Koperasi di Indonesia Bikin Aplikasi untuk Konferensi Video
berita
Tangkapan layar halaman Temon.id. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin
RILIS.ID, Jakarta — Koperasi Satelit Desa Indonesia (KSDI) meluncurkan aplikasi konferensi video bernama Temon.id, pada Rabu (14/10/2020) malam. 

Ketua Dewan Pengawas KSDI, Budiman Sudjatmiko mengatakan, aplikasi TEMu ONline yang disingkat TEMON ini murni buatan dari para anggota koperasi.

“Temon adalah sebuah platform meeting yang dibuat teman-teman koperasi satelit desa. Di mana kita bisa melakukan rapat. Ini baru tahapan beta testing," kata Budiman saat soft launching aplikasi Temon.id, secara virtual.

Ia menjelaskan, yang terlibat dalam pengembangan TEMON.id ini adalah tim developer yang juga anggota KSDI sendiri.

"Pimpinannya seorang insinyur IT dari sebuah desa di lereng Gunung Merapi,” ujar Budiman. 

Sejauh ini, aktivitas rapat atau temu muka yang dibatasi oleh pandemi, hanya bisa dilayani oleh aplikasi-aplikasi seperti Zoom, Google Meet, Skype, WhatsApp, Cisco Webex, Slack, atau Telkomsel CloudX.

Dari sekian banyak aplikasi tersebut, hanya CloudX yang berasal dari dalam negeri, sisanya berasal dari luar negeri. Mereka pun masih punya beberapa keterbatasan. Mulai dari penggunaan yang harus berlangganan seperti Webex.

Zoom dan Google Meet yang paling populer saat ini pun punya kelemahan, yakni menggerus kuota penggunanya demi bisa menampilkan gambar yang jernih. 

Budiman yang juga merupakan Founder Inovator 4.0 Indonesia itu memastikan, selain kualitas gambar yang sudah jernih, ke depan fitur-fitur di TEMON akan terus ditambah, dalam rangka penyempurnaannya. Harapanya, aplikasi ini bisa seperti Zoom yang kerap dipakai dalam rapat-rapat virtual, sehingga bisa dipakai oleh masyarakat Indonesia, terutama di desa-desa.

Lantaran berasal dari dalam negeri, data-data dari Temon.id itu terdesentralisasi alias tidak terpusat dan ada server lokal. Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa data penggunanya akan bisa bocor dan disalahgunakan oleh oknum dari luar negeri atau digunakan untuk mencari keuntungan oleh korporasi global.

“Ini murni dari teman-teman koperasi, bukan korporasi. Kalau orang luar negeri bisa, Indonesia juga harus bisa,” kata Budiman meyakini.

KSDI yang menjadi pelopor sekaligus tulang punggung terciptanya TEMON ini, menurut Budiman, sudah berdiri sejak Juli lalu, dan sudah memiliki lebih dari 10 ribu orang anggota di seluruh Indonesia. 

Seperti namanya, mayoritas anggota KSDI berasal dari desa dan tesebar di 24 provinsi. Mereka datang dari beragam latar belakang. Seperti pemuda-pemudi desa, pekerja elektro, pegiat dunia digital, serta orang-orang yang bergelut di ranah teknologi informatika.

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Ragam

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari