Indonesia Sambut Revolusi Industri 4.0
berita
ILUSTRAS: Istimewa.
DIA berdiri di depan sebuah mesin pembuat kopi otomatis. Sebuah gelas berbahan sterofoam diletakkannya. Matanya mengarahkan telunjuk ke menu pilihan, tertulis Black Coffee, Cappucino, Mochacino dan entah apalagi namanya. 

Sebuah tombol ia tekan, lalu keluar lah kopi seduh siap saji dari corong air. Gelasnya terisi nyaris penuh. Sedikit ia seruput sambil menahan panas di bibir, karena takut kopinya tumpah.

"Masih enakan racikan orang," kata dia memberi komentar.

Adalah Fitri (28), perempuan berkerudung pink, yang tiba-tiba saja mengajak saya keluar untuk ngopi. Katanya, lagi suntuk. Terlampau banyak pekerjaannya baru-baru ini, pengin santai sedikit, sebelum lembur nanti malam.

Tapi, bukannya cerita ngalor-ngidul soal pekerjaan, perempuan dengan kacamata itu, justru cerita banyak soal kopi. Ya, saya tahu, ia punya kegemaran tersendiri dengan minuman satu itu.

"Kopi itu, takarannya harus pas," ujarnya.

Kalau mesin yang bikin, pedomannya itu adalah sistem, program dan apalah itu. Cuma, kalau manusia, dia pakai rasa. Itulah yang enggak dipunyai mesin pembuat kopi instan.

Saya cuma tersenyum meladeni celotehan wanita satu itu. Agak sepaham sih, saya juga meledek sebuah kopi kemasan kaleng yang rasanya agak manis. Hampir hilang kadar pahitnya.

"Sebuah dikerjakan oleh mesin yah, saya jadi ingat soal revolusi industri," kata saya.

"Itu pelajaran sekolah dulu," balas dia.

Tapi, enggak juga. Karena, Indonesia baru-baru ini lagi menggaungkan yang namanya Revolusi Industri 4.0. Istilah itu dipakai Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, di Jakarta pada awal-awal Maret lalu. Lantas, apa maksudnya itu? 

Istilah "Industrie 4.0" berasal dari proyek strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Singkatnya, adalah integrasi industri dan teknologi online.
 
Terus, apa dampaknya?

Dalam laporan McKinsey Global Institute pada 2017 disebutkan, revolusi industri 4.0 membuat 800 juta lapangan pekerjaan akan hilang, hingga 2030 karena tenaga manusia digantikan mesin.

Namun, Presiden RI, Joko Widodo, membantah prediksi tersebut. "Kalau yang pesimis-pesimis itu saya enggak percaya atau paling enggak rada enggak percaya," kata Jokowi.

Presiden percaya revolusi Industri 4.0 justru akan melahirkan jauh lebih banyak lapangan kerja baru daripada jumlah lapangan kerja yang hilang. Bagi dia, ini adalah sebuah peluang.

"Ya, kalau kita mempersiapkannya, merencanakan dan bisa mengantisipasi ini," ujar dia.

Untuk itu, Presiden Jokowi sangat mengapresiasi Kementerian Perindustrian yang dengan sangat sigap dan serius mempersiapkan roadmap implementasi Industri 4.0 di Indonesia, yang nantinya akan lebih dikenal dengan "Making Indonesia 4.0".

Menteri Airlangga Hartarto memang sempat bilang bahwa harus ada upaya mengoptimalkan bonus demografi di Indonesia. Industri dan bisnis berbasis digital kelak akan dikuasai anak-anak muda, mereka lah yang punya ide brilian.

"Sejumlah perusahaan start-up kini bermunculan dengan serapan tenaga kerja yang cukup tinggi," kata Airlangga seperti dilansir Investor Daily.

Disebutkan juga bahwa revolusi industri ini berdampak pada peningkatan efisiensi produksi, karena menggunakan teknologi digital dan otomatisasi.

Selain itu, akan terjadi juga perubahan komposisi lapangan kerja. Kebutuhan tenaga kerja baru bakal tumbuh pesat, namun yang lama, bisa juga tergantikan oleh mesin.

Andreas Hassim, selaku praktisi dan pengamat perbankan, dalam tulisannya pada Investor Daily, juga menyebutkan bahwa pengaruh dari revolusi industri adalah naiknya perekonomian secara dramatis. 

"Dan, naiknya peningkatan rata-rata pendapatan per kapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat," ujarnya.

Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). 

Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lainnya, yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga, adalah era teknologi digital serta internet.

Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, ia akui akan ada pola baru ketika disrupsi teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat. Ini bisa mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent.

"Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa," ujar dia.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, mengatakan perlu ada proses transisi yang jelas sebelum pemerintah mengimplementasikan industri-industri ke dalam Making Indonesia 4.0. 

Tercatat, ada lima industri yang jadi fokus pemerintah, antara lain makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.

"Kalau dilakukan secara drastis bakal menimbulkan dampak signifikan terhadap industri dan lapangan pekerjaan," ujar Faisal.

"Jadi, kalau mau nerapin itu, harus jelas bagaimana tahapannya. Jangan sampai ada penurunan drastis, serta diperhitungkan bagaimana kompensasinya," ungkapnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari