Siasati Harga Anjlok, Kementan Dorong Ekspor Unggas
berita
Dirjen PKH Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita. FOTO: Istimewa
RILIS.ID, Boyolali— Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong ekspor unggas. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga yang cenderung turun saat bulan Sura dan Safar atau Oktober-November tiap tahunnya.

"Sudah ngobrol dengan salah satu integrator, akan membuka ekspor ke Korea Selatan. Peluang itu ada. Saya berpikir, lebih baik kelebihan-kelebihan yang ada di Indonesia diekspor," ujar Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, sela Rapat Koordinasi Perunggasan di Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (3/10/2017).

Ketut menerangkan, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 61 Tahun 2016 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam, untuk mengatasi permasalahan perunggasan lainnya. Regulasi tersebut kemudian disempurnakan untuk mengakomodir permasalahan peternak ayam petelur melalui Permentan Nomor 32/Permentan/PK.230/9/2017. "Pada prinsipnya, peraturan tersebut adalah untuk menjaga keseimbangan supply (penawaran) dan demand (permintaan)," jelasnya.

Alumni Universitas Udayana ini menambahkan, dirinya juga sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Dirjen PKH Nomor 3035/KPts/PK.010/F/3/2017 tentang Pengurangan Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS) Broiler, DOC FS Jantan Layer, dan FS Layer, guna menjaga keseimbangan industri perunggasan terhadap fluktuasi harga.

"Dampaknya, industri perunggasan tetap berkembang dan memberikan kontribusi kepada negara melalui penyediaan bahan pangan asal ternak yang berkualitas dengan harga terjangkau, serta dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat," paparnya dalam kegiatan yang turut dihadiri pelaku usaha ayam, asosiasi Pinsar dan Gopan, serta Wakil Bupati Kabupaten Boyolali Mohammad Said Hidayat dan Kepala Dinas PKH Jawa Tengah Agus Wariyanto.

Di sisi lain, Ketut secara khusus menguraikan enam cara Ditjen PKH Kementan mengatasi permasalahan penurunan harga ayam ternak hidup (live bird) di tingkat peternak. Pertama, perusahaan pembibit atau Integrator harus mengoptimalkan tingkat pemotongan di rumah pemotongan hewan unggas (RPHU), agar dapat meningkatkan serapan atau mengurangi pasokan live bird yang beredar di pasar, serta mencegah peran pedagang perantara atau broker.

"Kedua, perusahaan pembibit harus melakukan pengaturan produksi dan distribusi DOC kepada para pelaku usaha untuk menjaga keseimbangan supply dan demand live bird, terutama pada bulan Safar dan Sura yang permintaannya cenderung menurun," tambah Ketut. 

Ketiga, penerapan Kepmentan Nomor 3035 Tahun 2017, terutama terkait pengurangan produksi DOC pejantan 20 persen dan pengurangan populasi FS layer umur di atas 70 minggu bagi perusahaan atau peternakan yang populasinya lebih dari 100 ribu ekor. Pengaturan keseimbangan supply-demand dengan menghitung kebutuhan DOC ayam pejantan sebagai dasar produksi dan distribusi, karena menjadi waste product dari produksi DOC layer.  

Keempat, pendataan aspek distribusi ayam ras, broiler dan layer, dengan melibatkan pemerintah daerah (pemda) untuk menentukan  kebutuhan, terutama terkait pengaturan populasi dan produksi. Kelima, melibatkan pemda serta stakeholder untuk mengintensifkan kegiatan promosi dan edukasi terhadap masyarakat, agar meningkatkan konsumsi daging ayam dan telur dalam negeri serta memperluas pasar luar negeri.

"Keenam, mengimbau ke peternak unggas, agar melakukan pembenahan pada aspek budidaya dengan menerapkan good husbandry practices dan prinsip-prinsip animal welfare sebagai upaya peningkatkan efesiensi usaha untuk menghadapi persaingan global," pungkas Ketut.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari