Berdayakan Petani Hasilkan Bibit Sendiri
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
Produk hortikultura impor berbakteri menjadi membawa masalah sendiri. Bukan hanya petani, masyarakat pun jadi ngeri mengonsumsinya, seperti kasus rock melon asal Australia kemarin. Bagaimana seharusnya melihat masalah ini?

Wartawan rilis.id, Zulhamdi Yahmin, mewawancarai Syukur Iswantoro, Dirjen Hortikultura Kementerian dan Ono surono, Anggota Komisi IV DPR RI, untuk menilik persoalan ini lebih komprehensif. Berikut kutipan tanya jawabnya.

Bagaimana tanggapan terkait bakteri pada benih hortikultura impor kemarin?

Syukur Iwantoro
Bukan izin-izinnya yang salah, justru para petugas karantina yang hebat, karena mereka bisa mendeteksinya. Setiap kali ekspor-impor, peluang masuknya penyakit lewat media-media selalu ada. Makanya, di sana perlunya Badan Karantina Pertanian.

Dengan petugas karantina yang sekarang ini, mereka canggih-canggih dan memiliki peralatan lengkap, sehingga kita semakin bagus. Karena itu, terdeteksi lah Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) tersebut. Mereka ini sudah ketat sebenarnya.

Ono Surono
Itu kan berarti kita harus memperkuat badan karantina. Badan karantina itu kan menjadi garda terdepan terkait dengan serbuan tumbuhan, bibit dari impor. Seharusnya, ada beberapa hal sebelum itu dimasukkin kan secara ketat kan harus diteliti terlebih dahulu.

Kan importir ini sudah punya sertifikasi, kok bisa ada ada bakterinya benih itu?

Syukur Iwantoro
Bakteri itu kan tidak selalu karena on farm. Karena, bisa juga lewat perjalanan, atau di pergudangan sendiri. Karantina lah yang harus melakukan pengawasan di sana. Sebetulnya, bisa saja terjamin, caranya perlakukan khusus sebelum impor, misalnya disegel langsung sebelum masuk gudang dan dikirim. Tapi kan untuk inspeksi ke luar negeri, mahal.

Ono Surono
Ya, kan kenapa kita ada badan karantina, untuk menjaga itu supaya tidak lolos. Nah, ini kan kalau misalnya ditemukan, ya bagus. Kemudian harus ditindaklanjuti asal negara benih itu. Kan, harus diteliti lebih lanjut. 

Yang kita khawatirkan sebenarnya produk-produk impor yang ilegal, yang selundupan-selundupan gitu. Itu kan kejadian beberapa kali, misalnya di Bogor ditanam cabe impor ternyata cabenya mengandung virus. Nah itu yang kita khawatirkan.

Mengapa tidak swasembada saja?

Syukur Iwantoro
Sekarang ini pemerintah kan sudah masuk tahun benih. Bagaimana kita membangun kemandirian hortikultura. Cuma kan memang butuh proses menuju ke sana. Kita juga impor kan bukan produk yang memang ada di Indonesia, hanya yang memang tidak ada.

Ini yang produknya baru, dan peminatnya meningkat. Benih baru ini juga kita uji di litbang, tentu ada pengembangan. Supaya benih tersebut bisa ada di Indonesia.

Ono Surono
Harusnya, memang untuk benih-benih itu sebisa mungkin pemerintah itu melarang masuknya. Apalagi, kalau tanaman yang ada di Indonesia. Seperti misalnya, ada beberapa perguruan tinggi yang jurusan pertanian, ada lembaga-lembaga swasta, terus ada litbang yang dipertanian juga.

Nah, mereka yang melakukan inovasi, bicara kebutuhan benih yang produktif, tahan penyakit, tahan cuaca, sehingga tidak harus kita mendapatkan benih dari impor. 

Kalau tidak salah Kementerian Pertanian sudah memperketat masuknya benih impor. Sehingga, ke depan ya harus lebih dipikirkan bagaimana Indonesia sendiri bisa swasembada.

Upaya mengembangkan industri benih, seperti apa?

Syukur Iwantoro
Ini seperti pada tanaman pangan, benih dikembangkan penakar benih, yakni masyarakat atau petani yang dibina Litbang dan Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian. Bibit yang sudah diuji, lalu dikembangkan ke penakar.

Sedangkan, kalau perusahaan besar sebagai industri, merujuk pada Pasal 100 Undang-Undang Hortikultura, ada pembagian saham, yakni 30 persen dari asing. Dan 70 persen lokal. Makanya, para investor asing tidak terlalu berminat. Cuma ini justru menarik bagi investor dalam negeri, supaya perusahaan nasional cepat tumbuh.

Ono Surono
Nah, petani yang tradisional yang lokal itu sebenarnya mereka juga mengembangkan sendiri benih-benih unggul baru. Sehingga, BUMN kita yang belum maksimal, karena banyak juga masalah di internalnya, seperti korupsi.

Ke depan, seharusnya ada pembenih-pembenih ini juga harus dibuatkan semacam wadah, dibuat sekema untuk mempermudah mereka mensertifikasi hasil tanaman yang dibenihkan, diberikan teknologinya untuk produk lokal itu.

Kemudian dikaitkan dengan program Kementerian Pertanian, seperti seribu desa mandiri benih, yang itu juga merupakan masuk program Presiden. Nah, ini kan diharapkan bagaimana benih itu bisa disiapkan di lingkungannya sendiri.

Baca juga:
Bagian 1: Produksi Impor Malah Bikin Bahaya
Bagian 2: Pengawasan 'Barang' Asing Harus Ketat
Bagian 3: Berharap Hortikultura Tak Lagi Impor
Bagian 4: Berdayakan Petani Hasilkan Bibit Sendiri

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari