Mereka Para Penantang 'Incumbent'
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
PDI PERJUANGAN resmi mendukung Joko Widodo (Jokowi) untuk maju dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sementara itu, nama Prabowo Subianto dari Gerindra digadang-gadang sebagai calon terkuat penantang sang incumbent. Yakin kah ia siap berlaga?

Kemarin, pada 1 Maret 2018, Prabowo bilang kalau dirinya menyerahkan pencalonan ini kepada partai serta koalisinya. Ia belum memutuskan sikap resmi. Tapi, kalau melihat dorongan Gerindra, kemungkinan si Bapak mantan Danjen Kopassus era Soeharto ini, bakal nyapres.

"Saya katakan, saya kan mandataris partai. Saya akan mendengarkan suara partai, suara sahabat saya," kata Prabowo Subianto.

Memastikan itu, Gerindra berkali-kali udah menyatakan bahwa partainya akan mengusung kembali bekas rival Jokowi tersebut. Kalau kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, munculnya nama Prabowo juga karena desakan grass root (rakyat).

"Kami dari DPP akan berusaha meyakinkan Pak Prabowo. Pertengahan atau akhir Maret ini, kita sudah deklarasikan Prabowo sebagai capres 2019," kata Dasco.

Lucunya, karena Jokowi sudah lebih dulu diusung PDI Perjuangan, nama Prabowo seolah diredam. Isu yang berembus, petinggi Gerindra ini lebih cocok jadi cawapres. Lain itu, dibilang kalau elektabilitasnya kalah jauh dan enggak bisa lagi dikatrol nyaingin petahana.

Namun, Gerindra sendiri membantah. Menurut Dasco, kabar yang beredar, tidak lebih dari upaya penjegalan agar Prabowo batal maju tahun depan. Ia tetap ngotot, Prabowo lah yang memang pantas "bertarung" nanti.

Berdasarkan hasil survei Poltracking Indonesia, elektabilitas Prabowo hanya berkisar 20-33 persen. Sementara, Jokowi berada di angka 45-57 persen. Namun, gak bisa dipungkiri kalau keduanya ini memang capres terkuat saat ini.

Meski begitu, dukungan suara buat Prabowo kayaknya emang harus lebih kencang, mengingat ada delapan partai politik (parpol) yang berdiri di belakang Jokowi. Sedangkan, kubu seberangnya baru mengantongi PKS, dan mungkin PAN sebagai koalisi.

Ada dua partai yang masih abu-abu, antara lain PKB dan Demokrat. Nyantol ke mana mereka? Sejauh ini, kayaknya masih wait and see. Kasarnya, "jualan" gue dibeli enggak?

Kayak Demokrat yang memunculkan nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Komunikasinya kini mulai berjalan loh ke PDI Perjuangan. Lalu, PKB yang pasang baliho Cak Imin (Muhaimin Iskandar) Cawapres 2019, gelagat keras yang harus dilirik.

Sementara, PAN malah berharap adanya calon alternatif. Arahnya, mereka pengen bikin koalisi sendiri. Di luar parpol-parpol yang sudah menanam dukungan ke Jokowi, atau Prabowo.

"PAN mengajak partai yang belum menentukan capres untuk duduk bersama merumuskan lagi calon pemimpin alternatif," Wasekjen PAN, Saleh Partaonan Daulay.

Saleh sih yakin, ada banyak tokoh yang punya potensi untuk didorong menjadi penantang dua kandidat jagoan ini. Karena, saat ini lagi musimnya ngeggarap figur alternatif.

Lihat lah Pilgub DKI Jakarta selama dua periode kemarin. Di mana Foke (Fauzi Bowo) kalah sama Jokowi, terus Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) tumbang sama Anies Baswedan. Tapi, apakah lagak-lagak begini akan efektif di pilpres? Bisa saja.

Karena, pengamat politik dari Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio menilai, Prabowo justru akan lebih sukses bila mendorong tokoh lain, menggantikannya sebagai capres. Karena, elektabilitas Prabowo sejauh ini cukup stagnan, gak naik-naik.

"Lebih sukses jadi king maker dia (Prabowo)," ungkap Hendri.

Pilihan lain misalnya, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai capresnya. Lalu, posisi wakil bisa narik mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD atau Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Sama juga pendapatnya dengan Manajer Lembaga Survei Charta Politika, Muslimin yang memungkinkan kemenangan poros Prabowo. Asalkan, koalisi tersebut berani mengusung calon alternatif.

"Walaupun, masih mungkin (Prabowo) bisa menang, mungkin saja. Cuma, saya kira kalau masih Pak Prabowo agak berat mengalahkan Jokowi hari ini," ujar Muslimin.

Anies misalnya, bisa saja dia jadi rising star di pilpres nanti. Soalnya, popularitas dia kian melejit. Terlebih, posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta, kerap jadi sorotan media. Jadi, tinggal bagaimana doi (Anies) bisa kasih lihat kinerjanya sekarang, sehingga layak tandingi Jokowi.

Kalau benar Pak Prabowo legowo enggak maju lagi di Pilpres 2019, kemungkinannya akan bisa lebih dinamis, karena terbentuk tiga poros yang masing-masing mengutus kandidatnya. Misal, Demokrat bersama PKB munculkan nama calon lain sebagai alternatif.

"Ada sosok AHY atau Gatot Nurmantyo yang bisa jadi pilihan Demokrat bersama parpol koalisi," kata dia.

Masalahnya, kalau Prabowo yang tetap maju. Ada kemungkinan, Demokrat malah melipir ke PDI Perjuangan. Tahu sendiri kan gosip-gosip di "belakang layar", soal rencana cawapres Jokowi adalah AHY. Bu Mega (Megawati Soekarnoputri) sendiri kelihatannya mulai "cair".

"Bu Megawati kabarnya mengutus orang untuk berkomunikasi dengan AHY. Artinya, jalinan komunikasi itu berupaya dilakukan," ungkapnya.

Ketua DPP Partai Demokrat, Didik Mukriyanto, mengiakan adanya komunikasi politik antara AHY dengan pihak Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, enggak menutup kemungkinan kalau perbincangan tersebut mengarah ke agenda 2019.

Apalagi, dalam logika politik dan hukumnya, tidak ada satupun parpol yang bisa berjalan sendiri tanpa berkoalisi. 

Ibaratnya, Jokowi dan PDI Perjuangan, sementara ini, udah di atas angin. Bagaimana kabar Prabowo bersama Gerindra? Di mana kuncian mereka? (bersambung) 

Bagian 1: Jokowi Lagi 'Nyari' Wakil 
Bagian 2: Mereka Para Penantang 'Incumbent' 
Bagian 3: Jakarta Bisa Jadi Harapan Prabowo 
Bagian 4: Kompetisi Daerah Jadi Kunci Pilpres 
Bagian 5: Gagalnya Jokowi Bisa Jadi 'Bumerang'

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari