Tujuh dari 48 Bahasa Daerah di Maluku Punah
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
RILIS.ID, Ambon— Saat ini tujuh dari 48 bahasa daerah di Maluku telah punah. Beberapa bahasa yang punah menurut Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Asrif yakni, bahasa Kayeli, Palumata, Moksela, Hukumina dari Kabupaten Buru, bahasa Piru dari Seram Bagian Barat, bahasa Loun dari Seram Utara, serta bahasa di Kabupaten Maluku Tengah dan Pulau Ambon.

"Bahasa di Kabupaten Maluku Tengah semua berstatus terancam punah, tidak ada satupun bahasa yang berstatus aman, karena pengaruh melayu Ambon ataupun bahasa Indonesia yang kuat, belum lagi yang terbaru di teluk Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah, Suru di Seram Bagian Timur (SBT) telah hilang, ditambah bahasa di pulau Buru," katanya di Ambon, Rabu (14/2/2018).

Selain itu, ada 22 bahasa daerah lainnya yang terancam punah. Bahasa itu berada di lima kabupaten Kabupaten Buru sebanyak dua bahasa, Kabupaten Maluku Tengah sebanyak tujuh bahasa, Kabupaten Maluku Tenggara satu bahasa, Kabupaten Seram Bagian Barat satu bahasa dan Kabupaten Seram Bagian Timur enam bahasa.

"Punahnya bahasa daerah ini menuntut kita untuk melakukan penanaman nilai budaya pada generasi muda, lewat pendampingan atau edukasi, karena selam ini generasi muda menggangap bahasa daerah itu kampungan," ujarnya. 

Menurut dia, punahnya bahasa tersebut disebabkan beberapa faktor, seperti pada zaman Belanda hingga masa kemerdekaan terjadi pelarangan penggunaan bahasa itu di lembaga pendidikan, rumah ibadah bahkan kantor-kantor Belanda.

Kondisi tersebut berpengaruh hingga saat ini. Selain itu, bencana alam yang menimpa permukiman warga, sehingga berdampak pada perpindahan penduduk, penggunaan bahasa Melayu Ambon yang mengakibatkan peralihan bahasa.

Potensi punahnya bahasa daerah, juga disebabkan pergeseran nilai budaya di masyarakat, yakni anggapan pemakaian bahasa daerah disebut-sebut kampungan, khususnya bagi generasi muda.

"Anak muda yang menggunakan Bahasa daerah Maluku di-bully, tetapi jika melihat orang lain menggunakan bahasa daerah seperti Bugis maupun Jawa terlihat sikap ambigu pada diri anak muda Maluku," ujarnya.

Asrif menjelaskan, seharusnya anak muda maluku mengetahui dan melestarikan bahasa daerah. Dengan menghargai bahasa berarti menjadi perawat budaya, karana semua budaya terumpun dalam bahasa.

"Menjadi pelestari budaya yang tertinggi adalah perawat bahasa, harusnya anak muda Maluku memahami pentingnya merawat bahasa daerah, karena merawat bahasa berarti kita menghormati leluhur," tandasnya.

Sumber: ANTARA

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Daerah

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari