berita
Peristiwa bom bunuh di Surabaya pada 13 Mei 2018 lalu yang melibatkan pelaku sebuah keluarga, memang mengejutkan banyak orang. Bagi orang umum sulit untuk membayangkan, keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswati bersama empat anaknya, melalui foto yang tersebar  tampak seperti keluarga yang normal dan bahagia, ternyata bisa melakukan hal yang sekeji itu. Bahkan mereka tergolong keluarga yang terpandang disekitarnya. Dengan kata lain, mereka tampaknya jauh dari pengalaman traumatik hingga terjebak ke dalam ideologi maut.

Tapi sebuah keyakinan memang tak memiliki batas, termasuk batas yang dianggap melampaui akal sehat oleh masyarakat umum. Apalagi jika keyakinan itu, yang merasa memiliki sumber dalam kitab suci, ditanam terus menerus dalam keluarga sebagai sebuah kebenaran. Menjadi masuk akal, ketika seorang ayah yang menjadi teladan keluarga telah menentukan garis keyakinan itu. Apalagi itu ditancapkan sebagai jalan menuju keselamatan bagi keluarga.

Apalagi ideologi takfiri adalah ideologi yang kedap dari dunia luar. Tak ada kebenaran yang datang dari luar kecuali dari imam-imam yang mereka yakini. Sehingga praktis, tak ada himbauan moral dan agama yang mampu menembus batas keyakinan itu, seperti bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Sebab bagi mereka, ada dalil yang mengukuhkan bahwa agama bisa membenarkan sebuah pembunuhan secara acak di tempat umum, karena mereka di luar sana bisa jadi setengah manusia.

Tak perlu jauh-jauh membayangkan itu, seorang ustad kondang Abdul Somad yang relatif bisa diterima oleh banyak kalangan, pun mendalilkan bahwa agama bisa membenarkan serangan bunuh diri dalam peperangan. Sebuah ungkapan rutin yang ia sampaikan dalam majelis agama dan tersebar di media sosial. Sebuah benih kekerasan yang sebenarnya bisa tumbuh di mana saja dengan skala yang berbeda-beda. 

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Infografis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari