Ketika Polri Lagi Cari Sensasi
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
MENDENGAR musik/radio saat berkendara menjadi hal lumrah. Mayoritas pengguna mobil, tak terkecuali motor, kerap melakukan itu. Alasannya, tentu untuk menghilangkan rasa jenuh, apalagi di jalanan Ibu Kota Jakarta yang macetnya enggak ketulungan.

Wajar lah ketika Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, melarang pengemudi memutar musik/radio saat berkendara, langsung bikin geger orang banyak.

Seperti Diah Kartika Sari, seorang pengemudi yang hobi ngedengerin musik dan radio di jalan, tak setuju dengan ketentuan ini. Sebab, itu menjadi alternatif "membunuh" kebosanan sembari menunggu macet yang melanda, ketika berangkat atau pulang kerja.

"Apalagi kalau radio, lebih enggak ngebosenin. Kalau dilarang merokok ketika berkendara, saya setuju," kata Dita.

Tak hanya Dita, seorang pengendara motor, Adi, juga mengizinkan polisi melarang pengendara merokok di jalan. Cuma, kalau soal mendengar musik atau radio, ia tegas menolak.

"Sama bermain handphone, itu bikin bahaya," tambah dia.

Larangan polisi soal mendengarkan musik/radio saat berkendara juga dicemaskan warga dunia maya, alias netizen. Mereka ramai-ramai bertanya ke pihak kepolisian atas peraturan itu.

Pengumuman ini ditenggarai akun media sosial Humas Polda Metro Jaya. Di antaranya, lewat akun Instagram @humaspoldametrojaya. Dijabarkan juga sanksinya, termuat dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kalau berkendara sambil dengerin musik masih suatu kegiatan yang wajar pak. Kecuali, kalau berkendara sambil konser musik baru gak wajar," ujar akun Instagram, @rindhos.

"Wkwkwkw..jadi, bus-bus AKAP yang nyalain lagu buat penumpang gak boleh juga ya," lanjut akun @yosifirmansyah ikut melemparkan komentar.

Bukan cuma di Instagram, pengguna media sosial lain seperti Twitter, juga mencemaskan ketentuan ini. Sontak, mereka meramaikan sikap, menolak peraturan tersebut.

Seperti akun @Dandhy_Laksono menuliskan cuitan bahwa Pasal 106 UU LLAJ mensyaratkan agar pengendara mengemudikan kendaraan secara wajar dan penuh konsentrasi. Namun, tidak ada larangan mendengarkan musik/radio. Justru, musik, baginya bisa mengusir kantuk.

"Musik justru mengusir kantuk, mengendurkan saraf dan otot, serta membantu konsentrasi. Bahkan, jika playlist-nya 'halloween' sekalipun," tulis akun tersebut.

Bahkan, sejumlah akun malah menganggap peraturan ini sebagai ajang cari sensasi polri. Seperti ditulis @dickyardiann, larangan ini hanya lelucon. Sepertinya, Polri cuma mau cari perhatian doang. "Mending kelarin kasus Novel (Penyidik KPK), pak," ujarnya.

Sebelumnya, Kasubdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, memang menyampaikan ke publik soal larangan mendengarkan musik/radio, bermain handphone dan merokok di jalan. Alasannya, itu bisa membuyarkan konsentrasi saat berkendara.

"Merokok dan mendengarkan musik/radio masuk dalam kategori yang mengganggu konsentrasi saat mengemudi," kata Budiyanto kepada wartawan pada Jumat, 2 Mei lalu.

Kegiatan tersebut dianggap melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Hal itu tercantum di Pasal 106 Ayat 1 juncto Pasal 283.

Pasal 106 Ayat 1 menyebutkan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Pasal 283 menyebutkan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000.

Kisruh di media sosial ini akhirnya membuat polisi melontarkan pernyataan bantahan. Kali ini, Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Brigjen Pujiono Dulrahman yang angkat suara. Menurut dia, tidak ada larangan itu (dengarkan musik/radio dan merokok).

"Mendengarkan musik yang dilarang itu kalau mendengarkan musik dengan gerakan-gerakan berlebihan, itu yang enggak boleh. Tapi kalau mendengarkan saja tidak masalah," ujar Pujiono kepada Radio Sonora yang dikutip Kompas.

Terus, gerakan-gerakan berlebihan itu seperti apa? Joget atau ngedisco?

Pujiono bilang, maksudnya adalah mendengarkan musik diiringi karaoke. Alasan dia, kegiatan itu memecah konsentrasi bagi si pengendara dan orang lain. "Kalau dia wajar-wajar saja, saya rasa tidak masalah," jelasnya.

Kok, aneh ya? memang selama ini ada mobil pribadi yang jadi karaoke berjalan? Masalahnya, dalam aturan tersebut, memang tidak ada tafsir khusus mengenai klausul "mengganggu konsentrasi". Polri seperti membuat tafsir sendiri.

Tapi, benarkah mendengarkan musik/radio mengganggu konsentrasi bila ditinjau dari segi klinis dan psikis seseorang? (bersambung)

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari