Gula Lampung Tak Selamanya Manis?
berita
ILUSTRASI: Hafiz
HASIL survei yang dirilis lembaga pengepul suara Charta Politika masih menempatkan calon gubernur Arinal Djunaidi di level tiga. Masih jauh untuk menandingi calon petahana Rido Ficardo yang unggul dengan suara 27,1 persen.

Tentu, suara itu bukan jaminan. Masih mungkin terjadi kejutan pada pertarungan sesungguhnya. Apalagi berdasarkan survei top mind, partisipan yang tidak atau belum berpendapat masih sebesar 35,0 persen. Masih sangat besar dan tinggal siapa calon gubernur yang bisa menggoyang 'iman' warga Lampung.

Bagi yang kreatif mungkin tim kampanye melakukan cara-cara persuasif dan edukatif untuk menggoyahkan pilihan. Tetapi bisa juga digunakan jalan pintas yang penting banyak pulus. Misalnya dengan bagi-bagi kebutuhan pokok atau seperti kasus pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim yang dituding membagikan sarung dan jilbab bergambar dirinya.

Bila sumber pembiyaan barang itu dari uang sendiri mungkin tidak bermasalah. Cuma, banyak calon yang menggunakan dana pihak ketiga alias bohir. Publik pun menduga, Arinal dalam pencalonannya disokong dan dibiayai korporasi berskala nasional yang memiliki pabrik di Lampung, Sugar Group Companies (SGC).

Purwanti Lee disebut-sebut menggelontorkan dana sampai Rp31 miliar untuk pasangan Arinal-Nuniek. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Lampung seperti ditulis koransatu.com, masih menunggu laporan bersama bukti awal untuk menelusuri terkait adanya kabar Lee Purwanti terindikasi menggelontorkan dana sangat besar.

Disebut-sebut dana tersebut digunakan untuk membeli 900 ribu kain sarung dan 650 ribu kerudung untuk dibagikan ke masyarakat Lampung yang belakangan ditangkap warga di tengah jalan. Kasus tersebut kini masih ditangani Polres Lampung Tengah.

Namun menurut sumber rilis.id, pihak Arinal-Nuniek justru mempermasalahkan penghadangan dan penangkapan truk yang mengangkut sarung dan jilbab bergambar pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu sebagai pembajakan atau perampokan. Polres Lampung Tengah dikabarkan masih menangani kasus tersebut.

Terkait pilgub, 'kerja sama' Arinal dengan Purwanti Lee bisa di-tracking setidaknya dari awal pencalonan. Kabarnya untuk mendapat dukungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pun, mantan Kepala Dinas Pertanian dan Sekda Provinsi Lampung tersebut sudah melibatkan Purwati Lee.

Akademisi Universitas Lampung Yusdianto pernah mengatakan Purwanti Lee terlibat dalam komunikasi politik untuk mendapatkan rekomendasi dari partai-partai pengusung.

“Jika seperti ini, artinya pemimpin itu lahir bukan dari rakyat tetapi kemauan dari perusahaan,” kata Yusdianto.

Menyikapi hal itu, Yusdianto mengajak warga Lampung tidak memilih pemimpin yang dibekingi perusahaan untuk menjadi orang nomor satu di Bumi Ruwa Jurai. Selain merusak sistem demokrasi, juga pemimpin seperti itu dikhawatirkan malah akan menjadi kepanjangan tangan pengusaha.

"Jadi orang tersebut tidak patut untuk dipilih," kata Yusdianto.

Arkian, kita tinggal tunggu saja apakah kerja sama Purwanti Lee dengan pasangan Arinal-Nuniek akan berbuah manis? Jangan-jangan di akhir Pilgub Lampung, gula lampung malah kecut, asam atau mungkin pahit.

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari