Fadli Zon, Sudah Jadi Wartawan sejak SMA
berita
Wakil Ketua DPR Fadli Zon saat berkunjung ke Kantor RILIS.ID di Pejaten Raya, Jakarta Selatan. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
PIMPINAN DPR yang berlatar belakang wartawan ternyata bukan hanya Bambang Soesatyo. Fadli Zon, juga memiliki kisah hidup sebagai jurnalis. Bahkan masih sejak belia, tepatnya sejak kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) 31 Jakarta Timur.

Karier wartawan Fadli dimulai sebagai penulis berita luar negeri di Harian Terbit. Ketika itu lagi ramai-ramainya pemberitaan Perang Teluk dan harian sore paling menangguk untung. Oplah koran sore melonjak berlipat-lipat sementara berita perang di harian pagi sudah diangggap basi.

Fadli juga sempat menulis di sejumlah media remaja yang sangat terkenal pada zamannya seperti majalah HAI dan Gadis. "Baru, setelah saya kuliah tingkat dua di Universitas Indonesia saya diminta Danarto (sastrawan) menjadi redaktur di majalah sastra Horison," kata Fadli Zon dalam perbincangan dengan rilis.id, baru-baru ini.

Fadli yang kini masih menjabat sebagai redaktur Horison memang memiliki darah sastra yang kuat. Keponakan penyair Taufiq Ismail ini sampai mendirikan Rumah Budaya di tanah leluhurnya, Bukittinggi.

Jejak sastra dan budaya pentolan Teater Sastra UI juga kini sangat terasa di Kompleks Parlemen. Sejak Fadli masuk ke Senayan dan menjadi wakil ketua DPR, kegiatan budaya pun semakin semarak.

Mulai dari pameran keris, buku tua, pameran kopi, filateli, lukisan hingga pameran batu akik menjadi bagian dari kegiatan yang mengundang banyak pengunjung ke DPR. Kompleks Parlemen pun menjadi lebih semarak, humanis dan sangat dekat dengan sejumlah kalangan masyarakat.

"Gedung DPR ini gedung milik rakyat dan sangat strategis. Saya termasuk yang ingin wajah DPR ini lebih berbudaya dan diisi oleh kegiatan-kegiatan kebudayaan," kata pria kelahiran Jakarta, 1 Juni 1971 ini bercerita tentang motifnya.

Termasuk saat mengkritik penguasa pun, penulis buku Sajak Seekor Ikan dan Air Mata Buaya ini kerap mencurahkannya lewat medium puisi pamflet. Misalnya saat mengkritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat menggusur Kampung Akuarium di Jakarta Utara.

Sajak Tukang Gusur

Tukang gusur tukang gusur
Menggusur orang-orang miskin
Di kampung-kampung hunian puluhan tahun
Di pinggir dan bantaran kali Ciliwung
Di rumah-rumah nelayan Jakarta
Di dekat apartemen mewah dan mall yang gagah
Semua digusur sampai hancur

Tukang gusur tukang gusur
Melebur orang-orang miskin
Melumat mimpi-mimpi masa depan
Membunuh cita-cita dan harapan
Anak-anak kehilangan sekolah
Bapak-bapaknya dipaksa menganggur
Ibu-ibu kehabisan air mata

Tukang gusur menebar ketakutan di Ibu Kota
Gayanya pongah bagai penjajah
Caci maki kanan kiri
Mulutnya srigala penguasa
Segala kotoran muntah
Kawan-kawannya konglomerat
Centengnya oknum aparat
Menteror kehidupan rakyat

Ibu Kota katanya semakin indah
Orang-orangnya miskin digusur pindah
Gedung-gedung semakin cantik menjulang
Orang-orang miskin digusur hilang

Tukang gusur tukang gusur
Sampai kapan kau duduk di sana
Menindas kaum dhuafa

Tukang gusur tukang gusur
Suatu masa kau menerima karma
Pasti digusur oleh rakyat Jakarta

Jakarta, 19 September 2016 

Begitu juga saat mengkritik Presiden Jokowi. Setidaknya lulusan sastra Rusia UI ini sudah membuat dua puisi yang mengkritik Jokowi 'Tiga Tahun Kau Bertahta' dan 'Sajak Peluit Kartu Kuning'. 

'Sajak Peluit Kartu Kuning' dibuat Fadli sebagai respons atas aksi berani Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa yang mengacungkan kartu kuning ke hadapan Presiden Joko Widodo ketika kampus kuning tersebut berulang tahun.

Sajak Peluit Kartu Kuning

--untuk Zaadit Taqwa

seperti mulut tersumpal kain
kau tak bisa bersuara
tak ada kata terdengar
tak ada kalimat tersiar
apalagi pidato berkobar
kemana gerangan 
mahasiswa penggerak zaman

di era kematian logika
ketika dagelan jadi pemeran utama
rakyat makin menderita
biaya hidup menggila
listrik bensin gas sembako melonjak naik
Harga diri terus tercabik
utang meroket juara
busung lapar headline berita
nyawa melayang banting harga
kau seolah menutup mata
tiada suara rintihan
tiada sayup-sayup desahan
apalagi orasi perjuangan
kemana gerangan
mahasiswa penggerak zaman

tiba-tiba kau tiup peluit nyaring
tanganmu mengacung kartu kuning 
Balairung UI memecah sunyi
bergaung sampai ke pojok-pojok negeri
mengabarkan peringatan
tumpukan pelanggaran
tanpa kata-kata dan basa basi
kini kutahu dimana kau berdiri

Jakarta, 4 Februari 2018

Pemilik 55 ribu buku yang dihimpun dalam Fadli Zon Library ini juga dikenal sebagai kolektor berbagai macam benda  dari mulai barang lewas hingga benda paling mutakhir. Fadli misalnya mengoleksi ribuan keris, tombak hingga senjata kujang khas Jawa Barat.

"Hampir setiap duta besar negara sahabat sudah saya hadiahi keris," ujar alumnus London School of Economics and Political Science ini.

Fadli juga dikenal sebagai kolektor bungkus rokok, uang koin sejak zaman kesultanan, uang kertas, 13.000 piringan hitam Indonesia sejak tahun 1930-an, buku tua sejak zaman Hindia Belanda hingga foto-foto lawas dan bersejarah termasuk foto-foto Kartosoewirjo menjelang dieksekusi mati.

Setengah bercanda, Fadli juga ternyata mengoleksi sekira lima berkas pengaduan kepada kepolisian. Surat dan tanda bukti itu dia koleksi di antaranya sejumlah pengaduan tentang hoaks dan fitnah yang dialamatkan kepada dirinya dan kepada Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto.

"Laporan saya saja yang menjabat sebagai wakil ketua DPR diabaikan polisi apalagi masyarakat kecil," ujarnya jengkel. "Apakah Pak Prabowo harus jadi presiden dulu baru semua laporan itu ditindaklanjuti kepolisian," masih dengan nada marah.

Ditunggu puisinya untuk polisi, Pak Fadli!

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari