Media Internasional Soroti Pencitraan Jokowi
berita
Presiden Joko Widodo. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
RILIS.ID, Jakarta— Pemerintah Indonesia mendapat sorotan pedas dari media internasional. Presiden Jokowi selama ini disebut hanya menampilkan pencitraan.

Dalam pemberitaan yang dipublkasikan media Asia Times berjudul "Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths" pada 23 Januari 2018, pemerintahan Joko Widodo disebut lihai bermain "meyakinkan orang lain bahwa berbagai urusan telah berjalan sukses, padahal sejatinya tidak". (smoke and mirrors, Cambridge Dictionary)

Dalam artikel yang ditulis jurnalis senior John McBeth itu, Jokowi disebut banyak melakukan pencitraan seolah 'banyak bekerja' melalui capaian megaproyek infrastruktur.  

Salah satu yang dikritisi adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditaksir menghabiskan duit sebesar Rp70 triliun. 

Proyek yang banyak dimodali enam perusahaan asal Cina itu dipandang sebagai proyek ambisius Jokowi untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. 

Namun, hingga saat ini proyek tersebut terkendala pembebasan lahan yang seharusnya beres sebelum Jokowi meletakkan batu pertama (groundbreaking) pada 26 Januari 2016, tiga tahun lalu.

Proyek pembangkit listrik di Batang juga disoroti McBeth. Proyek yang disokong investasi senilai US$4 miliar dari Jepang itu juga mengalami kendala yang sama, pembebasan lahan.

Selain itu, perubahan skema pengembangan dari offshore menjadi onshore dalam proyek LNG Blok Masela juga menjadi sorotan. Minimnya infrastruktur untuk pengolahan offshore disebut sebagai kendala yang menyebabkan proyek ini tak berjalan mulus.

McBeth juga mengkritisi kebijakan Jokowi terkait impor pangan. Impor beras, daging, dan sejumlah kebutuhan pangan masyarakat di tengah persediaan lokal dinilainya sebagai kegagalan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita swasembada pangan.

Wartawan rilis.id hari ini (30/1/2018) mengonfirmasi artikel tersebut ke Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi. Namun, hingga berita ini diturunkan, dia belum memberi respons.

McBeth merupakan wartawan senior asal Selandia Baru yang telah lama meliput kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ia juga penulis buku "The Loner" yang diterbitkan pada 2016. Buku itu mengkritisi kebijakan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Editor:



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Nasional



Terkini



Dapatkan berita terkini setiap hari