Harga Rasional Vs Rantai Distribusi Pangan
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
RANTAI distribusi pangan yang panjang, disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kenaikan harga. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan kerap kali menyebut, meretas dan memperpendek rantai pasokan bukan perkara mudah. Karena, rantai distribusi sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. 

Menurutnya, ada delapan titik rantai distribusi pangan. Mulai dari petani, pengepul kecil, pengepul besar, hingga sampai di tangan konsumen. Sejak 2016 pemerintah berupaya memperpendek rantai distribusi pangan menjadi empat titik. Upaya ini diharapkan bisa memangkas ongkos distribusi dan berdampak pada kestabilan harga.

Hingga saat ini berbagai pihak telah dilibatkan dalam memperlancar rantai distribusi pangan. Badan Urusan Logistik (Bulog) misalkan, bertugas menyerap gabah dari petani langsung dan membantu mendistribusikannya kepada pedagang pasar. Kementerian Pertanian, membuka Toko Tani Indonesia (TTI) yang menjual bahan kebutuhan pokok langsung dari petani ke konsumen. Bahkan dengan harga murah. Sedangkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan kepolisian, melalui Satgas Pangan bertugas melakukan pengawasan. Karena, tidak menutup kemungkinan ada oknum yang sengaja memainkan stok, distribusi dan harga kebutuhan pokok.

Di Ramadan tahun ini, Amran menjamin stok bahan pangan akan terjaga, otomatis harga pun seharusnya stabil. Dalam laporannya kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu yang lalu, dia menjamin stok aman hingga tiga bulan ke depan. Kolaborasi antara berbagai instansi, penjagaan rantai distribusi dan stok yang cukup akan menjamin stabilitas harga.

"Kami telah bertemu dengan asosiasi pedagang ayam, pedagang telur, pengusaha beras, serta pedagang daging. Dari pertemuan itu, disepakati tidak ada kenaikan harga. Karena stok lebih dari cukup. Persiapan sekitar dua hingga tiga bulan sebelum Ramadan," ungkapnya dikutip dari Kompas.com.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Dito Ganinduto pun memastikan harga pangan tetap terjangkau masyarakat, begitu pun dengan harga dari produsen ke petani. Hal ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Deputi BUMN bidang Pangan, Kepala Bulog, dan PTPN di ruang rapat Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

"Saya menilai yang terpenting sekarang adalah menjaga harga beras ke konsumen bagus, begitu juga dengan harga dari petani ke produsen bagus. Sehingga petani juga bisa tumbuh dengan baik," ujar Dito.

Berdasarkan data yang disajikan oleh infopangan.jakarta.go.id pada Jumat (25/5/2018) harga naik tipis dan dikategorikan cukup stabil. Harga beras misalkan, untuk IR 64 Rp11.740 per kilogram dan naik Rp34 per kilogram dibandingkan kemarin. IR64 Ramos Rp10.737 per kilogram atau naik Rp16 per kilogram dibandingkan kemarin. Sedangkan minyak goreng curah Rp12.395 per kilogram dalam keadaan stabil. Cabai merah keriting Rp35.720 per kilogram turun Rp325 per kilogram, cabai rawit merah Rp26.209 per kilogram turun Rp1.325 per kilogram. Cabai rawit hijau Rp33.418 per kilogram atau turun Rp651 per kilogram. Bawang merah Rp37.767 per kilogram turun Rp418 per kilogram. Bawang putih Rp31.767 per kilogram, turun Rp465 per kilogram. Ayam broiler Rp36.175 per ekor dan telur ayam ras Rp25.639 per kilogram.

Pergantian Pemain, Era Baru Bulog

Penjagaan harga dan pengawasan rantai distribusi pangan terus berlanjut, selain Satgas Pangan, Badan Urusan Logistik (Bulog) pun berganti pemain. Direktur utama Bulog Djarot Kusumayakti digantikan oleh Komisaris Jenderal  (Purn) Budi Waseso. Hal ini disahkan dalam surat resmi Menteri BUMN Nomor: SK- 115/MBU/04/2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Umum (Perum) BULOG ditetapkan sebagai berikut; Memberhentikan dengan hormat Djarot Kusumayakti dan mengangkat Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso sebagai Direktur Utama. Memberhentikan Pardiman dan mengangkat Triyana sebagai Direktur Keuangan.

Adapun Direksi yang tidak mengalami perubahan yaitu Karyawan Gunarso sebagai Direktur Operasional dan Pelayanan Publik, Imam Subowo sebagai Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri, Tri Wahyudi Saleh sebagai Direktur Komersil, Febriyanto sebagai Direktur SDM & Umum dan Andrianto Wahyu Adi sebagai Direktur Pengadaan.

Dikutip dari katadata.com Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mulai beraksi soal pemberantasan 'pemain' di rantai distribusi pangan, salah satunya beras. Dia mewaspadai peran mafia beras dalam pengadaan rantai pasok komoditas pangan. Guna meminimalisir peran mafia, sejumlah langkah antisipatif pun dilakukan seperti memotong rantai pasok perdagangan beras hingga melakukan penyerapan gabah langsung dari petani untuk menghindari penimbunan pasokan.

Bulog bahkan, bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, Gabungan Kelompok Petani, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat untuk penyerapan gabah petani. “Kami tidak main-main, sekarang antisipasinya adalah penimbun yang menahan stok, itu jadi permasalahan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menyebut, naiknya Komisaris Jenderal  (Purn) Budi Waseso menjadi Dirut BULOG membawa harapan baru bagi perusahaan plat merah itu.

"Wow, bagus, Pak Buwas dapat menjadi harapan baru untuk stabilitas pangan nasional," ujar Mansuri.

Mansuri menyebut, Buwas bisa diharapkan untuk mengisi ruang kosong yang selama ini tidak banyak diperankan oleh Dirut-dirut Bulog sebelumnya. Menurutnya, Buwas memiliki ketegasan dan penguasaan jaringan pemain pangan yang melama ini menggangu stabilitas harga dan stok.

"Sehingga Bulog tidak hanya berorientasi pada keuntungan dari segi bisnis saja. Namun juga turut serta secara aktif dalam menjaga dan memperkuat ketahanan pangan nasional," jelasnya.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari