Keindonesiaan
Mohammad Nasih
11 April 2018, 15:50 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
berita
INDONESIA merupakan identitas imajinatif karena adanya perbedaan-perbedaan yang nyata tetapi tetap rekat dalam persatuan. Di dalamnya terdapat perbedaan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA), tetapi bisa hidup bersama untuk berbagi tempat dan kesempatan tanpa diskriminasi. Semua bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di dalam negara, baik mayoritas maupun minoritas.

Gagasan tentang Indonesia yang bhinneka tunggal ika sesungguhnya merupakan gagasan yang sangat maju melampaui negara-negara yang telah lama disebut sebagai negara maju karena capaian ilmu pengetahuan dan teknologi sekalipun. Jangan bandingkan Indonesia dan Amerika yang sampai menjelang berakhirnya abad XX masih menyimpan akar-akar diskriminasi SARA yang pernah mewujud dalam gerakan yang dipimpin oleh Martin Luther King. Di Indonesia, orang Papua yang hitam legam, berambut kriting kecil, dan berhidung seperti jambu air, orang Maluku yang juga hitam, tinggi besar, dan berhidung mancung, orang Manado yang putih, berambut kejur, dan berhidung besar, orang Jawa dan Sunda yang berkulit sawo matang dan agak putih, rambut bercampur baur dengan dominasi kejur, dan berbadan sedang, sampai dengan orang Aceh yang di antara sesama saudara sering tidak memiliki kemiripan karena percampuran darah dari berbagi ras yang ada di sana, bisa hidup bersama dalam perasaan sebagai satu bangsa yang disebut Indonesia.

Yang paling unik sebagai identitas keindonesiaan adalah memiliki sabuk pengikat bernama Pancasila dengan sila pertama dan menjadi yang utama Ketuhanan Yang Maha Esa. Para pendiri negara telah memiliki komitmen bahwa warga negara Indonesia haruslah diarahkan kepada pandangan tentang adanya Tuhan Yang Esa. Karena itu, identitas yang harus ada pada pribadi seorang yang mengaku berbangsa Indonesia adalah religius. Konsekuensi religiusitas adalah pikiran/pandangan, sikap, dan juga berperilakunya harus didasarkan kepada ajaran agama yang dianut. Segala gerak dinamika hidup tidak boleh lepas dari panduan kitab suci, karena di dalamnya terdapat petuntuk dari Tuhan.

Bangunan kehidupan bersama dalam masyarakat dan bernegara juga harus didasarkan kepada prinsip-prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak boleh terjadi penindasan oleh yang kuat atas yang lemah. Apalagi terjadi dominasi oleh minoritas atas mayoritas. Demikian pula tentang bangunan konsepsi sistem politik Indonesia, sesungguhnya merupakan konsepsi yang murni berdasarkan prinsip-prinsip agama, sehingga menghasilkan mekanisme permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat, bukan oleh asumsi-asumsi yang seringkali keliru.

Cara mengelola negara dengan sabuk pengikat Pancasila itu merupakan hasil dari cara pandang yang sangat futuristik. Sebab, sekarang ini bisa dibayangkan dengan lebih mudah tentang kepastian bahwa tidak akan ada satu pun negara yang tidak akan mengalami seperti Indonesia. Dengan semakin canggihnya teknologi transportasi, perpindahan ummat manusia dari satu negara ke negara lain akan terjadi. Melalui itu, akan terjadi pembauran SARA dalam semua negara. Karena itulah, diperlukan cara pengelolaan Indonesia sebagaimana Indonesia.

Sudah sewajarnya, bahkan seharusnya, warga bangsa Indonesia memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menggunakan cara hidup dengan sumber nilai Pancasila yang merupakan hasil kontemplasi para pendiri negara dengan keikhlasan yang tidak diragukan. Jangan sampai identitas keindonesiaan itu tergerus oleh nilai-nilai lain yang bisa dipastikan tidak cocok untuk mengelola keunikan Indonesia. Dalam konteks inilah, penyakit inferior (inferiority complex) harus dibuang jauh-jauh. Justru warga bangsa Indonesia harus dengan bangga memperkenalkan cara mengelola kebhinnekaan yang dimiliki itu kepada bangsa-bangsa lain yang akan mengalami Indonesianisasi. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top KOLOM

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari