berita
ILUSTRASI: Net.
"PASTI ada lah," kata seorang karyawan perusahaan kontraktor di sebuah proyek pembangunan bilangan Jakarta, ketika ditanya soal Analisis Masalah Dampak Lingkungan (Amdal). Dian, (bukan nama sebenarnya), 25 tahun, bilang kalau kajian ini diperlukan untuk masalah limbah.

"Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan material bangunan," kata Dian.

B3 adalah zat atau bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan pada umumnya. Maka itu, sifatnya dikatagorikan sebagai limbah, dan butuh penanganan khusus.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, komponen tersebut di antaranya dinilai mudah meledak, bersifat iritasi, dan korosif. Bahan-bahan inilah yang tidak bisa dibuang sembarangan, maka di situ pentingnya kajian Amdal.

"Buang limbahnya koordinasi sama orang lingkungan hidup setempat," tambahnya.

Pihak kontraktor, kata dia, juga menyiapkan proposal terkait apa saja limbah yang dibuang, seperti oli bekas, thiner, dan cat. Termasuk juga, volume dari B3 tersebut dalam sepekan.

"Tujuannya, untuk memberikan perlindungan terhadap lingkungan sekitar," ujar Dian.

Nah, ini yang jadi masalah baru-baru ini. Patahnya pipa Pertamina di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, menyebabkan tumpahan oli menggenang di perairan tersebut. 

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai, musibah ini menjadi ancaman serius. Bukan cuma buat manusia, tapi juga sejumlah fauna dan flora laut. Termasuk, mamalia di sana.

Apakah ini murni sebagai musibah atau memang masalah kajian Amdal?

Amdal ini kan terkait teknis dan non teknis. Jadi, patahnya pipa di sana memang tak terlepas dari kajian dampak lingkungannya. Begitu kata Aktivis lingkungan hidup, Berry Nahdian Furqon.

Bisa saja, ada penyimpangan pada hasil kajian Amdal. Misal, harusnya pakai pipa dengan kriteria standar tertentu, namun yang dipasang tidak lah sesuai. Karena, dalam Amdal itu kan tentu memeritungkan usia pipa, kondisi arus air di sana, dan lainnya.

"Tapi, bisa juga kajian Amdalnya yang dipertanyakan," ujarnya. Artinya, dokumen Amdal yang ada terkait pemasangan pipa Pertamina itu, malah tak tepat.

Bicara soal Amdal, bukan cuma bencana di Balikpapan saja. Masalah yang paling klasik adalah pengelolaan limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi. Banyak masyarakat di kawasan tersebut yang terjangkiti penyakit seperti ISPA, Infeksi kulit, dan lainnya.

Semua dikarenakan menumpuknya beban sampah di TPA ini. Tercatat, limbah domestik rumah tangga sebesar 2,915 miliar ton per tahun, lumpur dari septic tank sebesar 60 ribu ton per tahun dan industri pengolahan mencapai 8,2 juta ton per tahun.

"Sudah tidak cocok lagi kalau pakai sistem sanitary landfill," kata Berry.

Kalau mengenai pengelolaan sampah, ini harus teringrasi. Artinya, dari hulu ke hilirnya. Jadi, bagaimana sampah itu dikelola dulu sebelum dibuang.

"Sekarang kan sedang digaungkan itu soal zero waste," tambah dia.

Kajian Amdal yang digaungkan sempat bermasalah adalah reklamasi teluk Jakarta. Pada Agustus 2017, Ketua Pengembangan Hukum dan Pengembangan Nelayan KNTI, Marthin Hadiwinata, pernah mengkritisi dokumen Amdal Pulau C dan D.

"Tidak berdasarkan kepada Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta," ujarnya ketika itu. 

Bukan soal pencemaran saja, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, pernah mengatakan bahwa ada 10 titik proyek pembangunan infrastruktur di Jakarta tidak memiliki Amdal lalu lintas.

Makanya, wajar kalau terjadi penumpukan kendaraan alias macet panjang tak bisa dihindari. "Hal ini menimbulkan kerepotan," kata Anies pada November 2017 lalu.

Solusi dari Pemprov DKI Jakarta sendiri, pada Maret 2018 kemarin membuat aturan ganji-genap untuk kendaraan yang melintasi TOL Cikampek, Bekasi. 

Bahkan, baru-baru ini, aturan tersebut rencananya diterapkan di Tol Jagorawi pada Mei mendatang. Efektif kah? Kalau di Cikampek sih bisa dibilang sukses. Macet berkurang.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari