Jokowi, Model Iklan Dadakan dan Istana
M. Deden Ridwan
10 Agustus 2018, 15:58 WIB
Penulis, pegiat konten, konsultan, produser & CEO Reborn Media Inisiatif
berita
ILUSTRASI: Hafiz
MARET 2012. Berlokasi di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo. Saya bertemu pertama kali dengannya. Saat itu, saya ketemu ditemani seorang penulis, Yon Thayrun. Dan memang, kami ke Solo, dalam rangka penulisan buku: Jokowi, Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker. Sebuah buku pertama tentang Jokowi yang bestseller itu.

Kami disambut ramah. Hangat. Antusias. Akrab. Ngobrol-ngobrol santai tentang banyak hal: dari mulai kisah hidup yang penuh terjal, tukar pikiran, hingga soal kebijakan dan obsesinya sebagai orang nomor satu Solo. Sesekali diselingi tawa dan canda.

Yang cukup kaget ketika staf promosi Penerbit NouraBooks meminta Jokowi untuk menjadi “model iklan” dadakan. Ya, tentu untuk keperluan marketing buku. Tanpa ragu dan spontan, beliau jawab: okay

Maka, aksi pun dimulai. Beliau "dihias" alakadarnya. Lalu diminta pakai kostum kaos yang sudah disiapkan. Juru kamera  pun beraksi. Memotret Jokowi dengan berbagai gaya. Tanpa sungkan, beliau menuruti seluruh "perintah" juru kamera. Akhirnya, setelah makan waktu cukup lumayan, pemotretan pun tuntas. Lega.

"Pak Jokowi, mohon izin nanti foto-foto ini akan dijadikan banner untuk promosi buku. Dan, foto Bapak tersebut akan terpajang di seluruh toko buku di Indonesia," pinta saya santai.

“Okay, tak masalah Mas Deden. Malah saya jadi tambah ngetop dong,” ungkapnya sambil tertawa. 

Sungguh pengalaman mengasyikkan! Membekas!

Enam tahun kemudian, tepatnya 18 Juli 2018, saya berkesempatan ketemu lagi Jokowi di Istana Negara. Ya, kini ketemu seorang Presiden. Meski singkat, saya ceritakan kembali kisah di Solo itu. Ternyata beliau masih ingat detail. Luar biasa. Ingatannya tajam. Meski di tengah kesibukan yang dahsyat.

***

Dari dua kali pertemuan dengan konteks berbeda itu, saya punya kesan kuat secara pribadi, tidak bicara secara politik, bahwa Jokowi tak berubah. Ya, Jokowi tetap Jokowi. Seperti Jokowi dulu:  kurus/tinggi, ramah, kalau bicara singkat/padat, dan sederhana. Pun rendah hati.

Tubuhnya kurus tinggi. Mengesankan jiwa seorang atletis yang lincah, cepat, dan sigap dalam merespons segala situasi. Ia bebas bergerak sesuka hati, kapan pun dan di mana pun. Maka, sungguh wajar, jika ia acap kali—dalam momen-momen tertentu—melabrak aturan protokoler  demi menyapa warga secara cepat.

Senyumnya penuh ramah.  Menandai ketulusan dan kerendahan hati seorang pemimpin. Ia selalu menebar rasa optimistik kepada siapa pun untuk berpikir dan bertindak secara bermakna. Maka, sungguh bangga, ketika ia mewujud sebagai peternak energi harapan yang tiada henti memotivasi anak-anak muda untuk terus bangkit sejajar dengan manusia-manusia lain di belahan bumi.

Tampilannya tampak sederhana dan merakyat. Mencerminkan kedekatan dan kemenyatuan dirinya dengan orang-kebanyakan tanpa sekat-sekat kultural yang menakutkan. Ia kerap kali hadir di tengah keramaian dengan dress-code khas kemeja putih yang memesona. Tak ada lagi jarak antara dirinya dengan rakyat. Maka, tidak aneh, jika ia lebih suka memilih cara blusukan untuk menyapa seluruh warga di setiap pelosok ufuk negeri.  

Bicaranya selalu singkat. Namun bernas dan padat, langsung menusuk inti persoalan tanpa basa-basi. Menggambarkan seorang pelayan yang lebih suka bekerja daripada berbicara. Maka, sungguh tepat, jika slogan yang ia pilih adalah kerja, kerja, kerja! Hal itu adalah refleksi dari lubuk hatinya yang terdalam.

Jiwa rocker-nya begitu membara. Tak berlebihan, jiwa rocker itu pula yang membuatnya jadi manusia bebas, disiplin, tekun, sederhana, dan rendah hati. “Musik rock adalah kebebasan. Musik rock itu liriknya liar, tegas, semangat, dan mampu mendobrak perubahan," ujarnya suatu ketika.

Agaknya, tak heran, meski terkesan  berlebihan, jika ia diyakini oleh para pendukung fanatiknya sebagai figur satria piningit: pemimpin yang berpihak rakyat untuk melawan kemungkaran dan ketidakadilan. Semoga!

***

Kini, Jokowi baru saja mengumumkan calon pendampingnya di Pilpres 2019. Dia akan berpasangan dengan K.H. Dr. Ma'ruf Amin. Heboh, pasti. Pro-kontra, tentu. Pelbagai analisis pun muncul.

Tapi biarlah itu urusan politik. Riuh-rendah politik kita nikmati secara santai. Pun bukan maqam saya. Saya hanya menuliskan apa yang saya alami secara pribadi. Tentu dengan harapan bisa menginspirasi. Tidak pun tak apa-apa!

Tentu saja, publik berhak untuk menilai kepemimpinan Jokowi dari pelbagai dimensi secara kritis. Bebas. Absah. Pilihan politik boleh berbeda. Dan hal itu biasa dalam iklim demokrasi. Tapi, lawan politik bukanlah musuh. Yang terpenting kita saling menghargai. Kita bangun budaya politik yang santun dan beradab. Selamat menikmati tahun padat politik!

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari