Geransi Milenial, Kunci Revolusi Industri 4.0
berita
ILUSTRAS: Istimewa.
PEMERINTAH melalui Kementerian Perindustrian telah meluncurkan *roadmap implementasi Industri 4.0 di Indonesia, yang lebih dikenal dengan "Making Indonesia 4.0". 

Airlangga Hartarto, selaku Menteri Perindustrian pun yakin, negeri ini berpotensi menjadi pemain utama dalam mengimplementasikan hal tersebut, terutama di kawasan Asia.

Potensi pasar dan talenta, kata Airlangga, menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menjadi salah satu negara berpengaruh dalam perkembangan industri di era digital ini.

"Kedua modal yang telah dimiliki Indonesia," kata Airlangga.

Ini juga yang membuat bangsa ini lebih percaya diri memasuki era perubahan di industri 4.0. Terlebih lagi, generasi milenial akan memiliki peranan penting karena mereka adalah pengguna dominan dari teknologi yang menjadi ciri khas revolusi industri keempat, yaitu internet.

Ketua Umum Partai Golar itu menyebutkan, ada sekira 143 juta orang di Indonesia yang saat ini menggunakan internet. Mereka rata-rata adalah generasi millenial di kisaran usia 19-34 tahun.

Para generasi muda itu menurutnya adalah juga talenta yang dimiliki Indonesia saat ini.

Airlangga bilang, untuk menuju industri 4.0 sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek teknologi. 

Pasalnya, penguasaan teknologi bisa menjadi kunci utama untuk menentukan daya saing Indonesia di era industri 4.0. Selain itu, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas SDM-nya.

"Jika tidak, akan digilas oleh negara negara lain yang lebih siap," tambah dia.

Dia juga yakin, implementasi Industri 4.0 dapat mempercepat target visi Indonesia emas 2045.

"Saat ini, Indonesia telah masuk one trillion dollar club," ungkapnya.

Airlangga menjelaskan, dalam 15 tahun terakhir, perbaikan ekonomi bisa terlihat dari empat aspek. Yakni, meningkatnya populasi tenaga kerja lebih dari 30 juta yang diiringi dengan naiknya gaji sebesar dua kali lipat. 

Kemudian, pertumbuhan konsumsi juga meningkat delapan kali lipat, di mana saat ini menyumbangkan 55 persen dari PDB.

"Ketiga, aspek investasi kita pun luar biasa peningkatannya, naik 13 kali lipat, yang juga mengalami peningkatan terhadap penyumbangan ke PDB dari 22 persen menjadi 34 persen. Terakhir, kita lihat dari kapitalisasi pasar bursa meningkat 15 kali lipat, kini kapitalisasinya mencapai USD500 miliar," jelasnya.

Airlangga berharap, stabilitas politik dan keamanan tetap terjaga untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif. 

Dirinya yakin, implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari 5 persen menjadi 6-7 persen pada periode tahun 2018-2030.

Selain kenaikan produktivitas, Making Indonesia 4.0 juga menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar.

"Dalam mencapai target tersebut, industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saingnya," tegasnya.

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengharapkan revolusi industri 4.0 yang baru dicanangkan pemerintah bisa mendukung momentum peningkatan ekspor yang saat ini sedang tumbuh positif.

"Revolusi Industri 4.0 itu pada dasarnya dengan dukungan insentif, termasuk mendorong investasi dan ekspor," kata Darmin.

Darmin mengatakan, pertumbuhan ekspor tersebut sangat penting karena negara-negara tetangga juga mulai mendorong ekspor untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Hal itu seiring dengan meningkatnya permintaan di tingkat global.

Untuk itu, lanjut Darmin, pemerintah berupaya mendorong pengembangan industri dengan memanfaatkan teknologi artifisial melalui pemberian insentif perpajakan seperti tax holiday maupun insentif pajak lainnya, termasuk kemudahan dalam berinvestasi.

"Dukungan insentif fiskal, perizinan dan pendidikan vokasi, kita anggap sebagai kombinasi yang baik dan cukup," ungkap Darmin.

Dukungan lintas kementerian menjadi salah satu syarat untuk bisa memuluskan Making Indonesia 4.0 tersebut.

Salah satunya juga dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang fokus untuk menyiapkan infrastruktur jaringan 5G dalam menghadapi revolusi industri yang berbasis digitalisasi tersebut.

"Yang ditangani Kominfo untuk memanfaatkan perubahan atau dinamika industri 4.0 ,kami fokus ke infrastruktur khususnya kapan kita masuk ke 5G," kata Menkominfo Rudiantara.

Rudiantara sendiri mengaku, saat ini jaringan 5G belum bisa digunakan untuk konsumen individu karena harganya mahal. Yakni bisa lima hingga enam kali lipat untuk menunjang kecepatan 100 kali lipat. Sehingga, selama ini jaringan 5G memang dikhususkan untuk industri.

Dia bilang, Kemenkominfo akan mengeluarkan kebijakan alokasi frekuensi 5G pada tahun ini. Namun, uji coba di kawasan industri tertentu baru bisa dilakukan pada 5G.

"Saya usulkan 2020 lah uji coba. Jepang 5G 2020 untuk konsumer, karena ada olimpiade," paparnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari