Mengkaji Larangan Merokok sambil Bawa Kendaraan
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
KETENTUAN Polda Metro Jaya terkait larangan merokok bagi pengendara, mendapat dukungan mayoritas publik. Cuma, ini khusus untuk merokok saja, bukan soal mendengarkan musik/radio di balik kemudi loh. Karena, memang masih wajar-wajar saja sih.

Nah, kalau masalah rokoan (merokok, red) di jalan saat berkendara, tentunya memiliki dampak buruk. Bukan saja bagi si pengedara, perilaku tersebut juga mengganggu pengguna jalan lainnya. Lebih tepatnya, membahayakan banyak orang.

Aturan polri bisa saja mengacu pada Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Terutama pada Pasal 106 ayat 1 sebagai pedomannya, dan Pasal 283 untuk memberikan sanksi kepada mereka yang tak taat aturan.

Hal ini seperti dikatakan pakar hukum pidana dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Suparji Ahmad. Menurut dia, larangan merokok saat berkendara merupakan bagian dari tafsir polisi terhadap undang-undang tersebut, yang mana prinsipnya positif.

"Harapannya, keselamatan para pengendara terus terjaga, karena konsentrasi tidak terganggu kegiatan merokok," kata Suparji.

Pasal 106 Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Kemudian, dalam Pasal 283 disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan, dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Tapi, emang enggak gampang juga. Suparji bilang kalau kesulitan bagi Polri nantinya adalah bagaimana menerapkan pasal-pasal itu. Jadi, harus bisa betul-betul mempertimbangkan aspek keadilan, kepastian dan kemanfaatan.

"Karena, kemampuan pengendara mengendalikan kendaraannya juga penting, jadi bukan soal karena si pengemudi merokok sambil berkendara," tambahnya.

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Bekto Suprapto menilai, aturan yang& menganjurkan pengendara berkonsentrasi ketika berada di balik setir/setang, adalah amanat undang-undang. Bukan hanya kemauan petugas Polri saja.

"Nah, apakah merokok saat berkendara dapat mengganggu konsentrasi, itu masih bisa diperdebatkan," kata Bekto.

Bagaimana sebaiknya tafsir Polri atas UU LLAJ, menurut dia, biar menjadi kewenangan pihak kepolisian saja. Karena, memang muncul beragam tanggapan dari masyarakat pascapernyataan dari Polda Metro Jaya, kemarin.

"Artinya, dapat ditanyakan kepada polisi apa dasar hukum kalau polisi melarang seseorang merokok sambil berkendara," imbuhnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya melalui Kasubdit Pembinaan dan Penegakan Hukum (Bin Gakkum)Ajun Komisaris Besar (AKBP) Budiyanto, memang menyampaikan ke publik soal larangan merokok dan mendengarkan musik saat berkendara.

"Kegiatan merokok dan mendengarkan musik/radio masuk dalam kategori yang mengganggu konsentrasi saat mengemudi," kata Budiyanto.

Kegiatan tersebut dianggap melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Hal itu tercantum di Pasal 106 Ayat 1 juncto Pasal 283.

Namun, pernyataan Budiyanto itu buru-buru diluruskan oleh Mabes Polri. Imbauan soal berkendara sambil merokok dan mendengarkan musik itu disebutnya belum jadi keputusan resmi.

"Dari informasi di lapangan masih simpang siur ya, antara boleh dan tidak merokok dengan mendengarkan musik (bagi pengendara)," ujar Karo Multimedia Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto kepada wartawan, belum lama ini.

Ia menjelaskan, aturan itu sampai hari ini masih dalam tahap kajian. Terutama, terkait dengan seberapa besar pengaruh merokok dan mendengarkan musik/radio bisa membuyarkan konsentrasi pengendara dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

"Ini masih dikaji terus, karena perlu ada pendalaman dan penelitian sejauh mana dampaknya terhadap masalah kecelakaan lalu lintas," jelasnya.

Meski begitu, Rikwanto mengakui, pihak kepolisian memang tengah menyoroti kebiasaan merokok dan mendengarkan musik/radio sambil berkendara.

"Tentunya ada kajian dari banyaknya kasus-kasus dan lain-lain. Tapi, ini masih merupakan pendalaman saja," tandasnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari