Inilah Episode Pembunuhan Ulama di Indonesia
berita
Pemuda Rakyat sangat kejam membantai kiai da santri. FOTO: Ist
Oleh Dr. Asep Achmad Hidayat
Dosen Sejarah Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

BERITA di medsos begitu ramai tentang penganiayaa terhadap ulama, terutama setelah peristiwa Ajengan Santiong di Cicalengka, Kabupaten Bandung dan terbunuhnya  Ustad Prawoto, Komandan Brigade Persis, satu bulan lalu. Sebenarnya pembunuhan terhadap ulama bukan hal yang baru dalam sejarah negeri ini. Jika diruntut secara historis terdapat beberapa episode sejarah pembunuhan terhadap ulama.

Episode Amangkurat I



Amangkurat I, merupakan raja Islam Mataram, anak Sultan Agung. Sejarawan Merle C. Ricklefs, menggambarkan Amangkurat I sebagai raja brutal tanpa sedikit pun keberhasilan atau kreativitas.

Dalam Serat Jaya Baya, Amangkurat I dilukiskan dengan "Kalpasru semune kenaka  putung", yaitu masa kelaliman yang diibaratkan dengan kuku yang putus.

Dikisahkan, Amangkurat I menghabiskan malam di Pendopo Kraton Plered sembari berpikir keras cara balas dendam terhadap mereka yang mbalelo. Dua hari sebelumnya Pangeran Alit, adiknya sendiri menyerang kraton dan mendongkelnya dari istana.

Pangeran Alit terbunuh, tapi ia tetap dendam membara, bagaimana caranya membalas terhadap kelompok yang mendukung pemberontakan Pangeran Alit. Ia memerintahkan kepada 4 orang pembesar kraton: Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Ngabehi Wirapatra untuk menyebar ke seluruh penjuru mata angin.

Seperti diungkapkan H.J. de Graaf dalam De Regering van Sunan Mangkurat-1 Tegal-Wangi, vorts van Mataram, 1646-1677, (1961), Raja berpesan agar jangan seorang pun dari pemuka agama dalam seluruh yuridiksi Mataram luput dari pembunuhan (hlm.38). Hari itu, di bawah terik matahari, 1648 M, sekitar 6.000 ulama dan keluarga mereka dibantai dengan keji dalam waktu tidak lebih dari 30 menit. Setelah terdengar bunyi tembakan meriam, 5.000 sampai 6.000 nyawa melayang.

Episode Peristiwa Madiun 1948

Sejarah mencatat bahwa tragedi pembunuhan atas ulama-ulama itu dilakukan anggota PKI dan partai kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR). Peristiwa ini dilatarbelakangi kejatuhan Kabinet Amir Syarifuddin, lantas untuk merebut kembali kedudukannya, 28 Juni 1948, Amir Syarifuddin menginisiasi FDR. 

Pada 21 September 1948 PKI telah membunuh pejabat sipil dan militer, pimpinan Masyumi, ulama, dan kelompok masyarakat yang dianggap memusuhi PKI. Mereka ditimbun dalam sumur-sumur setelah dibunuh.Di antara yang ditemukan di sumur-sumur itu ada Kiai Soelaiman Juhdi Affandi, Kiai Imam Mursyid Muttaqin, Mursyid Thoriqoh Satariah dari pesantren Takeran, Kiai Juber, Kiai Malik, Kiai Noeroen dan Kiai Moh.Noer.

Episode sebelum peristiwa G 30 S PKI/1965

Semua tokoh agama kena teror PKI dan pembunuhan di berbagai tempat. Bahkan peristiwa Kanigoro dikenang sebagai pembantaian anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) yang sedang melakukan training oleh Pemuda Rakyat. Tidak sedikit juga para para kiai yang sudah diincar PKI untuk dibunuh dapat menyelamatkan diri.

Episode Pembunuhan Ulama 1998

Dengan dalilh dukun santet tidak sedikit tokoh agama dan kiai di Jawa Timur yang terbunuh dibantai massa yang sangat beringas. Ini terjadi dalam keadaan politik tidak stabil, pasca kejatuhan Soeharto dan Reformasi. Sampai hari ini belum ditemukan siapa dalangnya. Tapi situasi politik yang tidak stabil yang membuka pembantaian tersebut.

Jika disimpulkan semua peristiwa Pembunuhan terhadap ulama tersebut dilatarbelakangi kondisi politik yang karut-marut, direncanakan dan didalangi, dilakukan secara sistematis serta terpola. Karena itu boleh jadi peristiwa yang terjadi sekarang ini juga direncanakan secara sistematis dan terpola dan didalangi oleh kelompok yang tidak menghendaki NKRI utuh dan aman.

Di balik semua itu boleh jadi ada keterlibatan tangan asing, sebagaimana VOC Belanda pada peristiwa Amangkurat I. Untuk itu semua, anak bangsa yang cinta negara ini harus tetap waspada dari rekayasa orang-orang yang akan menghancurkan, memporak-porandakan keutuhan NKRI. Fattaqolloha masta'tho'tum billahi fie sabililhaq.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari