Kenapa Cewek Selalu Jadi Korban?
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
PERKARA selingkuh memang jadi hobi pergunjingan warganet. Alhasil, tercipta lah berbagai macam meme dan video parodi saweran Bu Dandy kepada Mbak Nylla. Meski cuma buat lucu-lucuan, tetap saja menyudutkan satu pihak tertentu, yakni perempuan.

Begitu juga makna "pelakor" yang seolah-olah mengklaim bahwa cewek adalah biang kerok. Stigma negatif itu lekat menempel ke salah satu gender saja. Pria kayak dipandang suci gak ada dosa, karena sukses diperdaya bujuk rayu wanita.

"Itu yang disayangkan, kenapa menumpahkan semua ke perempuan," kata Kepala Divisi Kedaulatan Perempuan atas Seksualitas Solidaritas Perempuan, Donna Swita.

Pada akhirnya, kasus semacam ini seperti menghadapkan perempuan melawan perempuan lain. Faktanya, terkadang mereka lah yang terbuai godaan laki-laki. Meskipun, Donna tetap enggak terima dengan perilaku merebut suami orang sebagai selingkuhan.

Tapi, saat kasusnya mencuat, publik seperti melupakan porsi kesalahan pria. Ini semua gegara pandangan jelek orang-orang kepada sebagian perempuan. Mereka dianggap penggoda, centil, suka merayu dan lainnya. Ya, lihat saja wanita tuna susila (WTS).

Mereka (WTS) ada, karena pasarnya juga banyak. Siapa? Para lelaki "hidung belang" kan?. Padahal, cewek tentunya gak gampang menaruh hati ke sembarang orang. Apalagi, ke pria yang notabennya sudah memiliki pasangan atau menikah.

Menurut survei Match.com, sebanyak 54 persen cowok bisa dengan mudah jatuh cinta ke cewek. Hanya 44 persen cewek yang berlaku demikian. Ini diperkuat dalam penelitian terhadap 172 orang pria dan wanita dalam The Journal of Social Psychology yang ditulis Marissa Harrison.

Perempuan, dalam survey tersebut, dikatakan lebih berhati-hati memilih pria, lantaran mereka terlalu menghayati sebuah hubungan. Pun mereka juga lebih memikirkan aspek jangka panjangnya.

Tapi, mengapa "pelakor" disematkan hanya ke perempuan? Kalau kata Donna, balik lagi ke masalah budaya patriarki di masyarakat kita. Pria seolah lebih berkuasa ketimbang wanita. Lalu, perempuan dianggap lemah, termasuk dalam perekonomian, sehingga butuh sumber penghidupan laki-laki.

Supremasi pria terhadap wanita sebagai pihak subordinat, karena budaya patriarki itu nyatanya telah menjadikan perempuan sebagai korban. Berdasarkan data Komnas Perempuan, tercatat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan selama 2016.

Dari jumlah itu, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menempati peringkat pertama dengan 5.784 kasus. Disusul kekerasan dalam pacaran 2.171 kasus, kemudian kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus.

"Yang diperbaiki adalah sistem keamanan dan perlindungan bagi perempuan di ruang publik misalnya," tambah Donna.

Kayak kasus yang menimpa terduga "pelakor" yakni Mbak Nylla. Dalam video saweran Bu Dandy yang viral itu, terlihat sang suami (Pak Dandy) hanya diam saja menyaksikkan istrinya melabrak perempuan lain, bahkan sampai "mengguyur"-nya dengan uang. Netizen pun ramai-ramai menuduhnya penjahat.

Walaupun, ada juga pihak yang membela, lantas membuat akun Facebook palsu yang kemudian membocorkan isu Bu Dandy di masa kelam. Kabarnya juga eks-"pelakor". Entah benar atau tidak, gosip di medsos memang tak bisa begitu saja dipercaya 100 persen.

Umbar Aib
Direktur Eksekutif Komunikonten Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria, menilai fenomena umbar aib ini karena keteledoran mereka. Kalau sudah sampai di ranah internet, komunikasinya dari berbagai arah. Yang mana malah melibatkan banyak pihak.

"Contoh kasus, kalau seseorang membongkar aib seseorang, maka orang lain jadi tidak sabar juga akan melakukan hal yang sama," ujarnya.

Misal, sering kali dokumen-dokumen lama kita tercecer. Baik dalam bentuk soft maupun hard data. Kebetulan ada orang lain yang menyimpan itu, maka akan jadi "senjata" untuk meneror pihak-pihak terkait yang tengah berkonflik.

Apalagi, konten-konten yang menarik bagi warganet akan mudah sekali viral. Mereka tak peduli dengan kualitas rekaman atau gambar, justru ini yang dianggap tanpa rekayasa.

Makanya, harus ada literasi media dan empati di media digital. Contohnya, insiden saweran Mbak Nylla ini, bukan hanya membuat gaduh orang terdekat saja, namun lebih besar lagi irisannya ke masyarakat luas. Karena, netizen menyumbangkan pro kontra di dalamnya.

Salah-salah, menyebarkan konten yang dianggap mencemarkan nama baik, bisa saja dilaporkan ke penegak hukum dengan dasar Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Korban sebenarnya bisa saja melakukan upaya hukum.

Tapi, di era sekarang, publik lebih senang memberikan sanksi sosial. Yakni, "memviralkan" di media sosial. Mereka lupa atas pertimbangan-pertimbangan lainnya yang justru jadi "bumerang".

Padahal, lebih baik jika itu kembali lagi pada tradisi lama. Di mana, hanya melibatkan pihak keluarga serta komunitas di dalamnya. Tentu, tambah bijak jika mengundang tokoh masyarakat dan pemuka agama supaya efek psikologisnya tidak menjalar panjang lebar.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari