berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dandy Setiawan.
BERMULA dari "drama" di Mako Brimob Kelapa Dua Depok belum lama ini. Rentetannya adalah teror bom beruntun di Surabaya dan Sidoarjo. Gerakan sporadis ini dinilai sebagai kode solidaritas kelompok garis keras tersebut.

Ya, lebih dari 36 jam sejak Selasa, 8 Mei hingga Kamis, 10 Mei pagi barulah rampung urusan di sana. Kondisinya mencekam ketika itu. Lima anggota polisi dan satu orang narapidana tewas pada kerusuhan tersebut.

Karo Penmas Polri, Brigjen M Iqbal, mengatakan kalau penyebab insiden itu adalah masalah makanan. Tapi, belakangan ini beredar rekaman percakapan antara Aman Abdurrahman dan Alexander Rumatrey alias Abu Qutaibah.

Dari sana, barulah ketahuan ada versi cerita lain, mengapa narapidana teroris ini melakukan pemberontakan di markas kepolisian kawasan Depok.

Melansir Kompas Online, pemicunya saat tahanan kasus terorisme kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Wawan Kurniawan alias Abu Afif, tengah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Pihak keluarga yang membesuk membawakan makanan untuk Wawan, namun anggota kepolisian yang mengawal, melarang pemberian makanan tersebut. Sebab, dikhawatirkan ada barang selundupan, meski lewat makanan.

Dari sanalah dugaan provokasi bermula. Wawan pun bercerita kepada para narapidana teroris lainnya di rumah tahanan Mako Brimob.

Wawan sendiri adalah pimpinan JAD Pekanbaru, Riau. Melansir Tirto, diceritakan bahwa 34 narapidana di sel tahanan blok C, kemudian mengamuk. Diikuti para narapidana di blok lainnya, berujung perusakan sel.

Kalau menurut pihak kepolisian, mereka menyandera sejumlah polisi, yang mana akhirnya berujung tragis. Korban mengalami penganiayaan benda tajam, bahkan di sekujur tubuh terdapat luka sayatan hingga bacokan.

Tapi, berbeda versi narapidana teroris. Kericuhan tersebut dikarenakan adanya seorang narapidana yang ditembak pihak polisi, yakni Abu Afif.

"Mungkin ini reaksi balik, karena ikhwan kita ada yang tertembak," kata Alexander Rumatrey alias Abu Qutaibah dalam transkip rekaman.

Rekaman tersebut berdurasi 11 menit 35 detik. Bukan cuma soal makanan, para narapidana, menurut Abu Qutaibah, sudah telanjur kesal dengan kelakukan anggota polisi di sana, sampai-sampai dianggap melecehkan istri-istri mereka.

"Akhwat (istri) kami ditelanjangi," ujarnya memberikan penjelasan soal prosedur besuk keluarga narapidana teroris ini.

Mirisnya, sudah pakai celana dalam pun, mereka (istri) disuruh loncat jongkok. Maksudnya, kalau ada barang terlarang yang disimpan, akan jatuh. Inilah yang dianggap tak manusiawi. Jadi, rasa kesalnya sudah akumulasi.

Penjelasan Abu Qutaibah ini menjawab permintaan dari Aman Abdurrahman, seorang yang dianggap punya pengaruh kuat dalam jejaring Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia. Intinya, ia menyarankan "menyerah".

"Untuk malam ini agar meredam dulu," kata Aman Abdurrahman.

"Karena, untuk masalah urusan dunia tidak pantas terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kecuali masalah prinsipil yang tidak bisa ditolerir," tambah dia.

Para tahanan akhirnya menyerahkan diri sebelum subuh. Namun, belum pasti, apakah ini karena arahan dari Aman atau faktor lainnya. Pastinya, Wakapolri, Komjen Pol Syafruddin, tegas menyatakan tak ada negosiasi di sana.

Tak selesai di sana, setelah 145 tahanan menyerahkan diri dan diangkut ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, aksi teror kembali terjadi. Kali ini digawangi dua orang perempuan muda yang diduga berniat balas dendam ke kepolisian.

Adalah SNA (22) dan DSM (18). Gadis-gadis belia ini hendak melakukan aksi di Mako Brimob, namun berhasil digagalkan kepolisian pada Sabtu, 12 Mei lalu.

Balada terorisme ini tak selesai di situ. Terjadi lagi aksi bom bunuh diri satu keluarga di tiga gereja kawasan Surabaya, ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, dan bom di pintu gerbang Mapolresta Surabaya.

"Ini imbas dari kejadian yang ada di Jakarta," kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin seperti dilansir Viva, kemarin.

Ia mengakui, memang sudah ada semacam fatwa dari pimpinan kelompok teroris di Indonesia agar siap melangsungkan aksi dalam waktu dekat. Ini dibuktikan dengan penangkapan terduga teroris pasca-insiden Mako Brimob.

Setelah rentetan "drama" panjang ini, barulah pemerintah dan DPR buru-buru mengulas lagi Rancangan Undang-Undang Terorisme, yang belakangan ini sempat tak terurus. Lalu, bakalan serius kah kali ini?

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari