Cabut Rekomendasi Mubalig Pemerintah
berita
ILUSTRAS: RILIS.ID/Dendi Supratman,
LAMA-kelamaan polemik daftar 200 mubalig versi Kementerian Agama (Kemenag) makin meruncing. Tak tanggung-tanggung, banyak pihak yang pengin supaya pemerintah mencabut rekomendasi itu.

Semisal tokoh Muhammadiyah, Amien Rais. Ia menilai pembatasan ini malah berpotensi memunculkan kegaduhan baru. Untuk itu, perlu bagi pemerintah mendengar aspirasi publik.

"Apinya dihilangkan. Cabut but, selesai!" kata Amien Rais pada Senin, 21 Mei kemarin.

Lain dari itu, ia menilai, listing penceramah akan sangat banyak sekali nantinya. Pasti, bertambah karena akan masuk terus rekomendasi dari masyarakat dan tokoh-tokoh agama.

"Mau sampai berapa ribu?" ujarnya. Padahal, mulanya rekomendasi ini kan untuk memberikan arah kepada masyarakat soal nama-nama da'i rujukan, kalau makin banyak, justru enggak fokus.

Berbeda dengan Amien Rais, Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, mengatakan Kementerian Agama seharusnya merilis daftar nama-nama penceramah yang dilarang saja.

"Barang kali tujuannya bagus, tetapi saya tidak sependapat," kata dia mengomentari kebijakan Kemenag.

Sebenarnya yang harus dikeluarkan itu nama-nama mubalig terlarang, atau kena warning. Sebab, yang penceramah yang baik itu jumlahnya banyak, lebih dari 200 orang.

Banyak juga yang menilai bahwa ada keganjilan dalam rekomendasi Kemenag tersebut. Selain jumlah yang sangat sedikit dibanding jumlah penduduk muslim Indonesia, tiga indikator penentunya pun masih potensial dipertanyakan. Begitulah kata Wakil Sekjen DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay.

Misalnya, indikator pertama adalah memiliki kompetensi tinggi kepada ajaran agama Islam. Yang menguji ini siapa? Apakah ada seleksinya? Jangan sampai ada yang mengatakan bahwa ada ulama yang ilmunya jauh lebih tinggi dari Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, tapi tak masuk daftar.

Lalu, indikator kedua tentang pengalaman dan indikator ketiga tentang komitmen kebangsaan dinilai sangat relatif. "Apakah orang yang sering ceramah sudah dianggap berpengalaman sekaligus memiliki komitmen kebangsaan? Apa tolok ukur untuk menentukannya," tambah dia.

"Semua itu perlu penjelasan lebih lanjut dari Kementerian Agama," tanya mantan Ketua Komisi VIII bidang agama di DPR itu

Rekomendasi terhadap 200 nama muballigh itu terkesan hanya sekedar menarik perhatian saja. Sedangkan, target dan sasaran dari dikeluarkannya rekomendasi itu tidak jelas.

Sebelumnya, pada Jumat, 18 Mei lalu, media sosial mendadak ramai bicara soal rilis 200 nama mubalig hasil rekomendasi Kementerian Agama (Kemenag). Artinya, mereka inilah yang memang dianggap punya jam terbang andal, sehingga tak perlu ragu lagi atas dakwah dan ceramahnya.

Sejumlah nama-nama da'i populer yang masuk dalam listing tersebut seperti, Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Dedeh Rosidah (Mama Dedeh), Arifin Ilham, dan Yusuf Mansur. Sedangkan, para tokoh lainnya, Said Aqil Siraj, Din Syamsudin, Mahfud MD, dan Hidayat Nur Wahid.

Beberapa penceramah zaman now yang kerap aktif di media sosial sekaliber Ustaz Abdul Somad, Felix Siauw dan Hanan Attaki tidak masuk dalam daftar Kemenag.

Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan bahwa jumlah rilis tersebut sangat dinamis, pasti akan berubah, sesuai dengan masukan dari tokoh-tokoh ulama dan ormas Islam. 

"Di kemudian hari akan muncul nama-nama (lagi)," kata Lukman melansir dari laman resmi Kemenag pada Sabtu, 19 Mei lalu.

Daftar ini juga dalam rangka menjawab semua pertanyaan masyarakat terkait muballigh yang dinilai laik untuk mengisi kajian atau ceramah-ceramah. Nama-nama tersebut diperoleh dari hasil konsultasi bersama ormas Islam, tokoh ulama dan masjid-masjid besar Indonesia.

Para da'i ini diklaim sebagai orang-orang yang mumpuni subtansi ajaran Islam, berpengalaman dan punya komitmen tinggi terhadap kebangsaan. Intinya, memang punya rekam jejak yang pasti.

Tapi, Anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan, rilis rekomendasi Kemenag ini adalah bagian dari upaya meminimalisir teror. Ia tak memandang sebagai polemik baru.

"Yang namanya kita rasakan ini bagus maka kita coba dulu kalau di jalan kurang maka kita perbaiki yamg jelas ada lah upaya untuk melakukan meminimalisir resiko," kata Arteria.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari