berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendy Setiawan.
"TERORISME has no religion." kutipan menentang aksi terorisme di Surabaya, merebak di media sosial. Bukan cuma itu, ada lagi ungkapan "Terosisme bukanlah jihad." Dan, pernyataan bahwa "Islam tak mengajarkan terorisme."

Wajar, kalau berbagai kalimat tersebut kian gaung di kalangan netizen. Karena, aksi bom bunuh diri yang dilakukan terduga teroris, di tiga gereja Surabaya pada Minggu, 13 Mei kemarin, bisa merusak kerukunan beragama.

Pada Senin (14/5/2018) pagi ini, tagar #IslamSelamatkanNegeri menempati peringkat kedua trending topics di twitter, sebanyak 83 ribu lebih kicauan.

Surabaya, daerah yang disematkan sebagai Kota Pahlawan itu, lagi dalam kondisi tegang. Padahal, masa duka bom gereja belum kelar, rentetan ledekan lain terjadi di sana. Kelompok teroris yang berafiliasi ke ISIS, diduga dalangnya.

"Tak lepas dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Ansharut Tauhid (JAT)," kata Kapolri, Jendral Tito Karnavian dikutip Metrotvnews, kemarin.

Peristiwa bom bunuh diri Surabaya yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, aksi tersebut dilakukan oleh satu keluarga. Ibu, Bapak dan empat orang anaknya, tiga di antaranya masih di bawah umur.

Sang ayah, Dita Supriyanto, menabrakan diri dengan mobil Toyota Avanza Putih ke Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno, lalu meledekan diri. Sedangkan, si Ibu, Fuji Kuswati di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro.

Ia bersama dua orang anak perempuannya, FS (12) dan PR (9). Lalu, Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel Madya dilakukan dua anak laki-lakinya, YF (18) dan FH (16). Jarak ledakan saling berdekatan, selang beberapa menit.

"...Sungguh biadab, di luar batas kemanusiaan." begitulah penggalan pidato Presiden RI, Joko Widodo di Surabaya, kemarin. Ia juga menyoroti aksi terorisme yang memanfaatkan anak-anak di bawah umur.

Belum selesai urusan di tiga gereja tersebut, pada malam hari sekisar pukul 20.30 WIB, ledakan kembali terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Kejadian ini berlangsung ketika pihak kepolisian hendak mengamankan terduga teroris, Anton Febriantoro, di Blok B Lantai 5 rusunawa tersebut. Klaim polisi, mereka melumpuhkan Anton yang lagi memegang alat pemicu bom.

Saat terkepung itu, bom rakitannya meledak. Istri Anton, Puspitasari dan seorang anak (LR) berusia 17 tahun, tewas di tempat. Satu orang anak laki-laki (AR), dan dua orang anak perempuan Anton, (FP) serta (GHA), selamat.

Mereka langsung dilarikan ke RS Siti Khodijah Sidoarjo. Sama halnya insiden di Surabaya, dugaan sementara, mereka adalah satu keluarga teroris.

Polda Jatim merinci, totalnya ada 17 orang tewas, termasuk terduga pelaku teror, akibat peristiwa ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo pada Minggu, 14 Mei kemarin. Lalu, 43 orang lainnya mengalami luka-luka.

Aksi teror, belum selesai begitu saja. Senin pagi tadi, Kantor Mapolres Surabaya, kembali jadi sasaran teroris. Empat orang berboncengan dengan dua sepeda motor meledekan diri di depan pintu gerbang pemeriksaan.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, mengatakan ada 10 orang yang mengalami luka akibat insiden itu. Empat anggota polisi dan enam warga sipil, mereka dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyatakan bahwa mereka lah bertanggung jawab atas peristiwa bom kemarin.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, mengatakan aksi bom bunuh diri di Surabaya, adalah bukti bahwa sel tidur teroris di Indonesia sudah bangkit. Serangan dan momentumnya mirip pola kelompok ISIS.

"Kemungkinan besar adalah kombatan," kata Stanislaus.

Kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok digadang-gadang menjadi pematik rentetan aksi di Surabaya dan Sidoarjo. Kalau kata Stanislaus, para narapidana teroris ini sempat kena provokasi dari kelompok JAD.

"Aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok JAD yang diketahui berafiliasi dengan ISIS," ujar dia dalam siaran persnya itu.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari