Ketika Tudingan 'Pelakor' Bertebaran
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
"NYOH duit. Iki loh duit, silahkan." Ungkapan itu belakangan ini viral di jagad media sosial. Di dalam rekaman video tersebut, seorang wanita berkerudung merah tengah duduk, terdiam sambil menunduk dan dilempari segepok, tepatnya sekarung uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribuan.

Adalah Mbak Nylla, seorang janda yang dituding sebagai "pelakor". Bu Dandy, orang di belakang layar yang menyawer uang, sambil marah-marah. Ia kesal karena suaminya, Pak Dandy, dianggap telah selingkuh dengan temannya sendiri. Katanya, Nylla memanfaatkan suami orang karena kekayaannya.

"Nde'e ngerti Pak Dendy sugih, nusuk saya dari belakang. Nyoh, tuku omah (Dia mengerti Pak Dendy orang kaya, tusuk saya dari belakang. Nih, beli rumah sana)," kata Bu Dandy sambil terus melemparkan uang ke Mbak Nylla. Perilaku ini sontak memancing reaksi warganet.

Akun twitter @BanyuSadewa me-retweet potongan video tersebut. Dalam cuitannya ia bilang, sekarang sudah tidak zamannya menjambak rambut "pelakor" di mall, tapi disawer duit. Lalu, akun @RendyPAS yang menyarankan orang cari "masalah" sama Bu Dandy kalau keuangan sedang sulit.

Video ini beredar di media sosial sekiranya pada 20 Februari lalu. Kemudian, esok harinya muncul klarifikasi dari Mbak Nylla lewat akun Facebooknya. Ia menuliskan komentar agar Mbak Ovie (Bu Dandy) tidak menyalahkan dia sepenuhnya, lihat lah kelakukan dari sang suaminya (Pak Dandy) sendiri.

"Aku kudu piye, wis ora nduwe opo-opo meneh. Coba sampean introspeksi, mungkin sampean terlalu urus harta sampai lupa urus suami (Aku harus apa, sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Coba kamu (Bu Dandy) introspeksi, mungkin terlalu mengurus harta sampai lupa urus suami)," ujar Mbak Nylla.

Eh, ternyata akun yang memberikan klarifikasi ini, kata Nylla, palsu. Aduh, susahnya jadi orang tersohor mendadak. Yang pasti, si Mbak bilang bahwa dirinya sempat menerima transferan dari Pak Dandy, cuma bukan karena jadi selingkuhan kok. Tak lebih dari sebuah bantuan karena dia seorang single parent.

Label 'Pelakor'
Pelakor adalah akronim dari perebut laki orang. Kata-kata ini populer di dunia maya pada awal 2017 lalu. Tudingan ini disematkan kepada perempuan yang menggoda suami orang lain, sampai-sampai si pria benar-benar "kecantol" dan pindah ke lain hati. Mirisnya, sampai tega meninggalkan istri sahnya.

Pada Maret 2017 lalu, istilah "pelakor" menjadi perbincangan warganet ketika pengguna Instagram dengan akun @nengkys cerita soal perselingkuhan suaminya. Pun, tak malu-malu ia membeberkan sejumlah foto kebersamaan sang suami dengan kekasih gelapnya. Kasus ini yang pertama kali mencuat viral.

Netizen geram karena sang istri sahnya tengah hamil. Namun, si pria malah asyik bermesraan dengan wanita lain. Parahnya, ketika pasangan ilegal ini memutuskan untuk menikah di kemudian hari.

Kemudian, pada November 2017, "pelakor" kembali menuai perhatian banyak orang. Kali ini, pelakunya dari kalangan artis. Video seorang gadis bernama Shafa Aliya Haris (anak seorang pengusaha, Faisal Haris) melabrak Jennifer Dunn di dalam sebuah mall.

Berselang satu bulan, Desember 2017, ulah "pelakor" lagi-lagi menuai kecaman publik. Semua berawal dari postingan Facebook, bercerita kisah Marry Widdi yang suaminya direbut oleh ABG (remaja) SMA. Karena kasus ini, siswi tersebut kabar terakhirnya dikeluarkan dari sekolah.

Yang terbaru adalah dugaan kasus selingkuh Pak Dandy dengan teman istrinya, Mbak Nylla. Cuma, ini berbeda lantaran aksi buang-buang duit Bu Dandy. Menyuruh "pelakor" membeli rumah.

Entah siapa yang salah, kayaknya masih abu-abu. Pun keduanya sudah menyatakan damai. Cuma obrolan "dapur" kemarin, mengapa sampai jadi konsumsi luas publik.

Media sosial kini sudah menjalar menjadi sumber berita. Fungsi awalnya yang hanya jejaring pertemanan, telah berubah sebegitu masif.

Dalam jurnal berjudul Demokrasi Virtual dan Perang Siber di Media Sosial: Perspektif Netizen Indonesia (Iswandi, 2017), aktivitas masyarakat online lah yang pelan-pelan menggeser kegunaan sistem kekerabatan berbasis daring ini. Interaksi sosial jadi sumber informasi khalayak.

Muaranya memang pada karakteristik dari media sosial itu sendiri. Menurut Iswandi, seperti memang didesain agar para pengguna (netizen) tak hanya mengonsumsi informasi. Tapi juga memproduksinya, kemudian mendistribusikan. Tak perlu heran mengapa jejaring nirkabel ini punya power dahsyat.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari