomi, tetapi juga budaya dan wacana. 

Dalam era teknologi informasi masa kini, masifitas informasi tidak hanya didukung oleh keandalan benda mati semacam BTS, transmiter atau frekuensi, tetapi juga oleh kehadiran manusia-manusia genit yang berlaku bak ‘clicking monkey’. Mudah berteriak ‘wow’ atas suatu informasi lalu menyebarkannya tanpa didahului verifikasi. Membiarkan rasionalitasnya berkarat dan kritisismenya mati.

Di tengah gerak informasi yang banal, setiap kita memiliki opsi. Apakah menjadi bagian dari kampanye kebaikan ataukah bersekutu dengan kejahatan. Memperjuangkan nilai-nilai dan kohesi sosial ataukah meneguhkan sikap dan tindak antisosial. Dalam situasi seperti ini, haqqul yaqin sebagian besar dari kita akan memilih yang pertama.

Kampanye kebaikan tidak tanpa syarat. Ia membutuhkan akal sehat. Juga keberanian. Wajah kebaikan tak melulu hadir serupa air. Ia boleh tampil seperti api. Lihatlah jejak sejarah para nabi. Nuh dan Ayub memakai jalan air dalam menyebarluaskan ajaran kebaikan, sementara Daud dan Musa memilih cara api untuk meruntuhkan kezaliman. Sedangkan Muhammad menggunakan air dan api secara bergantian. 

Cara apapun yang akhirnya menjadi pilihan, kebaikan harus menjadi tujuan. Setiap kita bisa menyuarakannya. Setiap kita bisa menggemakannya.  

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari