Merokok di Jalan Harusnya Kena Sanksi
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.
SUDAH kadung benci orang-orang dengan ulah para perokok yang enggak tahu tempat. Kenapa harus sambil berkendara? Masalahnya, bukan soal menyebabkan kecelakaan si pengemudi, tapi sangat mengganggu sekitar, khususnya pengendara lain di belakang mereka.

"Abu rokoknya itu yang terbang, kadang suka kena mata orang," kata Viki, seorang pengguna sepeda motor yang kesehariannya bolak-balik Jakarta - Bekasi, dengan roda dua.

Ternyata, dalam urusan safety riding, merokok sambil berkendara, memang dilarang. Ada tiga pihak yang dirugikan, pertama hilangnya fokus si pengendara. Kedua, mencelakakan pengguna jalan lain, dan ketiga adalah orang-orang di tepian, semisal pejalan kaki.

"Kalau buang putung rokok itu, kadang mereka gak sadar kalau ada orang di sampingnya. Entah lagi duduk, atau lagi jalan, kan bahaya," ujar Adrian, seorang anggota klub motor yang pernah ikut coaching clinic Ducati Owner di Sentul.

Merokok di jalan memang membawa masalah serius. Karena, para pengguna jalan di belakang kendaraan itu, pasti risih. Apalagi, pas ada ampas rokok menyala terbang kebawa angin, pasti orang akan berusaha menghindar. Nah, salah banting kemudi, kan berabe.

Itu dampak kalau ke orang lain. Menurut dia, pengendara di belakang setang juga bisa kena celaka. Sebab, saat merokok, ada kalanya rokok ini (tembakau/cengkehnya) meletup, terkena tangan. Saat refleks bergerak, konsentrasi pasti buyar.

"Anggap saja tidak terjadi apa-apa, tapi berkendara sambil merokok, tetap bisa memecah fokus. Karena, antara mengisap rokok ini harus lepas satu tangan. Bagaimana kalau ada insiden mendadak di depan, lalu harus segera ngerem, kan sulit," tambah Adrian.

Belum lama ini, media sosial juga pernah ramai membincangkan dampak pengendara yang merokok di jalan. Akun Instagram @indozone.id pernah mengunggah gambar korban yang mengalami iritasi mata karena terkena abu rokok menyala.

Adalah Rendhy Moulana, yang tertimpa nasib nahas akibat keteledoran perokok yang lagi bawa motor. Pada Mei 2017 lalu, ia sempat membagikan curhatan lewat akun Facebook. Ia merasa geram karena ulah orang-orang tak tahu toleransi ini, membahayakan dirinya.

"Terimakasih buat pengendara yang hobi ngerokok sambil bawa motor. Bara api lo bikin orang bahaya. Self reminder, mending pake helm full face plus masker sekalian," tulis akun Rendhy Maulana pada 10 Mei lalu.

Sindiran serupa juga pernah dimuat oleh otomercon, portal tersebut mengomentari foto seorang pengendara sepeda motor yang membawa anak di jok depan, sambil mengapit sebatang rokok di tangan. Ditulisnya, bahwa otak para perokok ini sudah rusak.

"Gak sadar kalo mulutnya jadi jauh lebih berpolusi dibanding kendaraanya, benar-benar sesuatu yang memalukan. Itu anaknya kan bisa kena asap rokok langsung, dan anaknya bisa terpapar abu rokoknya," tulis laman blog itu.

Belum lama ini, Polda Metro Jaya sempat mengeluarkan imbauan larangan ngerokok sambil berkendara. Ketentuan itu diunggah dalam akun Instagram resmi @poldametrojaya. Dijabarkan juga aturan serta sanksinya di Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Sayangnya, bukan cuma merokok, ada hal lain yang diikutsertakan dalam aturan tersebut. Yakni, mendengarkan musik atau radio. Sebab, dianggap dapat mengganggu konsentrasi dalam mengemudi. Nah, kalau rokok, boleh lah. Lain hal mendengarkan musik/radio.

Pro dan kontra aturan ini membuat kepolisian malah gerah sendiri. Kepala Korlantas Polri, Irjen Pol Royke Lumowa, langsung membantahnya. Seperti dilansir Tirto, ia mengatakan, tidak benar ada aturan tersebut dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ.

"Itu tidak benar (pengendara yang merokok dan mendengar musik bisa dipidana)," ujar dia.

Menurut dia, tidak ada yang dilanggar oleh pengendara jika kedapatan merokok atau mendengar musik di jalan. "Memangnya ini melanggar?" tambah dia yang malah melempar pertanyaan balik ke wartawan. Sayangnya, untuk masalah rokok, Polri tak lebih dulu dengarkan aspirasi publik.

Pihak kepolisian terlalu buru-buru menarik aturan itu. Padahal, mayoritas pengguna jalan sangat setuju bila ada sanksi terhadap pengendara yang hobi merokok sembarangan. Andai saja mereka mau kaji dulu baiknya.

Cuma, perlu kah regulasi ini diterapkan? (bersambung)

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top FOKUS

Terkini

Dapatkan berita terkini setiap hari