Ahli: Setya Novanto Sudah Antisipasi bila Ditangkap KPK
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
RILIS.ID, Jakarta— Ahli psikologi forensik Reni Kusumawardhani menilai, terdakwa kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Setya Novanto sadar diri melawan hukum untuk korupsi. Ini mengingat dari gaya bicara Setya Novanto menunjukan ia tengah mengantisipasi bila ditangkap KPK.

Ini berawal ketika Reni dihadirkan oleh Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di persidangan sebagai saksi ahli. Ia diminta untuk menganalisis percakapan antara Setya Novanto dan Direktur Biomorf Mauritius Johannes Marliem, dan Andi Narogong dalam rekaman.

"Ada upaya mengantisipasi, menciptakan rasa aman tentang keberlangsungan rencana," ujar Reni dalam sidang di pengadilan tindak pidana korupsi, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Hal itu, menurut Reni, tampak dari gaya bicara Novanto yang merasa khawatir perbuatannya akan diketahui oleh KPK. Reni menduga, baik Novanto, Johanes, maupun Andi, menyadari untuk melakukan perbuatan melawan hukum.

Adapun pembicaraannya, yaitu ada rencana yang disiapkan untuk mengantisipasi jeratan hukum KPK, di antaranya dengan menggandeng petinggi partai pemenang pemilu saat itu, yakni Partai Demokrat, dan menyiapkan uang Rp20 miliar.

"Ada kekhawatiran, sehingga harus ada sistem yang dibangun dan mendekati Partai demokrat dan KPK," kata Reni. 

Sebelumnya, Setya Novanto membantah ada uang untuk KPK sebesar Rp20 miliar. Ia mengatakan, uang tersebut merupakan biaya untuk membayar pengacara.

"Iya, kalau itu masalah yang berkaitan hukum kan pasti untuk bayar yang resmi untuk semuanya, sangat tinggi, ya, macam-macam bayar pengacara itu sangat besar," katanya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (26/2/2018).

Menurut Novanto, uang tersebut hanya urusan membayar biaya pelayanan administrasi selama ia berkasus di KPK. Namun, ia tidak merinci pembayaran tersebut.

"Enggak ada itu, kalau kena kasus masalahnya pasti bayar macam-macam, resmi yah, lawyer, serta administrasi yang berkaitan dengan transportasinya dihitung-hitung jadi besar," tuturnya.

Dalam sidang sebelumnya, Jaksa KPK memutar rekaman percakapan antara Johannes Marliem selaku Dirut Biomorf Lone dan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong, dan Setya Novanto. Rekaman itu diambil saat ketiganya menikmati sarapan pagi di rumah Setya Novanto.

Dalam rekaman tersebut, Novanto mengungkapkan kekhawatirannya jika kasus korupsi di proyek pengadaan e-KTP ditangani KPK. Adapun kalimat Novanto dalam rekaman tersebut sebagai berikut:

"Itu lawannya Andi, Andi juga. PNRI dia juga, itu dia juga. Waduh, gue bilangin kali ini jangan sampai kebobolan, nama gue dipakai ke sana-sini".

"Ongkos gue entar lebih mahal lagi. Giliran gue dikejar ama KPK, ongkos gue 20 miliar. Kalau gue dikejar sama KPK, ongkos gue 20 miliar".

Editor: Eroby JF

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari