Mantan Kepala PN Medan Kembali Diperiksa KPK Jumat Pagi
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza
RILIS.ID, Jakarta— Mantan Kepala Pengadilan Negeri Medan, Marsuddin Nainggolan kembali diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi‎ (KPK). Hari ini, Jumat (14/9/2018), Pimpinan tertinggi di PN Medan tersebut akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap pemulusan perkara tipikor di PN Medan.

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka TS (Tamin Sukardi)," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jumat (14/9/2018).

Marsuddin sendiri merupakan termasuk orang yang sempat diamankan saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Selasa, 28 Agustus 2018, lalu. Namun, ia dilepas karena penyidik tidak mendapatkan bukti untuk menjeratnya sebagai tersangka.

Tak hanya Marsuddin, penyidik juga memanggil sejumlah saksi lainnya yakni, dua pengacara Fachrudin Rifai dan Suhardi, Staf Honorer Wakil Ketua PN Medan, Raymondus Candra Lubis serta dua pihak swasta Tandeanus dan Tadjuddin. Mereka juga akan diperiksa untuk tersangka Tamin Sukardi.

Sementara itu, tiga tersangka kasus dugaan suap pemulusan perkara tipikor pada PN Medan juga diperiksa pada hari ini oleh penyidik. Ketiga tersangka yang diperiksa yakni, Hakim Merry Purba, Panitera Pengganti pada PN Medan, Helpandi, serta pengusaha Tamin Sukardi.

Dalam kasua ini KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap pemulusan putusan perkara di Pengadilan Tipikor Medan. Keempatnya yakni, Hakim Ad Hoc Tipikor Medan, Merry Purba; pengusaha ‎Tamin Sukardi; panitera pengganti Elpandi; dan orang kepercayaan Tamin, Hadi Setiawan.

‎Diduga, Merry Purba menerima suap sebesar S$280  Singapura dari pengusaha Tamin Sukardi dalam dua kali tahapan.‎ Pemberian suap dilakukan melalui perantara yakni antara Panitera Pengganti Helpandi dengan orang kepercayaan Tamin, Hadi Setiawan.

Pemberian suap itu diduga untuk mempengaruhi putusan perkara tipikor nomor perkara 33/Pid.sus/TPk/2018/PN.Mdn dengan terdakwa pengusaha Tamin Sukardi.

Dalam putusan majelis hakim yang dibacakan pada 27 Agustus 2018, Tamin Sukardi divonis pidana enam tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan serta uang pengganti Rp132 miliar.

Dalam putusan tersebut, Hakim Merry Purba menyatakan Dissenting Opinion (DO) alias berbeda pandangan.‎ Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni 10 tahun pidana penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp132 miliar. ‎‎

Editor: Elvi R

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari