Ini 'Pentolan' Poros Ketiga di Pilpres
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
AWAL ceritanya pada 8 Maret lalu. Celotehan soal pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang buntu pada figur Jokowi dan Prabowo, mulai berubah haluan. Entah sekadar cari sensasi atau memang bagian dari strategi politik, Demokrat coba memetakan jalan alternatif.

Waktu itu, Sekjen Demokrat, Hinca Panjaitan bertemu dengan Wasekjen PKB, Lukmanul Hakim, Wakil Bendahara Umum PKB, Rasta Wiguna serta Sekjen PAN, Edy Soeparno di bilangan Jakarta. Ketiganya membuka komunikasi untuk agenda politik tahun depan.

"Membahas perkembangan yang ada sambil ngobrol ringan saja, sambil ngopi, termasuk membahas gagasan poros tengah itu, poros ketiga," kata Hinca kepada wartawan.

Meski baru sekadar wacana, cuma kayaknya tiga partai politik (parpol) ini serius menggagas calon sendiri. Buktinya, baik Demokrat, PKB dan PAN sama-sama pantau medan atas pilihan sekarang, entah itu kubu Jokowi atau Prabowo.

Belum lagi, gelagat-gelagat putra sulung Presiden ke-5 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2018 Partai Demokrat di Sentul, 12 Maret kemarin.

"Izinkan saya menjawab pertanyaan masyarakat tentang langkah saya ke depan. Seperti berkali-kali saya sampaikan tentang kesiapan dan kesempatan, saya siap memperjuangkan kesempatan saya untuk memberi kontribusi terbaik buat NKRI," kata AHY saat berpidato.

Nah, ini kode keras. Di satu sisi, ia memberi sinyal kepada kubu-kubu koalisi. Sisi lain, bisa jadi ini instruksi menggalang kekuatan baru. Benar enggak seperti itu? Pastinya pidato AHY menimbulkan banyak tafsir.

Arahnya sih, Demokrat bisa jadi lokomotif untuk membentuk poros ketiga, bersama PKB dan PAN. Apalagi, manuver-manuver politik partai besutan SBY belakangan ini. Safari ke sejumlah kalangan elite, kian masif dilakukan. Ya, misalnya apa yang dilakukan Hinca kemarin itu.

Cuma, siapa saja yang akan jadi tokoh kuncinya? Ini yang memang masih belum jelas.

Yang pasti, nama AHY sudah muncul sejak setahun lalu, pas kompetisi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Mantan mayor TNI AD ini disebut-sebut sebagai tokoh yang fresh dan mewakili generasi kekinian. Tapi, rekam jejak pemuda satu ini, memang belum pas, sih.

Cuma, satu keunggulan AHY, dia adalah tokoh muda yang dapat mewakili kaum milenial. Tentu, kehadirannya di pilpres nanti, akan jadi antitesis figur-figur kawakan, tapi oldschool. Meski, bagaimanapun kayaknya tetap susah.

"Apalagi, harus berhadapan dengan petahana (Jokowi)," kata pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Bandung, Firman Manan.

Hanya saja, menurut Firman, AHY punya potensi didorong sebagai cawapres, termasuk kalau poros ketiga terwujud nih. Pertimbangannya, popularitas AHY lagi terus meningkat. Terus, kalau anak SBY ini cuma jadi RI2, siapa RI1?

Kalau menoleh ke PKB, rupanya agak-agak garing juga. Sebab, Cak Imin (Muhaimin Iskandar) belum cukup PeDe (percaya diri) dengan kapasitasnya. Baliho yang terpampang di jalan-jalan, mendeklarasikan diri sebagai calon wakil Presiden 2019.

Pengamat politik dari Universitas Gajah Mada (UGM), Mada Sukmajati menilai, pencalonan Cak Imin sebagai cawapres memang strategis, karena sosok representasi dari NU. Tidak hanya itu, mungkin juga kekuatan Islam moderat.

"Saya kira itu yang nanti akan menjadi keunggulan Cak Imin," ujar Mada.

Sayangnya, PKB saat ini belum menentukan arah koalisi, apakah ke Prabowo atau Jokowi. Atau memang ke poros baru bersama Demokrat dan PAN?

"Ini akan diputuskan pada bulan Juni 2018," kata Wasekjen PKB Daniel Johan.

Kenapa? Karena, kalau kata Daniel, PKB lagi menghitung dan mempertimbangkan segala kemungkinan serta peluang koalisi. Partai yang lahir dari kalangan Nahdiyin ini, juga masih mendengarkan berbagai masukan para tokoh, termasuk dari para kiai.

Selain AHY dan Cak Imin, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga menjadi tokoh kunci bila poros ketiga terwujud. Meski lebih "adem" dibandingkan AHY dan Cak Imin dalam bermanuver, namun Zulhas, sapaan akrabnya, sangat diperhitungkan loh. Apalagi doi ketua MPR.

Ketum PAN ini woles membuka diri bila Demokrat dan PKB serius membentuk poros ketiga. Meski tak mudah, namun segala kemungkinan menurutnya masih bisa terjadi.

"Walaupun secara rasional dua poros," ungkap Zulhas.

Yang menjadi menarik, kalau PKB basisnya adalah NU. PAN ini identik dengan Muhammadiyah. Dua kekuatan ormas muslim besar ini, bisa saja bersatu dalam satu wadah. Yakni, partai poros Islam. Demokrat yang mewakili kelompok nasionalisnya, kan?

Lalu, apakah poros Islam ini bisa terwujud? Bagaimana figur baru ini nantinya bisa mengimbangi "orang-orang" kuat di Pilpres nanti?

Tulisan 1: Eits, Pilpres Tiga Poros nih?
Tulisan 2: Ini 'Pentolan' Poros Ketiga di Pilpres
Tulisan 3: Selamat Datang Presiden 'Baru'
Tulisan 4: Jadikan Tiga Poros? Komitmen dong...
Tulisan 5: Poros Baru Optimis Terwujud

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari