Jadikan Klub Sepak Bola Indonesia Profesional
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
GELARAN Piala Presiden 2018 baru saja berakhir pada Sabtu, 7 Februari kemarin. Gol dari Marko Simic dan Novri Setiawan berhasil membawa Persija mengungguli Bali United dengan skor 3-0. Menang lah klub asal Jakarta ini.

Euforia The Jakmania (suporter Persija), tak terbendung usai memastikan tim Macan Kemayoran menggondol trofi tersebut. Wajar sih, karena sudah 17 tahun Persija "berpuasa".

Tentunya, ini bukan tanpa perjuangan. Klub sepak bola Ibu Kota ini harus menjadi musafir ke kampung orang. Stadion Manahan Solo jadi markas mereka, karena Gelora Bung Karno (GBK) dan Chandrabhaga Bekasi, direnovasi buat Asian Games.

Setelah meraih gelar juara, Persija yang terusir dari kotanya itu kembali memikirkan masa depan. Suara itu digaungkan The Jakmania di hadapan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. 

Dalam ceramahnya, Anies bilang kalau pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serius dalam pembangunan infrastruktur stadion. Tapi, benar kah akan terealisasi?

Sebab, ketika Pak Jokowi (Presiden RI) menjabat sebagai gubernur, wacana serupa pernah ia lontarkan. Bahkan, kata dia, ada dana yang sudah disiapkan untuk menggarap stadion Persija.

"Masak kota ini punya klub tetapi enggak punya stadion," kata Jokowi yang mengaku telah menyiapkan anggaran sekisar Rp1,5 triliun.

Keberadaan stadion memang menjadi keniscayaan bagi klub profesional seperti Persija. Selain jadi kandang tetap, fungsi lainnya adalah sebagai kebanggaan suporter.

Permasalahan ini memang tak hanya terjadi pada klub-klub di Indonesia. Bahkan, klub-klub di Eropa seperti di Serie A Liga Italia juga masih banyak yang tidak memiliki stadion sendiri, alias numpang pada pemerintah kota. 

Seperti duo kota Milan, yakni AC Milan dan Inter Milan yang masih berbagi tempat di Stadion Giuseppe Meazza atau San Siro.

Stadion Kuncinya

Ketika bicara sepak bola Italia, maka kenangan buruk soal skandal Calciopoli alias pengaturan skor pada medio 2006 tak bisa dipisahkan begitu saja. Kasus ini, bikin pamor Serie A Italia jeblok. 

Sejumlah klub besar di Liga Italia, seperti Juventus, Fiorentina, Lazio, AC Milan, menjadi tersangka dan dijatuhi hukuman oleh FIGC (Federasi Sepak Bola Italia).

Juventus yang mendapat sanksi paling berat. Klub yang dijuluki Si Nyonya Tua ini, mendapat pengurangan poin, gak boleh ikut Liga Champion 2006-2007, dicabut gelar Serie A musim 2004-2005 dan 2005-2006. Terakhir, degradasi ke Seri B.

Tapi, Juventus tak mau mengalami terpuruk panjang. Pada 2011, klub ini menyelesaikan pembangungan stadion miliknya sendiri. Juve menjadi klub Italia pertama yang mandiri.

Prestasinya kemudian semakin melejit seiring membaiknya kondisi finansial tim, salah satunya karena stadion baru.

Juventus kembali membuktikan statusnya sebagai klub nomor satu di Italia dengan meraih gelar Scudetto atau juara Liga Italia pada 2011, bahkan secara beruntun, enam kali hingga 2017.

Para kompetitornya di Serie A, seperti AC Milan mulai mengikuti langkah Juve. Tim ini berencana membangun stadion sendiri. Begitu juga tim lain, seperti AS Roma. Lalu, bagaimana klub-klub di Indonesia?

Di seantero Indonesia, cuma beberapa klub saja yang memiliki stadion sendiri. Bahkan, bisa dihitung jari. Sebagian besar masih numpang dengan pemerintah daerah (pemda). Lucunya, klub Ibu Kota, malah enggak punya "kandang" sendiri.

Buruknya manajemen finansial klub-klub ini memang menjadi persoalan. Tak heran, banyak tim sepak bola Indonesia yang diakusisi, kemudian berganti nama.

Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana proses metamorfosis Persijatim Solo FC menjadi Sriwijaya FC. Para skuad baru ini bermarkas di Stadion Jakabaring di Palembang. Begitu juga Persiram Raja Ampat menjadi PS TNI.

Kemudian, Pelita Jaya yang merupakan salah satu klub mapan pada era Liga Sepak Bola Utama (Galatama) berubah menjadi Madura United. Semua memiliki persoalan seragam, karena keuangan.

Masalah ini sebenarnya bisa dihadapi kalau klub tersebut meniru Juventus. Di tengah masa keterpurukannya, tim ini membangun stadion sendiri dan mengambil langkah maju.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari