berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dandi Supratman.
SALAH satu pelajaran yang bisa dipetik dari Pilkada 2018 kemarin adalah partai politik besar tak bisa seenaknya menentukan calon kepala daerah.

Bila salah memilih kandidat, publik tak akan segan-segan melirik calon lain sebagai alternatif. Pasangan yang diusung, pasti tak laku "dijual".

"Pilkada kemarin menunjukkan bahwa figur itu penting," kata etua Umum PAN Zulkifli Hasan di Jakarta pada Kamis, 28 Juni.

Kata dia, boleh saja tidak suka dengan partai, tapi kalau figurnya diminati, maka pemilih tetap akan mencoblosnya. Jadi, kandidat lah yang menentukan.

Calon yang dimaui rakyat, dan yang diputuskan partai harus sejalan. Itu pelajaran penting di tahun ini. Tidak ada istilah "mentang-mentang" dari parpol besar atau penguasa pemerintahan.

Lihat saja PDI Perjuangan yang mengusung pasangan TB Hasanuddin - Anton Charliyan di Pemilihan Gubernur Jabar. Ketokohan keduanya tak diterima baik, sehingga wajar kalau kalah.

"Figurnya saya kira mungkin kurang tepat," kata Ketua MPR RI itu.

Hasil pilkada juga akan memberikan peta bagi calon presiden yang akan bertarung pada Pilpres 2019. Makanya, haruslah berhitung secara cermat.

Ketua DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay, mengatakan, hasil Pilkada Serentak 2018 bisa menjadi referensi untuk Pilpres 2019.

Terutama, katanya, untuk modal para bakal calon presiden dalam memilih partai sebagai pendukung di koalisinya.

"Setidaknya, para kandidat (capres) yang akan bertarung dapat menjadikan hasil ini sebagai referensi," ujarnya.

Memang, calon kepala daerah yang diusung PAN unggul di 10 provinsi dari 17 provinsi yang menggelar hajatan demokrasi di 2018. Namun, posisi pertama diraih oleh NasDem.

Partai NasDem mengklaim berhasil memenangkan 11 pemilihan gubernur di pilkada kemarin.

Bahkan, kata Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) NasDem, Willy Aditya, dari 11 pilgub yang menang itu, 4 di antaranya kader internal.

"Yaitu, Kalimangan Barat, Sumatera Selatan, NTT dan Sulawesi Tenggara. Sementara untuk posisi wakil gubernur, kader Nasdem Edy Nasution yang menjadi wakil Syamsuar di Riau."

Melansir CNN Indonesia, khusus pilgub, PAN dan NasDem memang menjadi juara dengan persentase kemenangan 58,8 persen. Diikuti, Hanura dan Golkar yang memperoleh 52,9 persen.

Partai koalisi yang lain, yakni PPP sebesar 41,2 persen dan PKB sebesar 35,3 persen. Sementara, PDIP selaku partai pengusung Jokowi justru berada di posisi buncit dengan perolehan 23 persen.

Hasil buruk dialami Gerindra. Partai yang pimpin Prabowo Subianto itu hanya mengantongi kemenangan sebesar 17,6 persen. Sementara sekutunya, PKS, lebih baik dengan 41,2 persen.

Peta Berubah

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, kontelasi Pilpres 2019 bisa berubah setelah hasil Pilkada serentak 2018 kemarin.

Kontestasi pesta demokrasi di daerah 27 Juni lalu, dinilai menjadi salah satu tolok ukur kekuatan partai politik dalam mendulang suara.

"Peta politik pilpres bisa berubah, dan salah satunya karena suara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra banyak yang menurun di basis suara mereka," kata Pangi di Jakarta, Jumat (28/6/2018).

Contohnya, Pilkada Jawa Barat, seharusnya di wilayah tersebut dapat dimaksimalkan Partai Gerindra untuk mendulang suara, karena di Pilpres 2014 Prabowo mendulang suara di wilayah tersebut.

Namun, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra kalah dari Ridwan Kamil-Uu Ruzhalul Ulum berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei.

"PDI Perjuangan di pilkada Jabar sepertinya hanya 'cek ombak', untuk melihat dan menguji mesin partai bergerak atau tidak," kata dia.

Lalu, di Pilkada Sumatera Utara, kalau Djarot menang, Joko Widodo aman di wilayah tersebut namun kenyataannya, kalah.

Pangi menilai, momentum Pilkada 2018 dijadikan parpol dan bakal capres untuk mengkonsolidasikan kekuatan masing-masing, misalnya melihat mesin partai.

Menurut dia, Jokowi dan Prabowo akan berhitung ulang strategi di pilpres, misalnya kemampuan mereka menguasai elektoral di Pulau Jawa.

"Karena Jawa adalah kunci. Wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur menjadi penentu kemenangan di pilpres," katanya.

Kandidat capres akan berpikir ulang untuk menentukan sosok bakal calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi mereka, terutama melihat koalisi parpol yang akan mengusung.

Menurut dia, kedua kandidat itu akan mengkalkulasi ulang dan evaluasi mesin partai mana saja yang benar-benar bergerak di Pilkada 2018.

"Namun yang harus dicatat, kemenangan pasangan calon di Pilkada 2018 banyak ditentukan oleh faktor figur calon,".

Sumber: ANTARA

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari