Ini Sosok Jurnalis Gaek yang Berani Kritik Jokowi Pembohong yang Baik
berita
Presiden Jokowi dikritik wartawan senior John McBeth. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
RILIS.ID, Jakarta— Awalnya lantaran media daring Asia Times. Berani-beraninya pula menulis judul berita Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths pada 23 Januari 2018.

Kira-kira smoke and mirrors diartikan, meyakinkan publik bahwa berbagai urusan telah berjalan sukses padahal sejatinya jauh panggang dari api.

Siapa jurnalis asing yang begitu songong kepada sosok yang begitu dipuja di Tanah Air? Tidak takut kuwalat? Rupanya jurnalis sepuh John McBeth memang pewarta dan analis segala urusan di Asia ini bukan wartawan kemarin sore. 

John McBeth, penulis kelahiran Selandia Baru, telah menghabiskan 44 tahun karier jurnalistik di Bangkok Post dan kemudian sebagai reporter lepas untuk Bangkokwe, London Daily Telegraph dan United Press International.

Jurnalis berusia 73 tahun ini bergabung dengan Far Eastern Economic Review pada tahun 1979 dan selama 25 tahun menjabat sebagai kepala biro majalah di Bangkok, Seoul, Manila dan Jakarta.

Baca: Media Internasional Soroti Pencitraan Jokowi

Ketika Review bangkrut pada tahun 2004, dia dipekerjakan sebagai kolumnis kontrak untuk Straits Times dan kebanyakan menulis tentang urusan Indonesia. Pada usia senja itu, dia tetap menjadi salah satu koresponden asing tertua di wilayah ini.

Bukan hanya Jokowi yang dikritik McBeth, Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat mendapat kritikan pedas lewat bukunya The Loner President Yudhoyono's Dekade of Trial and Indecision.

Buku ini menceritakan tentang masa kekuasaan sepuluh tahun SBY. Menjelaskan secara rinci banyak tantangan yang dihadapi Presiden SBY dan mengapa Indonesia masih berjuang dengan masa lalunya.

Buku berisi tinjauan komprehensif tentang kepemimpinan Presiden SBY memiliki kapasitas mumpuni tetapi gagal memenuhi janjinya. Mengulas tentang Indonesia yang pernah mengalami krisis keuangan 1997-1998 dan banyak peluang terlewatkan yang menyertai booming komoditas tahun 2004-2012. Dalam buku juga dicatat, SBY sebagai presiden pertama yang terpilih secara langsung di Indonesia.

Buku mengulas sangat lengkap perjalanan SBY dalam memimpin negara besar seperti Indonesia yang sangat kompleks dari bencana alam dan subsidi bahan bakar hingga terorisme, korupsi, nasionalisme, sumber daya dan skandal bank yang bagi banyak orang menandai sebuah perubahan yang berarti. 

Kini, McBeth pun tak segan menguliti sisi negatif pemerintahan Jokowi seperti megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditaksir menghabiskan duit sebesar Rp70 triliun. Proyek yang banyak dimodali enam perusahaan asal China itu dipandang sebagai proyek ambisius Jokowi untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. 

Namun, hingga saat ini proyek tersebut terkendala pembebasan lahan yang seharusnya beres sebelum Jokowi meletakkan batu pertama (groundbreaking) pada 26 Januari 2016, tiga tahun lalu.

Proyek pembangkit listrik di Batang juga disoroti McBeth. Proyek yang disokong investasi senilai US$4 miliar dari Jepang itu juga mengalami kendala yang sama, pembebasan lahan.

Selain itu, perubahan skema pengembangan dari offshore menjadi onshore dalam proyek LNG Blok Masela juga menjadi sorotan. Minimnya infrastruktur untuk pengolahan offshore disebut sebagai kendala yang menyebabkan proyek ini tak berjalan mulus.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari