Duh, 'Stunting' Ancam Bocah Indonesia 
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID
APA itu stunting? Bisa jadi ini sebuah istilah baru untuk sebagian orang. Singkatnya, kata tersebut punya arti "kerdil". Karena, disematkan untuk anak yang secara antropometri (ukuran tubuh) lebih pendek dari rata-rata tinggi badan normal di usianya.

Secara tegas dalam standar WHO 2005 disebutkan, bila berada dibawah minus dua Zscore untuk stunted/pendek, dan dibawah minus tiga Zscore untuk severe stunted/sangat pendek. Stunting bisa dibilang, kegagalan pertumbuhan sejak dalam kandungan hingga anak usia dua tahun.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2017 menyebutkan, dari 170 ribu balita berusia 0-59 bulan di 514 kabupaten/kota, 9,8 persen tergolong sangat pendek. Kemudian, 19,8 persen masuk kategori pendek dan 70,4 persen tercatat memiliki tinggi badan normal.

Untuk bayi di bawah dua tahun, prevalensinya berkisar 6,9 persen (sangat pendek), dan 13,2 persen (pendek) serta 79,9 persen (normal). Terus, kenapa bisa menderita stunting?

"Ini disebabkan kekurangan gizi pada usia dini," kata Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Prof. Fasli Jalal, seperti dilansir Antara.

Parahnya, masalah berbadan kerdil ini bisa meningkatkan kematian bayi/anak, menyebabkan kerja otak tak maksimal, dan menurunkan kemampuan kognitif. Di sinilah tugas pemerintah untuk "mengeroyok" persoalan ini. Menggelontorkan anggaran untuk keluarga berisiko stunting.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Anung Sugihantono, seperti dilansir Viva mengatakan, pencegahan dan penanggulangan stunting harusnya dimulai sebelum kelahiran, dan berlanjut sampai anak usia dua tahun. Masalah pertama, umumnya bersumber pada gizi ibu.

"Ini sering kali tidak disadari," ungkap Anung.

Karena, anak yang menderita stunting enggak selalu kelihatan seperti anak bermasalah, dan ini dianggap wajar. Misal, kalau orang tua pendek, maka sah-sah saja bila anaknya pendek.

Tapi, menurut riset para ahli gizi serta kesehatan, persoalan stunting dianggapnya sebagai ancaman terbesar bagi kualitas hidup manusia di masa mendatang.

Berdasarkan data Global Nutrition Report 2014 yang dilansir Kementerian PPN/Bappenas, menyebutkan, Indonesia masuk dalam 17 negara yang mengalami beban ganda permasalahan gizi. Bahkan, saat ini terdapat 15 provinsi dengan angka stunting di atas 40 persen

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Prof. Endang L Achadi, mengatakan, stunting dan permasalahan gizi mempengaruhi status kesehatan dan kecerdasan di setiap tahap kehidupan, mulai dari kandungan sampai dewasa, termasuk perempuan hamil.

"Perkembangan otak dan fisik, rentan terhadap penyakit," ujar Endang.

Sementara pada tingkat masyarakat dan negara, stunting menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan angka kemiskinan dan kesakitan, sehingga beban negara meningkat, ketimpangan sosial dan menurunkan daya saing dengan negara lain. Jadi, bukan cuma karena mecin yah?

Stunting ini ternyata bukan karena soal asupan makan atau gizi saja. Tapi, perlu juga dilihat lebih jauh kalau masalah ini dikarenakan pola asuh ibu, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, hingga sanitasi lingkungan. Bisa dibilang, kemiskinan jadi akar masalah lainnya.

Dalam sebuah penelitian (Lin A, et al. dalam Environmental Health Perspectives: vol 122) menyebutkan, kesehatan punya pengaruh besar dalam masalah stunting. 

Anak-anak di Bangladesh yang mengakses air bersih, jamban dan fasilitas cuci tangan pakai sabun (CPTS), pertumbuhan tinggi badannya naik di atas 50 persen, dibanding mereka yang tidak mendapat memperoleh layanan tersebut. Apa kabar di pedalaman Indonesia?

Data Joint Monitoring Programme (JMP) pada 2013, ada sekitar 24 persen masyarakat Indonesia yang buang air besar (BAB) di tempat terbuka. Dan, 14 persen yang tak punya akses air bersih.

Waduh, padahal anak yang tumbuh di lingkungan sanitasi buruk, punya risiko terserang penyakit. Nah, kalau sudah "rentan", pertumbuhan mereka pun jadi terhambat. Karena, tingkat higienis dan sanitasi buruk menyebabkan inflamasi usus kecil yang mengurangi penyerapan zat gizi.

"Tanpa gizi yang cukup, lingkungan yang baik maka akan sangat membahayakan generasi muda kita," kata Wakil Presiden, Jusuf Kalla seperti dilansir Kompas Online.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari