Ditengah Pandemi, Kementan Kukuhkan Tiga Profesor Riset
berita
FOTO: Humas Balitbangtan
RILIS.ID, Jakarta— Di tengah pandemi COVID-19, Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) mengukuhkan tiga Peneliti Ahli Utama dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai Profesor Riset. Pengukuhan tersebut menambah jumlah Profesor Riset di Balitbangtan, Kementan menjadi 146 orang, sementara untuk tingkat nasional menjadi 562 orang.

Tiga Peneliti Ahli Utama yang dikukuhkan menjadi Profesor Riset adalah Prof. (Riset). Dr. Ir. Saptana, MSi dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian, Prof. (Riset) Dr. Ir. Amran Muis, MS dalam Bidang Hama dan Penyakit Tanaman dan Prof. (Riset). Dr. Ir. Mat Syukur, MS dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian. Ketiganya secara berurutan merupakan Profesor (Riset) ke 560, 561, 562 secara nasional dan Profesor Riset ke 144, 145 dan 146 di Balitbangtan, Kementan.

Sebelum pengukuhan, ketiganya melaksanakan Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Utama Ir. Sadikin Sumintawikarta, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu Bogor pada Senin (1/9/2020) dengan menerapkan protokol kesehatan. Acara yang dihadiri Menteri Pertanian, Sahrul Yasin Limpo dan Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry ini juga bisa disaksikan secara daring melalui aplikasi Zoom dan Youtube.

Orasi pengukuhan merupakan kristalisasi hasil pemikiran peneliti selama menjalankan kariernya selama ini. Profesor Riset adalah jenjang tertinggi dalam jabatan fungsional peneliti. Saat ini Professor Riset Kementan yang masih aktif sebagai PNS berjumlah 57orang dari 1.633 peneliti dan total 5.698 PNS di Balitbangtan, Kementan.

Prof. Saptana menyampaikan orasi berjudul “Reformulasi Kemitraan Usaha Agribisnis sebagai Strategi Peningkatan Nilai Tambah Dan Daya Saing Hortikultura dan Unggas”. Saptana berhasil mereformulasikan pola kemitraan yang ada dan mengembangkan inovasi model kemitraan usaha agribisnis terpadu (KUAT) pada komoditas hortikultura dan unggas.

Reformulasi ditujukan untuk melakukan transformasi ke arah kelembagaan kemitraan usaha yang lebih terpadu. Reformulasi pada komoditas hortikultura dilakukan pada pola pertanian kontrak, pemasaran kontrak, dan pola sub terminal agribisnis (STA).

Pada komoditas unggas dilakukan reformulasi pada pola kemitraan internal dan pola kemitraaan eksternal. Transformasi terutama dilakukan dari tipe bisnis transaksional ke arah tipe bisnis kemitraan. “Filosofinya adalah bekerja bersama-sama lebih baik dibandingkan bekerja sendiri-sendiri. Esensi kemitraan usaha adalah adanya saling berkontribusi baik dalam manfaat maupun risiko usaha,” terang Saptana.

Pengembangan inovasi model KUAT pada kawasan hortikultura dan unggas dilakukan melalui transformasi ke arah kelembagaan ekonomi petani atau peternak berbadan hukum; mengelola usaha korporasi komoditas hortikultura; serta membangun divisi kemitraan, bisnis inti, dan penunjang. Selanjutnya diterapkan manajemen rantai pasok secara terpadu, membangun kontrak kerjasama secara berkeadilan, dan membangun Pusat Pelayanan Agribisnis (PPA).

Dengan memadukan teknologi baru dan inovasi model KUAT, Saptana meyakini dapat meningkatkan produktivitas, kualitas, nilai tambah dan daya saing produk secara berkelanjutan. Inovasi model KUAT dapat meningkatkan nilai tambah petani hortikutura sebesar 34%, peternak broiler 8% dan unggas lokal 23%. Inovasi Model KUAT mampu meningkatkan daya saing hortikultura sebesar 28% dan unggas 14%.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Amran Muis menyampaikan orasi berjudul “Teknologi Inovatif Pengendalian Penyakit Utama Tanaman Jagung yang Ramah Lingkungan untuk Meningkatkan Produksi Nasional”. Amran berhasil mengembangkan inovasi teknologi pengendalian penyakit terpadu jagung ramah lingkungan dengan memanfaatkan biopestisida Bacillus subtilis.

“Inovasi ini diintegrasikan dengan varietas tahan rakitan Balitbangtan yang dapat memperpanjang durabilitas ketahanan varietas dan dapat menyelamatkan produktivitas 27,03%,” terang Amran.

Inovasi ini dapat menekan perkembangan penyakit bulai sebesar 10%-63.1%, hawar daun maydis sebesar 32,3%, hawar pelepah dan upih daun sebesar 18,5%-20,1% dan busuk batang fusarium sebesar 46,3% di lapangan. Formulasi B. subtilis bernama TRIBAS ini merupakan konsorsium dari beberapa isolat B. subtilis yang telah menunjukkan kinerjanya terhadap pengendalian penyakit utama jagung.

Amran juga berkontribusi dalam pelepasan sejumlah varietas unggul baru jagung hibrida melalui pengujian galur/calon varietas terhadap penyakit utama. Ia juga berhasil memetakan spesies-spesies patogen penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung di Indonesia.

Dengan peta penyebaran spesies penyebab penyakit bulai tersebut memungkinkan bagi pemulia dan peneliti untuk merakit dan menguji ketahanan galur/calon varietas toleran bulai berdasarkan spesiesnya serta perakitan teknologi yang spesifik lokasi. Hasil penelitian Amran memberikan kontribusi secara nasional dan dapat diandalkan dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional.

Sementara itu, Prof. Mat Syukur menyampaikan orasi berjudul “Inovasi Kelembagaan Keuangan Mikro untuk Meningkatkan Akses Petani Kecil pada Sumber Permodalan”. Mat Syukur berhasil merumuskan gagasan baru untuk meningkatkan akses petani kecil pada sumber permodalan melalui inovasi kelembagaan, berupa tata kelola identifikasi kelayakan petani calon penerima pinjaman, proses penyaluran dan pengembalian pinjaman, serta mitigasi risiko pinjaman pada Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA).

Melalui serangkaian penelitian dan pengalaman kaji tindak di Kabupaten Bogor dan Tangerang, gagasan tersebut berhasil diimplementasikan dengan baik. Mat Syukur berkeyakinan dengan dukungan fasilitasi dari pemerintah dan pemerintah daerah, gagasan inovasi kelembagaan LKMA dapat meningkatkan akses petani petani kecil pada sumber permodalan secara berkelanjutan, meningkatkan budaya menabung petani untuk pemupukan modal, memitigasi risiko gagal bayar pinjaman, dan dapat mempercepat terwujudnya program nasional keuangan inklusif serta penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Dengan akses terhadap permodalan secara berkelanjutan, petani dapat mengadopsi teknologi secara maksimal untuk meningkatkan produksi usahataninya, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatannya,” pungkasnya.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Bisnis

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari