Benarkah Dengerin Musik Ganggu Konsentrasi?
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
LAGI-lagi polisi membuat kehebohan publik di tengah memanasnya situasi tahun politik. Dengan memunculkan tafsir atas Undang-Undang LLAJ, yang melarang pengguna jalan merokok dan mendengarkan musik/radio saat mengemudikan kendaraan.

Alasannya, konsentrasi para pengendara akan terganggu bila melakukan kegiatan tersebut. Tak tanggung-tanggung, ada sanksi yang diberikan bila melanggar ketetuan itu, yakni pidana paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000.

Malah terkesan lucu, saat isu yang diembuskan Polda Metro Jaya ini menuai kritik publik, khususnya dari kalangan warganet. Polri buru-buru menyanggahnya. Cuma, bantahan ini terkesan "maksa". Lebih tepatnya, tidak masuk akal sih.

"Mendengarkan musik yang dilarang itu kalau dengan gerakan-gerakan berlebihan, itu yang enggak boleh. Tapi kalau mendengarkan saja tidak masalah," kata Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Brigjen Pol Pujiono Dulrahman.

Pernyataan itu diungkapkan ketika Pak Pujiono diwawancara Radio Sonora yang dilansir Kompas pada Jumat, 3 Mei lalu. Pertanyaanya, benarkah para pengemudi sering dengerin musik sambil melakukan "gerakan berlebihan", sampai goyang zumba?

Sebelumnya, aturan itu ditafsirkan Polda Metro Jaya lewat Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), tercantum dalam Pasal 106 Ayat 1 juncto Pasal 283. Tapi, Kepala Korlantas Polri, Irjen Pol Royke Lumowa, membantahnya. Ketentuan yang dimaksud, tidak ada dalam regulasi tersebut.

"Itu tidak benar (pengendara yang merokok dan mendengar musik bisa dipidana)," ujar Royke ketika diwawancarai Tirto, belum lama ini.

Jika meninjaunya kembali, dalam Pasal 106 Ayat 1 menyebutkan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Memang tak disebutkan soal mendengar musik/radio, sih.

Sementara pasal 283 menyatakan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000.

Lalu, apakah merokok dan mendengarkan musik/radio saat berkendara mengganggu konsentrasi?

Psikolog klinis, Kasandra Putranto, mengatakan setiap orang memiliki tingkat konsentrasi yang berbeda-beda. Hal itu tergantung dari kecerdasan masing-masing personal.

Sehingga, gak semua orang akan terganggu konsentrasinya dalam berkendara, biar sembari merokok atau ngederin musik/radio. "Tergantung orangnya, jenis rokok atau musik dan juga tergantung caranya," kata Kassandra.

Pendiri layanan psikologi Kasandra & Associated ini menjelaskan, rokok memiliki jenis dan tingkatan yang berbeda-beda dalam mempengaruhi konsentrasi seseorang, khsususnya pas lagi berkendara. Begitu juga dengan musik yang memiliki beragam genre.

"Bagaimana cara mendengarkan musiknya juga berpengaruh," jelasnya.

Misal, kalau malam, lagi ngantuk, dengar musik melow malah bikin suasana kalem. Terus, bisa ketiduran. Tapi, kan berbeda kalau pasang lagu-lagu dengan beat tinggi.

Keinginan polisi melarang pengendara sambil sebat (merokok, red) dan mendengarkan musik, pada dasarnya adalah upaya transisi meningkatkan kualitas pengendara dan menertibkan mereka. Cuma, sebaiknya, dahulukan dulu aturan seperti batasan usia.

"Kemudian larangan minum alkohol selama mengemudi," ujar dia.

Tapi, kalau soal merokok, sebaiknya emang dilarang. Pasalnya, negara-negara lain udah duluan menentang kegiatan ini di area publik. Begitu juga, penggunaan GPS yang katanya berpotensi membuyarkan konsentrasi pengendara.

"Yang aneh kalau mendengarkan musik. Selama tidak sambil menutup telinga (headset), dan tetap konsentrasi pada lalu lintas, seharusnya enggak apa-apa," tegasnya.

Pengamat hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menilai, pasal yang ada dalam UU LLAJ, tak bisa ditafsirkan secara serampangan. Karena, bisa saja nantinya itu menjadi pasal karet bila tak tepat diartikan.

"Nanti jadi pasal karet kalau tafsirnya melebar. Kalau mau menetapkan, maka harus melalui peraturan pemerintah," kata Fickar.

Seperti, larangan berkendara sambil dengarkan musik. Ini kelewat lebay. Cuma, berkendara sambil merokok, dirinya tak keberatan adanya sanksi.

"Kalau kegiatan-kegiatan yang memang nyata-nyata menghilangkan konsentrasi, seperti merokok, terus menerima telpon, nah, itu masih bisa diterima," imbuhnya.

Cuma, kalau ngederin musik/radio, itu kan bukan kegiatan dua arah, yang mana dapat menyebabkan kosentrasi tertanggu. Justru, ada hiburan serta informasi yang punya pengaruh positif.

Lalu, bagaimana dengan merokok? publik jelas tak setuju, bahkan sampai pernah memakan korban. Seperti apa keluhan mereka? (bersambung)

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari