Begini Modus Hakim dan Panitera PN Tangerang 'Jual' Perkara
berita
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukan barang bukti dalam konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Selasa (13/3/2018). KPK mengamankan barang bukti berupa uang sebesar Rp7,5 juta dari total kesepakatan fee senilai Rp30 juta yang melibatkan hakim dan panitera Pengadilan Negeri Tangerang, serta menetapkan empat orang tersangka yaitu, Hakim Wahyu Widya Nurfitri dan Panitera Pengganti Tuti Atikapada serta dua orang lainnya yang terdiri dari pihak swasta dan pengacara sebagai tersangka terkait kasus dugaan pemberian hadiah penanganan perkara perdata di Pengadilan Negeri Tangerang. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Pandjaitan mengatakan, dua orang pengacara, yaitu Agus Wiratno (AGS) dan HM Saipudin (HMS) memberi hadiah, berupa uang kepada Wahyu Widya Nurfitri (WWN), selaku hakim Pengadilan Negeri Tangerang, melalui panitera pengganti Tuti Atika, karena hakim telah memutuskan untuk menolak gugatan perkara. Namun, perkara tersebut memang belum diketok palu mengingat adanya penundaan persidangan.

"Sidang pembacaan putusan dijadwalkan pada tanggal 27 Februari 2018. Namun, karena panitera pengganti sedang umroh, sidang putusan ditunda menjadi 8 Maret 2018. TA diduga menyampaikan informasi pada AGS tentang rencana putusan yang isinya menolak gugatan," ungkap Basaria dalam konfrensi pers di gedung KPK, Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Basaria menjelaskan, pada 7 Maret 2018 advokat Agus Wiratno, atas persetujuan HM Saipudin, kembali bertemu dengan Tuti di PN Tangerang dan diduga menyerahkan uang senilai Rp7,5 juta  yang kemudian diserahkan kepada hakim Wahyu sebagai ucapan terima kasih. Namun, uang tersebut dinilai kurang dan akhirnya disepakati nilainya menjadi Rp30 juta. Kekurangan Rp22,5 juta akan diberikan kemudian.

Namun, hingga 8 Maret 2018 Agus Wiratno belum menyerahkan sisa kekurangan uang dan sidang pembacaan putusan kembali ditunda dengan alasan anggota majelis hakim sedang bertugas ke luar kantor, sehingga dijadwalkan kembali Selasa, 13 Maret 2018.

"Tanggal 12 Marat 2018 Agus membawa uang Rp22,5 juta yang dimasukkan dalam amplop putih dan kantornya di daerah Kebon Jeruk ke PN Tangerang. Setibanya di PN Tangerang sekira pukul 16.15, Agus langsung menyerahkan uang tersebut kepada Tuti," ungkapnya.

Namun naas, setelah itu tim KPK kemudian mengamankan Agus di parkiran PN. Tim kemudian bersama Agus kembali ke ruangan Tuti dan mengamankan yang bersangkutan. Di sana tim mengamankan uang Rp22,5 juta.

"Tim kemudian membawa AGS dan TA bersama 3 orang lainnya pegawai PN Tangerang ke Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan awal," ungkapnya.

Selang beberapa jam, tim kemudian bergerak ke daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan mengamankan HM Saipudin selaku advokat lainnya di kantornya sekitar pukul 20.00 WIB. Sedangkan tim lainnya bergerak ke Bandara Soekarno Hatta untuk mengamankan Hakim Wahyu yang baru tiba dari penerbangan Semarang-Jakarta sekitar pukul 20.30 WIB.

Sebagai pihak yang diduga penerima, Wahyu Widya Nurfitri (WWN) dan panitera pengganti Tuti Atika (TA) disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) kel KUHP.

Sedangkan advokat Agus Wiratno (AGS) dan HM Saipudin (HMS) sebagai pihak yang diduga pemberi disangkakan melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Editor:

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari