berita
Foto yang menjadi penanda tunduknya Presidenn Soeharto kepada IMF. FOTO: Istimewa
KEDATANGAN Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Chirstine Lagarde ke Jakarta--sempat mampir ke Pasar Tanahabang--menebar pujian tentang kondisi ekonomi di bawah Pemerintahan Jokowi. Wow, Lagarde memuji perekenomian rezim Jokowi dalam kondisi baik dan siap menghadapi krisis.

Tapi sejumlah kalangan tidak terlalu senang dengan ucapan yang berbunga-bunga tersebut. Ya, sebagian warga Indonesia yang masih waras alias tidak terjangkit amnesia sejarah, tentu masih trauma.

Pujian, bagi masyarakat Indonesia yang merasakan pahitnya krisis ekonomi pada tahun 1997/1998 yang berujung pada kejatuhan Presiden Soeharto, ibarat racun tiada penawar. Tapi untungnya Indonesia masih punya B.J. Habibie yang berkuasa tak lebih dari setahun dapat menurunkan nilai rupiah yang telanjur liar hingga Rp17.000 per dolar menjadi Rp6.500 per dolar.

Masyarakat Indonesia masih antipati kepada IMF. Dewa Penyelamat ini belakangan malah menjadi penyebab perekonomian Indonesia ambruk dan sangat sulit kembali untuk bangkit dari keterpurukan. Resep IMF bukannya menyembuhkan tetapi malah terjadi malapraktik kebijakan. 

Sejumlah industri strategis milik bangsa Indonesia yang dibangun susah payah seperti Indosat dan PT Dirgantara Indonesia diamputasi bahkan lebih tragis, disuntik mati. Indosat sudah kadung milik asing dan PT DI yang sekarang kembali bernama PT Nurtanio tergopoh-gopoh untuk kembali menjadi pusat industri dirgantara yang menjadi kebanggann nasional.

Puncak keangkuhan IMF yang paling fenomenal ditunjukkan sebuah foto ketika Presiden Soeharto yang tengah meneken LoI (Letter of Intent) disaksikan Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus sambil kedua tangannya bersidekap di dada pada 15 Januari 1998. Foto ini ditafsirkan betapa pongahnya IMF saat itu.

Belakangan, pihak IMF menolak 'tafsir liar' itu. Mereka membantah Camdessus bersikap pongah. Camdessus disebutkan saat itu terpaksa berdiri lantaran sedianya ada dua kursi namun protokoler hanya menyediakan satu kursi.

Namun, klarifikasi itu terbantahkan dengan pengakuan Camdessus sendiri saat diwawancara The New York Times menjelang lengser dari IMF. Camdessus yang bekas serdadu Prancis itu mengakui lembaga keuangan yang sahamnya dimiliki negara-negara maju itu di balik krisis ekonomi Indonesia.

"Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun," kata Camdessus seperti disitat dari Antara, Mei 2008.

Tentu, Indonesia, pemerintah atau bangsa ini bukan keledai yang doyan terporosok dalam kesalahan yang sama. Pujian IMF kepada Presiden Jokowi jangan terlalu mudah diterima sebagai madu. Jangan-jangan itu racun atau musang berbulu domba. 

Jangan sampai Presiden Jokowi kembali terjerat utang dan mengulang kisah tragis Soeharto. Bila Jokowi dua periode nanti malah menjadi beban sendiri dan bila satu periode tentu menjadi beban presiden berikutnya.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari