Kotak Pandora dalam Truk BE 9890 BO
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
SEANDAINYA di Provinsi Lampung digelar survei sosok atau tokoh yang paling populer bisa jadi malah bukan kandidat gubernur yang akan bertarung pada Pilgub 27 Juni 2018 yang namanya moncer.

Mungkin malah Purwanti Lee mengalahkan popularitas calon gubernur Arinal Djunaidi yang kini menjadi "mainannya" dalam Pilgub Lampung.

Ya, Purwanti Lee yang dikenal sebagai Vice President Sugar Group Company (SGC), perusahaan gula yang menggurita di Lampung menjelma menjadi pusat perhatian warga. 

Sosok misterius ini sangat jarang tampil di publik. Karena itu ketika Purwanti Lee tampil di lapangan terbuka sontak menjadi pusat perhatian dan pembincangan warga.

Purwanti Lee alias Nyonya Lee tampil ke publik saat menghadiri kampanye pasangan calon nomor urut 3, Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim (Nunik) di Rawajitu, Tulang Bawang, Senin, 30 April lalu.

Nyonya Lee hadir bersama Ustad Solmed, penyanyi dangdut ibukota, pengurus DPD I Golkar Provinsi Lampung, dan tim pemenangan Arinal-Nunik. Salah satunya juru kampanye wilayah II, Hanan A. Rozak.

Hanan yang juga mantan Bupati Tulang Bawang ini mengaku kehadiran Nyonya Lee sebagai bentuk perhatian bos SGC kepada Arinal. 

"Enggak apa-apa orang hadir memberikan dukungan. Dia beri perhatian kepada Arinal, nggak ada yang spesial," kata Hanan seperti disitat dari Rilislampung.id.

Hanan mengaku tidak bisa mencegah kehadiran Nyonya Lee dalam kampanye Arinal-Nunik di Rawajitu. Meski begitu, Hanan menegaskan bahwa Nyonya Lee tidak termasuk sebagai juru kampanye.

“Kalau enggak masuk di daftar jurkam, ya enggak bisa jadi jurkam, diam saja. Kalau saya memang jurkam jadi tadi ikut berkampanye,” tuturnya.

Rupanya pernyataan Hanan itu sebatas ucapan politisi. Penampakan Nyoya Lee di depan publik yang dengan terang-terangan mendukung pasangan Arinal-Nunik, tidak bawa badan semata. 

Salah satunya dibuktikan dengan diamankannya sebuah truk bernopol BE 9890 BO yang mengangkut kain sarung dan kerudung dan disebut-sebut keseluruhannya senilai Rp31 miliar. 

Dana tersebut untuk 900 ribu kain sarung dan 650 ribu kain kerudung yang akan dibagi-bagikan ke masyarakat.

Bila Nyoya Lee, apakah itu menyumbang atas nama pribadi atau perusahaan sekalipun, secara kasat mata melanggar Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Dana Kampanye Peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota. Tak harus diperdebatkan atau dimintai konfirmasi kepada ahli dan pengamat. Sangat gamblang.

Dalam PKPU disebutkan dana kampanye bisa berbentuk uang atau barang. Uang pun bisa secara tunai atau dana yang ditrasfer. 

Batas bantuan dari perusahaan maksimal Rp750 juta dari dari individu tak boleh lebih dari Rp75 juta.

Menurut pengamat kepemiluan dari Universitas Lampung (Unila), Budiono, penyelengggara dan pengawas pemilu seharusnya segera bersikap.

Sudah pasti sebuah korporasi mempunyai maksud dan tujuan memberikan sumbangan dana itu untuk salah satu paslon di pilgub,” kata Budiono seperti dikutip dari Fajarsumatra.com.

"Kalau perusahaan menyumbang melebihi kententuan ini memunculkan  pertanyaan sendiri bagi kita. Apakah ini dana  hasil penggelapan pajak atau lainnya, tetapi kan harus dilihat dulu dan jangan pasif," tambahnya.

Yusdianto, akademisi Unila lainnya, juga melontarkan pernyataan yang hampir sama. Malah ia menduga, keterlibatan SGC dalam kancah politik lokal tersebut sebagai upaya mengamankan lahan.

Kecurigaan Yusdianto berdasarkan pada pernyataannya yang dilansir JPNN.com, baru-baru ini yang menyebutkan Komisi II DPR pernah melakukan rapat dengar pendapat (RDP) membahas dugaan penipuan, pemalsuan dan penggelapan pajak PT SGC tersebut.

Karena, diduga telah menyerobot lahan masyarakat di empat kecamatan kawasan Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

"Adanya konspirasi antara korporasi dan politisi tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk pengamanan dan perluasaan bisnis," ujarnya.

Untuk itu, Yusdianto menyarankan kepada pemerintah dalam hal ini Direktorat Pajak Kementerian Keuangan turun tangan mengawasi dugaan keterlibatan perusahaan gula yang mendukung pasangan calon Arinal-Nunik.

“Saya setuju bila pemerintah dalam hal ini Dirjen Pajak masuk untuk terlibat memeriksa perusahaan dan calon,” tegasnya.

Kini kita hanya menunggu apakah truk bernopol BE 9890 BO akan menjadi kotak padora atau berhenti menjadi sebuah peti es. Wallahu a'lam bishawab.

Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari