Kain Sarung dan Jilbab Politik
berita
ILUSTRAS: RILIS.ID/Hafidz Faza
SEBUAH plastik kresek putih berisi gula dan minyak goreng itu ditentengnya. Yari, 22 tahun, baru saja pulang dari pengajian. Tiba-tiba saja, pas mau pulang pria muda ini "dibekali" sembako.

"Lumayan. Ini buat emak di rumah," kata Yari, seorang warga di Ambarawa, Kabupaten Pringsewu.

Bagi dia, sudah biasa modus-modus kayak begini jelang pilkada, bukan sekali dua kali. Atau cuma satu dua orang timses (tim sukses) pasangan calon yang kerap kali bagi-bagi kresekan.

Kalau melihat polanya, di Lampung itu kata Yari, kayak "perang" sembako. Lalu, para tim dari masing-masing pasangan calon saling mengawasi kompetitornya.

"Nah, kalau kedapatan, kemudian dilaporkan. Jadi, begitu sih kayaknya" ujar dia.

Pola ini agak-agak mirip dengan peristiwa penyergapan truk pengangkut logistik milik pasangan calon nomor urut 3 di Pilgub Lampung, Arinal Djunaidi–Chusnunia Chalim (Nunik).

Warga di Desa Kampung Negaraaji, Kecamatan Anaktuha, Lampung Tengah, mengamankan truk kuning berplat nomor BE 9890 BO tersebut. Di dalam boks belakang berisi bahan-bahan kampanye paslon Arinal-Nunik, berupa sarung, jilbab, kalender dan lainnya.

Menurut pengakuan warga, ada dua truk yang diamankan. Satu di antaranya berada di rumah ranting Golkar Anaktuha. Lalu, satu lagi yang saat itu dicegat masyarakat.

Berbeda versi dari kepolisian yang menyatakan bahwa kasus ini adalah pembegalan. Pengakuan si supir truk di Mapolres Lampung Tengah, dirinya disuruh turun dari mobil, dan truknya dibawa kabur.

Kronologisnya terjadi sekisar pukul 23.00 WIB, di kawasan Bendungan Anaktuha. Truk tersebut dihadang sejumlah orang dengan mengendarai sepeda motor.

"Saya tidak tahu siapa yang menghadang. Tapi, ditanya muat apa, saya jawab sarung," kata SO, supir truk tersebut, seperti dikutip inilampung.

Dalam berita yang ditayangkan pringsewu24, warga bersama Tim Pemenangan Mustafa-Jazuli lah yang mengamankan truk tersebut. Ini upaya agar tercipta pilkada yang bersih di Provinsi Lampung.

Belum lagi, isu yang berembus bahwa pasangan calon Arinal-Nunik, mendapat sokongan dana dari PT Sugar Group Companies (SGC). Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp31 miliar.

Benar begitu?
Pada akhir April lalu, sejumlah foto beredar di berbagai media pemberitaan Lampung. Di mana bos dari PT SGC, Purwanti Lee, "tertangkap" bersama Arinal dalam kampanye di Kabupaten Tulangbawang.

Tokoh Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie juga menyayangkan hal tersebut. "Masak ada Calon gubernur Lampung yang tidak berwibawa dipeluk peluk oleh bos PT. SGC (Purwanti lee) di setiap ada kegiatan kampanye, mau jadi apa ini Lampung," kata dia.

Dia mengajak agar memilih pemimpin tidak dimodali cukong-cukong. Lalu, media diminta berani terbuka, serta tak tutup mata dengan apa yang terjadi saat ini.

Pengamat politik dari Universitas Lampung, Yusdianto menilai, tindakan warga ini adalah gambaran dari kekecewaan mereka terhadap pihak pengawas pemilu (panwaslu).

"Tdak dilarangnya pembagian sarung dan jilbab ke warga dari pasangan calon Arinal Nunik ini yang diduga mendorong warga berinisiatif untuk melakukan pencegahan secara mandiri," kata dia.

Tentu, menurut dia, hal ini mengarah pada situasi politik yang chaos. Makanya, lembaga pengawas pemilu diminta bersikap tegas atas dugaan pelanggaran-pelanggaran semacam ini.

Jika benar pasangan calon Arinal-Nunik mendapat sokongan besar dari pengusaha PT SGC, mereka sama saja telah melupakan pernyataanya sendiri dalam debat kandidat di Hotel Novotel, Bandarlampung pada 11 Mei lalu.

Mereka berkomitmen untuk tidak melakukan politik uang atau dalam kontestasi pilgub. "No money politics, no korupsi. Kita harus sama-sama sadar bahwa itu merupakan perbuatan yang tidak fair," ujar Arinal pada waktu itu.

Arinal juga mengajak masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang melakukan politik uang pada Pilgub Lampung 27 Juni. "Untuk itu jangan pilih pemimpin yang melakukan money politics."

Sumber: Rilis Lampung

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari