Mengenang 'si Kepala Granit' Andi Mappetahang Fatwa
berita
FOTO:Istimewa
Oleh Armin Mustamin Toputiri
Anggota DPRD Sulsel Fraksi Golkar

“… banyak pejabat sekarang yang hamil dan melahirkan banyak mobil mewah, hamil dan melahirkan banyak rumah,… “ (TEMPO, edisi 28, 09 September 1979)

BUKAN hanya sebait itu kalimat pedas yang ia sampaikan, tetapi hampir tiap kali menyampaikan khotbahnya di sejumlah masjid di Jakarta. Lelaki bangsawan Bugis yang dijuluki si Kepala Granit, sosok si keras kepala itu, tiada henti menyampaikan kritikan pedas, membuat kuping penguasa Orde Baru memerah. Sebabnya, ia terus-terusan diintai aparat keamanan yang masa itu sering bertindak represif. 

Tapi ia tak sedikit pun merasa gentar. Tak selembar kuduknya berdiri. Makin ditekan, kian keberaniannya menggelembung. Padahal ia sudah berstatus PNS Pemda DKI Jakarta. Akibatnya, September 1979 berdasar SK Mendagri 813.188-247 ia dipecat dengan tidak hormat.

Risiko lain. Suatu hari, rumahnya di Karet Sentiong, Jakarta Pusat, diporak-porandakan oleh orang tak dikenal, setelah sebelumnya air PAM yang mengalir ke rumahnya ditaburi racun. Bahkan di suatu hari berikutnya, saat menyetir mobil, melintas di ruas jalan dekat Monas, lehernya nyaris putus akibat sabetan celurit oleh orang yang juga tak dikenal, meski patut ia duga aparat. 

Tuhan masihlah melindungi dirinya, sabetan meleset tapi bibir di bagian atasnya robek. Mendapat 13 jahitan. Meski telah dilakukan operasi plastik, tetapi bekas sabetan celurit itu, membekas. Cacat fisik yang menyejarah di atas bibirnya yang selalu mengkritik pedas. Itu risiko, katanya enteng.

                                                               ***

Tahun 1957 di era Orde Lama, saat masih berstatus mahasiswa IAIN Jakarta, sebagai Ketua HMI cabang Ciputat dan PB HMI, tiada henti mengusik kekuasaan Soekarno. Di tahun 1963, sebagai anggota Dewan Mahasiswa, ia mengomandoi demonstrasi di kampusnya. Mengkritik kebijakan Rektor IAIN juga Menteri Agama. Demonstrasi itu dianggap merongrong kewibawaan Soekarno, pemimpin besar revolusi. Ia dianggap mengganggu persiapan Ganefo, di saat Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Malaysia. Ia akhirnya diciduk aparat. Ia dijerat Undang-undang  Nomor II/PNPS/1963 yang umum dikenal Undang-undang Subversi.

Ia ditahan di Mabes Kepolisian Jakarta, lalu dipindah ke Sukabumi. Di sana, ia terus diinterogasi.  Tak mengalami siksa fisik, tapi psikisnya diteror. Kumisnya dibakar pakai korek. Enam bulan itu, tiap pekan dipindah. Ke Solo, Karanganyar, lalu Tawangmangu. Bukan di tahanan tapi disekap di ruang kecil yang jendelanya dipaku dari luar. Dan saat Soekarno lengser, ia segera dikembalikan ke Jakarta. Status tahanan kota, lalu bebas tanpa pernah menjalani persidangan. Masa awal era Orde Baru, ia mengikuti Sekolah Dasar Perwira Komando (Sedaspako) V/1967 KKO-AL, tapi tidak jadi Perwira Angkatan Laut. Hanya jadi imam tentara di Pusat Pendidikan Tamtama di Surabaya.

                                                           ***

Setelah menjalani tugas sebagai imam tentara, lalu diperbantukan kepada Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta selaku Pembantu Gubernur bidang agama dan politik, apakah sikap keras kepalanya sudah berubah? Lebih-lebih karena kekuasaan militer Orde Baru, Soeharto, pada masa itu kian menyeramkan. Tidak! Ia tetap tak jera. Keberanian dan sikap kritisnya kian menjadi-jadi. Pidato dan khotbahnya, justru makin pedas. Tahun 1978, lagi-lagi ia kembali ditahan selama sembilan bulan, akibat pernyataan pidato yang disampaikan dalam Rapat Akbar Umat Islam di Senayan. Menyatakan Kebulatan Tekad menolak “Aliran Kepercayaan” dimasukkan dalam draf GBHN.

Selepas dari tahanan, kapokkah ia? Tidak! Lagi-lagi di akhir Agustus 1979, petugas Laksusda Jaya kembali menyeretnya masuk bui, akibat khotbahnya “Para Pejabat, Sadar dan Istigfarlah” yang disampaikan dalam rapat umum umat Islam seusai Shalat Ied di lapangan parkir Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta Timur. 

Tampaknya, justru bergabungnya ia dengan Ali Sadikin, nyali dan keberaniannya kian membara. Terbukti, ia berhasil mengajak Ali Sadikin serta sejumlah tokoh dan petinggi tentara lainnya guna mendiskusi secara berkala soal kondisi bangsa dan kebijakan penguasa Orde Baru. Topik paling anyar, soal lima undang-undang politik dan penetapan asas tunggal Pancasila.

                                                            ***

Kelompok diskusi itu belakangan menamai dirinya “Kelompok Petisi 50”. Meski dihuni sejumlah tokoh berpengaruh negeri ini, lelaki keras kepala itu menjadi sekretaris. Dan justru akibat posisi itulah, dia bersama dua tokoh lainnya, Menteri Perindustrian, Tekstil dan Kerajinan Rakyat, HM Sanusi, serta mantan Pangdam Siliwangi, Letjen TNI (Purn) HR Dharsono, ditangkap, dijebloskan masuk penjara. Dirinya dihukum 18 tahun. Bertiga, jadi martir dari 22 tokoh Kelompok Petisi 50 penandatangan “Lembaran Putih” atas penembakan dilakukan aparat yang berakibat kematian puluhan orang yang tengah berdemonstrasi dalam Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984. 

Dirinya memang dijatuhi hukuman 18 tahun penjara dari tuntunan jaksa, penjara seumur hidup. Tapi bebas 1993. Dijalani hanya 9 tahun setelah mendapat amnesti. Pedihnya kehidupan dalam penjara, soal dipukuli, ditendang, bahkan diinjak, baginya hal biasa. 

Ia pernah dikurung di dalam sel dengan cara berdiri di atas kaca yang sekelilingnya bertabur tai manusia. Lalu subuh, dengan mata ditutup kain hitam, kepalanya ditodong pistol, badannya ditodong sangkur, ia lalu dibawa ke suatu tempat pakai mobil jeep. Di tengah perjalanan di suruh turun. “Kamu akan kami tembak, lalu kami masukkan karung. Ada pesan untuk keluarga?”. Bisik orang yang menangkapnya. 

                                                           ***

Tellabu essoe ri tengngana bittarae. Matahari tak tenggelam di siang hari. Kematian tak datang jika ajal belum tiba. Demikian ajaran Raja Bone, La Tenritata Arung Palakka. Sebersit ajaran dari moyangnya yang ia pegang teguh. Lelaki pemberani Tanah Bugis, lahir di Bone, 12 Februari 1939 ini, tak jadi ditembak. Ajalnya belum tiba. Justru dikaruniai kesehatan. Meneruskan perjuangan. Menjadi Staf Khusus Menteri Agama Tarmidzi Taher, juga Quraish Shihab. Bahkan turut merintis berdirinya PAN. Partai politik inilah, kemudian mengantarnya masuk ke parlemen. Wakil Ketua DPR RI (1999-2004) dan Wakil Ketua MPR RI (2004-2009), serta Anggota DPD RI (dua periode).

Pada ujung akhir hidupnya, ia memijakkan kaki di gedung yang isinya pernah ia hujat, kumpulan orang-orang yang hamil dan melahirkan banyak mobil dan rumah mewah. Jika ia menghabiskan 12 tahun dalam kurungan, maka di parlemen ia menduduki kursi terhormat itu 18 tahun. Ia ada dalam kurungan itu, karena ia menyampaikan apa yang ia anggap benar. Kritikannya sangatlah pedis, risiko didapatkannya sangatlah pahit. Ia keras kepala, dijuluki si Kepala Granit. Era Orde Lama Soekarno, Orde Baru Soeharto, dicap pemberontak, tapi di akhir hayatnya, 14 Desember 2017 (78 tahun) justru dimakam di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Itulah “Fatwa” kebenaran. 

Makassar, 28 Pebruari 2018

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Inspirasi

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari